Biar Kita (Hadapi) Saja
Jadi dewasa itu, berat ya. Raga yang menua, tidak seiring dengan hati dan jiwa yang bawaannya masih pengen main-main aja. Dewasa memang bukan tentang usia, tapi toh bukan berarti bisa menafikkan realita.
Kumpul-kumpul bareng teman makin susah. Sosmed dan seisinya banyak berisi racun nikah, nikah, nikah. Padahal bukan mudah mencari nafkah untuk membangun keluarga sakinah, ma waddah, wa rahmah.
Mengeluh, tidak ingin, mengeluh. Begitu terus saling berganti, seiring peluh meluruh. Padahal bersyukur lebih baik, atas segala nikmat-Nya yang utuh. Meski iman, kadang keluar-masuk dari tubuh.
Hari berganti hari, detik berganti detik. Dewasa berarti harus semakin mawas diri, akan setiap peristiwa yang menggelitik. Kadang realita setajam duri, kadang selembut pasir berbisik.
Jadi dewasa itu, berat ya. Biar kita (hadapi) saja.

