Beberapa Pemikiran Tentang Poskolonialisme

Awalnya saya berniat membuat sebuh rumusan feminisme dalam budaya Indonesia. Terlalu jauh dan komplikasi pikiran saya untuk menjelaskan dari definisi apalagi bagaimana jalannya sejarah Indonesia. Jadi, tulisan ini hanya corat-coret saya semata, saya gak pakai refrensi cuma berusaha menungkan isi pikiran yang semerawut aja dalam usaha saya membangun diskursus soal gender dan seksualitas dalam kerangka feminisme dengan pola pikir sejarawan.

Saya tidak akan membahas apa itu pos kolonial dan cara berpikir diakronik. Saya juga memandang gender role sebagai produk kebudayaan dari negara yang diadopsi dari berbagai kebudayaan sebelum pembentukan negara. Negara, bagaimanapun adalah sebuah kunci, kuasa untuk presepsi dan perkembangan diskursus soal pengetahuan dan tata prilaku sosial. Memahami feminisme yang berpijak pada perempuan-perempuan yang mengalami tidak bisa pisah dari mengidentifikasi terlebih dahulu bentuk kekuasaan secara sejarah, geografis dan budaya. Jika tidak kita cuma copy paste, tetap terputus dari sejarah dan gagal memahami masalah-masalah. Gini, kalau kita bilang masalah Indonesia adalah homophobia kenapa yang kita teliti justru LGBTnya dan bukan homophobia. Jika tidak mengidentifikasi masalah, bagaimana menyelesaikannya kan?

Marilah saya mulai coret-coretnya

Pertama, saya pikir kolonialime sebagai sebuah faktor penting dalam bangsa Indonesia membentuk presepsinya tentang identitas. Kita tidak bisa melempar begitu saja faktor satu ini karena keengganan beberapa orang, khususnya pejabat publik untuk dikaitkan dengan budaya yang keBarat-Baratan harus ditelaah sejarah. Kolonialisme bagaimanapun menyisakan kenangan tentang cara pikir ‘musuh-bukan musuh’, sikap antipati pada Barat, dan energi untuk memunculkan simbol-simbol Islam/Arab yang dianggap lawan dari Barat, dan membentuk sebuah identitas yang masih gamang hingga saat ini

Kedua, kegamangan identitas itu memaksa untuk ‘mencari’ namun alih-alih menggali, menemukan perbedaan dan memaknainya lebih mudah daripada harus menggali kebudayaan lampau yang maknanya terputus. Mengadopsi makna hari ini pada simbol yang tersedia, misal: artefak lingga di candi akan ditafsirkan sebagai hal yang porno dan harus dihancurkan/tutup. Memberi alasan selanjutnya mengapa menjadi ‘modern’ adalah hal yang perlu, agar kita tidak mengulang masa lalu yang primitif. Kita enggak mencari tahu mengapa lingga-yoni ada di sana dan apa maknanya. Yang terpenting adalah presepsi masyarakat hari ini, bagaimana mereka melihat masa depannya karena begitulah mereka berharap dan juga memaknai artefak yang tanpa makna ) kemudian mengisinya dengan makna yang ada hari ini, lalu melekatkan baik-buruk setelahnya). Lebih mudah menilai bahwa jilbab sebuah hal yang baik dan harus dilestarikan daripada mencaritau mengapa saya hari ini menggunakan jilbab

ketiga, individualisme dan egoisme. Ketika negara berdiri, dan berhasil bertahan lebih dari 50 tahun, pengalaman baru sebagai warga negara terbentuk. Tentu saja, pengalaman itu meliputi ‘order’ dari penguasa, ketika saya dilahirkan dari keluarga menengah atas dan sebagai perempuan maka nilai-moral yang ditanamkan oleh negara (yang juga sebenarnya diadopsi dari simbol-budaya lokal yang terputus tadi) ditanamkan oleh orang tua saya. Ketika alat kelamin saya mereka maknai sebagai signifier dan mereka menentukan jalan hidup saya dan juga sebagai penjaga agar order tersebut terus lestari dan struktur tidak terganggu.

Keempat, keantian terhadap kolonialisme dan pembentukan diri yang masih belum ditemukan ini terwujud dalam bahasa. Inggris, walaupun menjadi bahasa internasional teta sulit diadopsi oleh bangsa Indonesia. Mengapa? karena bahasa inggris tidak bersama mereka ketika mereka melakkan perjuangan melawan kolonialisme. Bahasa Arab (yang tertuang dalam huruf Jawi dan Pegon) menjadi lebih diterima untuk komunikasi dan bagaimana etnis melayu menjadi kunci pesisir dan penyebar ‘kebudayan’ Melayu. Bahasa inggris lebih akrab pada kebuadyaan Barat yang menjadi lawan. Agak sulit abgaimana kita menolak bahasa inggris sedangkan hampir seluruh pengetahuan kita hari ini bersifat Barat-sentris mulai dari kita memaknai feminisme, mekanai sejarah, memaknai sosiologi, memaknai filsafat, bahkan bagaimana kita menulis dan membca menggunakan huruf latin. Kepungan pengetahuan dan kebudayaan Barat ini juga menjadi sebuah ketakutan, bahwa bangsa “merdeka” ini sesungguhnya tidak pernah merdeka dan menemukan identitasnya sendiri. Ditambah serangan budaya populer.

Kelima, bagaimana merumuskan sebuah identitas dan mewujudkan keadilan? Apa yang harus didahulukan? membangun identitas yang butuh waktu panjang, akhirnya diadopsilah jalan singkat, instan bahkan dengan menggunakan lawan untuk membentuk makna. Kita sulit menjawab apa itu Indonesia tapi kita lebih mudah mengelompokan mana yang bukan Indonesia. Ini yang membuat keadilan makin tersisih, karena keadilan sendiri masih dilihat sebagai sesuatu yang dijelaskan dengan pengetahuan barat. Mana ada keadilan pada masa tradisional? pra kolonial? manusia hanya mengetahui takdir dan belum ada kesadaran individualisme. Individu sebagai tubuh baru dipahami setelah, setelah adanya negara, setelah berubahnya pandangan seks sebagi objek dibandingkan dengan insting

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.