Dari Pramoedya Ananta Toer, Aku Mengenal Victor Hugo dan Les Miserables

Sampul Buku Les Miserables

Pada mulanya saya tidak pernah mengetahui Victor Hugo, sastrawan Perancis abad 18, sebelum membaca roman tetralogi karya Pramoedya A.T. Lebih tepatnya, dalam Bumi Manusia. Dalam roman Bumi Manusia tersebut ada satu momen dimana Nyai Ontosoroh menyebutkan sastrawan Pernacis tersebut. Tokoh Nyai Ontosoroh dalam roman tersebut bisa dibilang perempuan yang pintar dan langkah dimasa-masa belanda masih menjajah Indonesia. Dari situ saya penasaran dengan Victor Hugo. Kemudian saya berpikir, pasti Bung Pram pernah membaca karya-karya Victor Hugo. Pemikiranku itu setidaknya yang memotivasi untuk mencari karya-karya Victor Hugo, salah satunya adalah Les Miserables

Apa yang dapat kita ketahui tentang kemiskinan? Sudah jelas, kemiskinan pastiberhubungan dengan kemelaratan, kegelapan, keputus-asaan. Negara bisa jadi miskin meski memiliki uang yang lumayan banyak jika ditelaah dari perspektif mikro manusia. Tetapi, jika dilihat dari skala makro, contohnya Indonesia, Negara kita masih lebih miskin daripada Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Kemisikinan telah menjadi turunan.Mungkin bisa saya bilang, kemiskinan itu, adalah takdir dari Sang Maha Kuasa. Entah sejarah kemiskinan berasal dari mana, tetapihampir dua abad yang lalu, Victor Hugo berhasil mengabadikan potret buram kemiskinan –di Paris, Perancis- melalui novel yang popular abad itu, “Les Miserables” atau Kemiskinan.

Melalui Jean Valjean, tokoh utama, seorang narapidana yang akhirnya menemukan jalan-Nya, kita bisa melihat lika-liku kehidupan kemiskinan yang ada zaman prarevolusi Perancis tersebut. Kehidupan Jean Valjean yang begitu miskin dan melihat keluarganya yang lapar, membuatnya mengambil keputusan untuk memecahkan kaca took roti dan mencuri roti didalam took tersebut.

Alhasil, dengan hokum Perancis yang saat itu dirasakan adil- bagi para penegak hokum itu- Jean Valjean dimasukkan kedalam Kapal Penjara. Di kapal, yang juga menjadi penjara itu, dia dikurung selama 19 tahun karena ketidakadilan.

Disini bisa kita ambil kesimpulan bahwa hukum yang seharusnya berbuat adil, membuat masyarakatnya terasingkan, disingkirkan dari peradaban manusia, dikurung dipaksa bekerja di Kapal, hanya karena mencuri sepotong roti.

Sedangkan dibelahan dunia yang lain, para raja lalim sedang memangku kakinya. Hukuman membuat Jean Valjean seakan-akan dibuang dari kehidupannya. Tragis dan Ironis.

Siapa yang harus disalahkan ?

Setelah bebas, kebijakan yang diterapkan saat itu juga menghegemoni masyarakat disana. Kebijakan mempengaruhi perilaku masyarakat. Tidak ada yang bisa dikatakan “konservatisme”. Alih-Alih percaya kepada otoritas agama dengan garansi keberkahan untuk seluruh umat, masyarakat dominan berperilaku seperti orang yang tidak beragama.

Les Miserables sejatinya tidak hanya berbicara tentang kemiskinan, Novel-yang berhasil diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan dijual ke seluruh pelosok negeri — ini sejatinya berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan.


Originally published at www.sokkritis.com.