SEPULUH TIGA

Mengingat weekend yang semakin fana

Minggu terakhir Ramadhan lalu

Berjalanku satu kilo dari rumah

Latihan kaki, katanya

Hendak memuncak, tadinya

Lupakan sejenak tentang memuncak

Berjalanku satu kilo dari rumah

Menuju tempat peraduan nasib orang orang

Yang berdagang menjelang lebaran

Dor!

Pasar kaget disebutnya

Dor!

Tumpah ruah manusia hari itu

Entah apa hendak dicari, dibeli

Makanan, baju raya, atau sekedar mencuci mata?

Puasa, puasa berdahaga

Tidak surut asa para manusia

Bersenggolan sudah biasa

Berhadapan dengan entah siapa, tidak mengapa

Semua demi hari raya besok lusa

Sepuluh tiga, sepuluh tiga

Pita suara bagai terlatih di sanggar ternama

Hanya tuk sekedar mengundang lirikan

Para manusia yang lalu lalang

AC dan kipas angin bukan tempatnya

Tangga berjalan, SPG cantik, bukan juga

Hanya sepuluh tiga sepuluh tiga

Pasar kaget tempat pedagang bersilih suara

Tidak laiknya mall, pertokoan berdigdaya

Puisi kecil tentang sebuah fenomena

Pasar kaget di Margahayu Raya

Tiap Minggu, pasar terbuka bagi semua

Semua warga, tanpa pandang SARA

Sempatkanlah sekali — kali tuk datang, kawan

Bukan hanya untuk berbelanja

Karena toh memang bukan levelnya?

Rasakan, rasakan suasananya

Suasana berbeda, 100% rasa Indonesia

Miskin kaya

Sederhana atau bergaya

Jadilah saksi mata

Tentang tempat yang menjadi sumber rezeki

Sebagian saudara

Cerita usang,

Nanem.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nabila Nurul Maghfirah’s story.