pontem illusio
Tumpukan buku-buku fiksi dan analisa itu tak lebih dari hasil curianmu pada dunia yang baru saja kau anggap — semenjak dia ada. Tiga semester yang kau habiskan menganalisa padang fatamorgana jika kau melihatnya.
“Apa yang kau cari sebenarnya tak betul-betul ada? Atau memang sudah ada di depan matamu.”
Kemeja flannel yang kubeli rasanya ingin kubakar dengan rokok aktifmu — dasar mulut hitam. Aku tahu rasanya ingin meninggalkan tapi tak ingin ditinggalkan. Rasanya ingin menusuk tapi tak ingin ditusuk. Rasa yang kau tanamkan sejak pertama kita bertegur sapa.
Jika kubiarkan kau meminjam buku, tanganmu yang penuh akan gelang itu takkan kulepas. Metafor yang kutumpah-ruahkan tak ada maknanya, cukup kembalikan saja kesadaran dan ingatanku, jika setidaknya esok aku bangun dari limpahan kain yang menutupi badanku, kuingin teringat dirimu dan kumau dengan bebasnya melupakannya.
Makassar, 17 Januari 2017
