Tomar Re

Sebuah malam telah begitu larut memutuskan untuk tidur dari penjagaannya, tak peduli pada apapun yang menunggunya di saban pagi nanti, tidak si dia, tidak juga kau. Dari apapun yang kukenal, dia dan kau bisa saja wujud dari rumus matriks yang kuingat tempo hari itu namun begitu mudahnya kulupakan. Kau ingin aku bermain sebab akibat, reaksinya tak lebih dari dataran rendah.

Tabib yang kau percaya telah meminum racunnya sendiri. Sebab dari paham fana dari Dewa Olympus yang turun ke Bumi. Mendonorkan air maninya dengan cuma-cuma. Ingin kusileti tiap adegan itu sedikit demi sedikit, agar kau bisa rasakan sakitnya, ku ingin lakukan perlahan, agar bisa didengar jeritannya.

Bias mata merah di gambar tak bergerak kala itu kau sirami dengan air keras dan batuk jiwa yang senantiasa berdansa bersama rangka fosil yang ditemukan baru kemarin, atau sewindu yang lalu, atau kapan saja, kapan-kapan saja, aku tak peduli kapanpun, karena kau tak ingin bergerak dari peristirahatanmu.

Bocah-bocah berlari hindarkan kulitnya dari teriakan ibunya yang memanggil untuk suapan gizi, sesalan peristiwa itu akan datang dalam beberapa rotasi bumi kemudian, jika saja pelajaran angka dan hitungan pagi itu kujawab dengan pembawaan yang lebih baik, kapan-kapan saja, kapanpun, aku tak peduli kapanpun.

Benarkah? Kapan terakhir kita bersandiriwara akan mencari kebenaran? Bukankah tiap hari kita ludahi kebenaran itu dengan dengungan musik telah diputar di radio berpuluh kali dalam sehari. Wabah itu ada, kau anggap tidak ada, pengunjungmu kau bohongi, sejak kapan? Kapan-kapan saja, kapanpun, aku tak peduli kapanpun.

Makassar, 29 Januari 2017 3:57 AM

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.