pontem illusio

Muhammad Iqbal
Jan 18, 2017 · 1 min read

Tumpukan buku-buku fiksi dan analisa itu tak lebih dari hasil curianmu pada dunia yang baru saja kau anggap — semenjak dia ada. Tiga semester yang kau habiskan menganalisa padang fatamorgana jika kau melihatnya.

“Apa yang kau cari sebenarnya tak betul-betul ada? Atau memang sudah ada di depan matamu.”

Kemeja flannel yang kubeli rasanya ingin kubakar dengan rokok aktifmu — dasar mulut hitam. Aku tahu rasanya ingin meninggalkan tapi tak ingin ditinggalkan. Rasanya ingin menusuk tapi tak ingin ditusuk. Rasa yang kau tanamkan sejak pertama kita bertegur sapa.

Jika kubiarkan kau meminjam buku, tanganmu yang penuh akan gelang itu takkan kulepas. Metafor yang kutumpah-ruahkan tak ada maknanya, cukup kembalikan saja kesadaran dan ingatanku, jika setidaknya esok aku bangun dari limpahan kain yang menutupi badanku, kuingin teringat dirimu dan kumau dengan bebasnya melupakannya.

Makassar, 17 Januari 2017

    Muhammad Iqbal

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade