Catatan tentang Representasi Sosial

Saya baru membaca buku Dadi Wong Wadon karya Risa Permanadeli dan saya amat terkesima dengan teori Representasi Sosial. Saya berpikir untuk mengadopsinya karena merasa cocok dan sesuai untuk membuat kerangka dalam pikiran saya tentang budaya dan sejarah yang seringkali tercerai berai dan tidak terkoneksi. Sebelumnya saya mencoba membaca analisis etnografi, antropologi, sosiologi atau kembali ke sejarah tapi mereka Representasi Sosial seperti memadukan semuanya. Dengan pemaparan teknis yang jelas saya mampu melihat teori ini untuk analisis tanpa melupakan (1). Pandangan orang dalam tentang budayanya (secara teknis sebenarnya dilematis karena menjadi ada sekaligus tidak ada atau kata Ibu Risa ana tan ana) melalui metode penjangkaran (2) Melihat pengaruh politik-ekonomi global pada budaya lokal terakhir (3). Menggunakan bahasa sebagai atribut analisis.

Selanjutnya saya akan menjabarkan lebih lengkap mengapa saya menyukai dan memilih representasi sosial sebagai alat untuk menciptakan pengetahuan dari saya. Pertama, teori ini buat ukuran saya cukup mutakhir karena memadukan analisis pos kolonial untuk hidup sehari-hari dan tentu saja memasukan politik, budaya dan struktur sosial sebagai variabel untuk menjelaskan fenomena sosial. Analisis pos kolonial ini penting karena sejarah bukan sekedar pelengkap dan pengukuh teori sosial yang dipergunakan tetapi memperlihatkan bagaimana rekonstruksi masa lalu terhadap peristiwa/interaksi antar manusia hari ini. Melalui pandangan pos kolonialisme pertarungan wacana akan mudah terlihat dan bagaimana trace dan track kekuasaan bergerak dan lewat cara apa kekuasaan itu berusaha menunjukan dirinya dan mengukuhkan posisinya. Untuk itu penelusuran sejarah yang kuat (annales) dibutuhkan dan ditambah melakukan komparasi dengan budaya hari ini melalui sampel dan statistik. Dengan itu, kita mampu membandingkan keterputusan sejarah yang terjadi dan budaya yang berubah dalam kerangka waktu. Kebudayaan dilihat sebagai proses yang berkesinambungan

Fenomena sosial, dilihat dalam kacamata representasi sosial. Individu (Subjek) menjadi bagian dari masyarakat di mana hubungan masyarakat dan individu saling mempengaruhi, bertukar dan membangun suatu pengetahuan yang baru dan bersama tanpa mengkesampingkan power relation dalam politik yang berlaku saat itu. Representasi sosial mampu memperlihatkan dampak dari percaturan politik-ekonomi global dalam pengaruhnya terhadap budaya yang bergerak melalui interaksi hidup sehari-hari.

Negara eks-kolonial seringkali dianggap tidak mempunyai sejarah karena sulitnya menemukan dokumen, penuturan sejarah dilakukan dengan bahasa lisan dan kekuasaan dipertontonkan melalui gerak tubuh. Ibu Risa mengambil contoh masyarakat Jawa yang dianggap kata dan perbuatan tidak sejalan, selain itu gerak tubuh berjongkok, berlutut, bersila, salim adalah gestur sehari-hari yang tanpa sadar juga merupakan tanda-tanda kekuasaan. Pengalaman ketubuhan dan folklore mampu dijadikan sumber sejarah dan alat untuk rekonstruksi masa lalu.

Globalisasi dan metode penjangkaran memperlihatkan bagaimana politik-ekonomi global berdampak pada kehidupan sehari-hari. Jika ilmu politik dan pembangunan menganalsis bagaimana bantuan ekonomi mempengaruhi motif Soeharto melakukan kudeta kekuasaan pada tahun 1965 dan ilmu sejarah memperlihatkan dampaknya pada rakyat melalui program pemerintahan dan kesinambungannya pada distribusi kekuasaan pada politik elit kita hari ini. Penjangkaran yakni pengambilan bahasa (kata, tata, metode) dari budaya luar kemudian dimaknai secara lokal dan diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari. Ini berguna untuk saya misalnya melihat bagaimana LGBT sebagai identitas seksual ditolak oleh masayrakat tanpa menyalahkan masyarakat yang menelan istilah tersebut tanpa memahami maknanya (penelitian saya lebih lanjut).

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nadya Karima Melati’s story.