OH RAMADHANKU

Renungan dari mahasiswa yang terlalu ‘sibuk’

Memasuki tahun kedua menjadi mahasiswa, tentunya sudah banyak perubahan terjadi dalam diri. Termasuk dalam hal beribadah. Tuntutan kegiatan di kampus yang banyak menyita waktuku praktis membuat alokasi waktu beribadah menyempit. Khususnya Ramadhan kali ini, aku merasa tidak mendapat Ramadhan Better. Astaghfirullahal’azhiim.

Entah apapun kepercayaannya, sudah sepatutnya seseorang yang beragama dapat menjalankan kehidupan sesuai tuntunan dan ajaran agamanya dengan sebaik — baiknya. Sebagai muslim, kami memiliki rukun islam yang lima. Syahadat, sholat, zakat, puasa, dan berhaji jika mampu. Kami tahu, jika kami melakukan segala perintah-Nya akan mendapat pahala dan jika kami meninggalkannya, kami berdosa.

Puasa, sebagai salah satu unsur keislaman seseorang, berarti menahan lapar, haus, dan segala hawa nafsu sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari (pendefinisian bebas oleh penulis). Setiap muslim berkewajiban untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan setiap tahunnya. Hanya dalam satu bulan dari 12 bulan setahun tersebut, Allah SWT ‘mengobral’ pahala dan berbagai keutaman lainnya untuk hamba-hambaNya yang beribadah dengan sungguh-sungguh. Bahkan, hanya dengan merasa gembira menyambut bulan yang mulia ini seorang muslim dapat memperoleh pahala di sisiNya. Masya Allah.

20 hari sudah aku lewati Ramadhan yang agung ini. Astaghfirullahal’azhiim, hanya tinggal sepuluh hari lagi menuju kepergiannya. Rasanya belum banyak amal yang kutabung pada Ramadhan tahun ini. Ya Allah, kegiatan-kegiatan kaderisasi yang menyita waktu tersebut telah banyak melalaikanku. Ampuni aku Ya Allah, bukan mauku melewatkan Ramadhan tanpa banyak ibadah kepadamu. Bukan mauku pula untuk sering berbuka di jalan sepulangnya aku dari kampus dan melewatkan waktu berbuka yang berharga bersama keluarga di rumah. Dan bukan mauku pula untuk tidak banyak membantu ibuku memasak sajian sahur dan berbuka puasa. Rasa lelah dan penat karena kegiatan di kampus kerap kali melenakanku saat sekalinya aku dapat berleyeh-leyeh di rumah. Tidak, tidak seharusnya aku menganggap wajar perbuatanku itu! Sungguh aku sangat menyesal Ya Allah…

Tahun depan usiaku memasuki kepala dua. Aku bahkan belum sepenuhnya yakin tentang sudah seberapa dewasa aku saat ini. Seharusnya aku tahu dan paham betul tentang keistimewaan Ramadhan ini. Seharusnya aku dapat lebih memilah milih kegiatan mana yang akan diikuti. Mana yang lebih banyak manfaat dan mudharatnya. Bukan sekedar mengejar absen, atau sekedar ingin bercengkerama dengan teman — teman. Jika aku sadar, orangtua dan adik-adikulah yang lebih banyak membutuhkanku di rumah sebagai anak yang berbakti, juga sebagai kakak yang penyayang.

Bismillah, di sepuluh ketiga Ramadhan ini aku gak boleh kecolongan lagi. Tak boleh menyesal lagi. Lebaran bukanlah tujuan. Menjadi orang yang bertakwa dan mendapat rahmatNya-lah yang harus menjadi motivasi utama. Motivasi untuk menjadi orang yang lebih baik selepas sekolah Ramadhan ini.

Semoga Allah SWT senantiasa bersamaku dan menjagaku dalam rahmat dan ridhaNya, selalu. Aaamiiin

Ramadhan, Ramadhan
Ramadhan di hati
 Ramadhan, Ramadhan
 Ku mohon usah pergi
Ramadhan — Maher Zain
Like what you read? Give Nabila Nurul Maghfirah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.