untitled

“kau mengenalnya, sudah berapa lama?”

“2 tahun mungkin, untuk melihat dia. Dan hampir 4 tahun tidak melihat dia sama sekali”

“dia mengenalmu?”

“mungkin, aku pernah berbicara padanya secara maya. mungkin setidaknya dia tahu aku ada”

“kau benar mengenalnya? kau kan hanya memperhatikan dia saja”

“aku mengenal dia lewat cahaya dan suara, teman. aku mencari tahu tentang dia setiap hari, aku tahu tingkah lakunya, aku mengenalinya dari kejauhan.”

“tapi, bukankah itu hanya sekedar pengamatanmu, kau hanya melihat dia, kau tidak mengenal dia, dan dia tidak mengenalmu.”

“tidak butuh aku harus dekat dengan dia untuk mengenalnya kan? sudah kukatakan angin dan suara memberikabar tentangnya padaku setiap hari”

“aku masih menganggap kau hanya mengada-ada soal mengenalnya”

“teman, mengenal seseorang berujung pada persepsi kita sendiri. cahaya dan suara jelas memberitahuku mengenai kejujuran tentang dirinya. aku mencerna semuanya berdasarkan persepsi yang kuingini, aku mengenalnya karena aku, cahaya dan suara ada.”

“kau hanya bertele-tele. kau jelas tidak pernah berbicara dengannya, kau hanya mengamati dia, lalu menyimpulkan.”

“tapi teman, itulah yang kita lakukan setiap saat, berbicara ataupun tidak, semua akan memberikan persepsi mereka sendiri tentang dia. aku merasa mengenalnya karena waktu yang kucurahkan bersama cahaya dan suara, mengolah kejujuran dan persepsi yang kumiliki menjadi sebuah pengenalanku akan dia. aku mengenalnya teman, sederhana, karena aku berusaha”

“apa yang kau tahu tentang dia? bagaimana kau bisa setahu itu?”

“persepsi seseorang berasal dari sesuatu yang telah mereka alami. aku, juga memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan dia, dia bahkan lebih baik dariku. menurutku dia dewasa, tapi orang lain tidak melihat itu dari dia.”

“kamu lucu teman, itu semua cuma persepsimu”

“sudah berapa kali kubilang, mengenal berarti mengolah persepsi. persepsi bisa saja sama dengan yang lain, tapi aku percaya, milikku sama dengannya.”

“2 tahun mengenalnya, dan kamu kembali melihatnya setelah 4 tahun tidak melihatnya, bagaimana? apakah kamu masih mau mengatakan kamu mengenalnya dengan baik?”

“baik? aku tidak percaya kata-kata itu. abu-abu, teman, baik itu relatif. tapi dapat kukatakan persepsiku tentang dia benar. dia berkembang, dia lebih dewasa, dia adalah dia yang kukenal dulu, hanya saja sudah melebihi yang dulu. dia berhasil teman, aku iri. dia melampaui dia.”

“kamu iri teman? padahal hanya beberapa menit kamu melihatnya”

“ya, tapi cahaya dan suara membantuku, darisitulah aku tahu.”

“dan, kamu masih mencintainya? atau, benarkah kamu dulu mencintainya? ah aku tak tahu apa yang harus kukatakan, mungkin 3 kata ini, bagaimana, kamu, dia?”

“aku, aku lupa. aku lupa cinta itu apa. aku tidak bisa membedakan nafsu dan cinta, aku juga tidak bisa membedakannya dengan hasrat. aku dulu berangan-angan bisa bersama dengan dia. aku perempuan dan dia laki-laki. dia seperti laki-laki imajinasi yang selalu kuciptakan untuk bersamaku di masa depan.

“aku lupa cinta itu apa. tapi kadang perutku tergelitik melihat dia, kadang dadaku berdebar saat tahu ada dia, tapi kemudian kosong, hampa. kemudian dia pergi, aku mulai merindukannya. tapi yang jelas, aku senang bisa tetap membayangkan dia sebagai sebuah sosok imajinasi. aku bingung teman, aku juga merindukan merasakan cinta. aku terlalu banyak dikuasai nafsu”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.