Catatan soal Pemahaman Gender dalam Sosio-Kultural

Saat saya presentasi tentang pre-penelitian saya dan partner meneliti, Timo Duile di kajian Asia Tenggara Universitas Bonn. Respon yang diberikan oleh ebebrapa teman membuat saya berpikir tentang paradigma mereka. Mereka berkomentar bagaimana permepuan berubah menjadi monster karena mereka berasosiasi feminim merujuk pada perempuan dengan kasih sayang dan kelembutannya, berimajinasi ibu menjadi sesuatu yang jahat dan monster adalah imajinasi liar dan menakutkan. Bagaimana gender dimaknai adalah hal yang perlu ditelaah juga. Kalau peneliti dari Koln sempat kekeuh bahwa tidak ada ‘gender’ di pedalaman Kalimantan dan menurut saya mungkin kita harus telaah lebih lebih rinci adalah konsep gender dan gender sebagai kata sendiri

Pertama, kata ‘gender’ belum diserap dalam bahasa Indonesia. Donna Haraway menjelaskan bahwa tanpa kata gender dan konsep maka, pembagian kerja dan pembagian peran di masyarakat akan disandarkan pada jenis kelamin. Gender, dianggap penting untuk diadopsi sebagai kata dan konsep untuk menjelaskan fenomena sosial

Sedangkan Butler, menyatakan bahwa gender adalah prefomance dan gw menafsirkan ini gender sebuah identitas. Semua orang yang merujuk Butler akan melihat gender sebagai identitas. Sejauh ini dua identitas gender yang diakui negara: perempuan dan laki-laki dan keduanya diakui berdasarkan jenis kelamin.

Kedua, bagaimana pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan patriarki selalu memakai rujukan Sylvia Walby atau berdasarkan masyarakat Industri. Padahal menurut saya, patriarki di Indonesia tidak bisa dilacak begitu saja dari kemunculan industri karena kita tidak mengalami revolusi industri dan ilmu pengetahuan. Masyarakat kita bagiamana memori masa lalunya adlaah keterikatan mereka dengan alam. Maksudnya adlaah masa kecil dibentuk dari memanjat pohon, melihat sawah, memancing di sungai atau empang. Pengalaman masa kecil, sehari-hari yang harusnya dilekatkan dan dicurigai sebagai pembentuk ide tentang pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan bagaimana kita mempresepsikan jenis kelamin. Industri kita adalah sesuatu yang dipaksakan atas nama pembangunan dan pasar global, ya mereka memberi dampak pada penguatan hirarki gender tapi bagaimana sebenarnya budaya masyarakat membuat presepsi tentang gender itu yang harus ditelaah. Sebaliknya kita harus belajar banyak tentang pola kehidupan masayrakat agraris, pola interaksi dan lagi-lagi harus berhati-hati dengan dikotomi dan intepretasi yang terlalu dini.

Bagaimana karena tidak ada kata ‘gender’ maka sebenarnya tidak ada pembagian identitas berdasarkan jenis kelamin di masyarakat kita. Jenis kelamin lebih digunakan untuk aktivitas reproduksi. Bukti-bukti: penggunaan gelar ‘Ratu’ itu bebas gender. Pada hakikatnya bahasa melayu tidak punya identifikasi gender tidak seperti bahasa prancis atau jerman. Bukan masyarakat kita tidak memiliki konsep tentang gender tok tapi harus ditelaah lagi, bukan gender sebagai pembagian kerja berdasarkan identitas jenis kelamin.

Tapi masyarakat kita punya kebudayaan tentang seksualitas tapi apakah itu berkaitan dengan gender? pembacaan teks-teks kuno dan bukti arkeologis tentang gender bisa melengkapi jawaban ini. Harus berhati-hati karena misalnya konsep feminim-maskulin yang diakui masyarakat jawa/melayu/hindu-buddha dengan konsep feminim Barat kan beda jauh sekali, harus hati-hati dalam penelusuran sejarahnya. Misal: idealisasi feminim-maskulin: konsep tampan dengan badan yang ramping dan konsep cantik dengan kemampuan manajemen sumber daya cuma dimiliki Asia Tenggara.

Menganalisis gender harus berbasis sosio-kultural dan presepsi masyarakat sendiri tentang gender. Jika memang tidak ada gender sebagai identitas maka tidak ada binaritas dalam identitas gender Asia Tenggara, yang ada hanya gender sebagai pembagian kerja. Untuk itu, gender diversity menjadi mungkin dengan syarat, analisis didasari dari presepsi masyarakat tentang gender itu sendiri.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.