Empunya Permisi

permisi, permisi
terimalah itikad baikku ini
aku hanya ingin mengingatkan dan menegur
siapa saja yang kurang pantas bertutur dan bertingkah
ditujukan secara khusus kepada teteh-teteh jelita, ibu-ibu muda, dan adik-adik gemas
tentunya aku sebagai lelaki punya andil otoriter
terutama dalam milleu partriarki ini
tentunya aku selalu benar 
namun akupun tak kan lepas dari cara
manis nan persuasif, sayang

permisi, permisi
aduh! kan sudah aku ingatkan
wanita baiknya berbahasa indonesia saja!
tak usahlah turut campur menjaga
kearifan lokal dengan berbahasa
daerah karena derajatmu akan turun
berbahasalah seperti ajaran Pak Dodi
guru Bahasa Indonesia dikala sekolah menengah
yang hanya memberi nilai 9 pada siswi
yang mengenakan rok di atas lutut

permisi, permisi
bagaimana kopi sore ini?
tak baik anak gadis minum kopi hitam,
baiknya kalian minum the herbal
dengan kopi degup jantung kalian gadis-gadis cantik ini
akan berpacu kencang dan memaksa kalian
untuk berpikir berat seperti prihal rasisme
dan tenggang rasa antar agama
atau isu ketubuhan, feminitas, gender ketiga
bahkan dikait-kaitkan dengan hak asasi manusia
perbanyaklah makan yang manis-manis saja seperti red velvet
atau macaroon
agar nyaman memilih topik bercengkrama
mendiskusikan teman-teman yang kurang adatnya

permisi, permisi
kalian tidak sadar malam berganti pagi? mengapa belum juga
beranjak pulang!
datang kemari sendirian dengan dalih mengisi kehidupan yang berbudaya
memangnya kalian mengerti buku yang tengah diterbitkan dan lukisan
yang dipamerkan juga musik-musik berisik yang ditabuh,
digonjreng, dan diputar kencang di klab malam?
semuanya hasil buah pikiran lelaki autokrat
lagipula pasti ada yang salah dari diri wanita
yang duduk sendiri di tempat ramai

permisi, permisi
jangan minum bir hitam! terlalu maskulin untukmu
minumlah bir pletok karena manis yang mengandung sedikit
campuran tonikum dari bartender iseng
haram hukumnya pulang sendiri,
setidaknya minta bantuan teman untuk antar pulang
banyak teman baru pria flamboyan yang bersedia mengantar
dinda naik mobil berpintu dua dini hari
agar bangun esok pagi tidak sepi sendiri

permisi, permisi
kamu kira kamu tidak cukup manja untuk merasakan sibuknya berkarir?
tak usah repot-repot dipikirkan karena aku sudah jadi bos
padahal aku baru sarjana seminggu lalu, tentunya
karena ayahku percaya padaku
uangku banyak akan kubelikan sepatu Jimmy Choo favoritmu
dan kau akan minta lebih dan lebih
namun aku tak pamrih
sepuluh tahun lagi aku menggadaikan kunci dan yang penting
kebutuhan gengsi terpenuhi

permisi, permisi
jauh-jauh memikirkan nasib dikemudian hari
santai saja! Pikirkanlah nasib hari ini
rezeki ada saja jalannya, baiknya menggunakan jalan tikus
lebih cepat sampai dan anak-anak kita kelak tak akan mengerti
hanya akan menanggung malu
ketika kita sudah mati
dan hidup mereka akan baik-baik saja
karena mereka getir
betapa idealnya hidup senang sebagai orang tua hari ini
karena yang memetik moral adalah anak-anak kita yang dipaksa keadaan
yah, kalau mereka salah presepsi setidaknya mereka mengikuti
gaya hidup kita yang sempurna bagi mata dogma

eh ini permisi loh
aku hanya mengingatkan saja
seandainya kurang sreg ya aku cari saja yang lain
ingat, niatanku baik
karena aku mengerti
tak ada lelaki yang ingin inferior
di depanmu
permisi ya
permisi

cc: @karinasokowati

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.