Melihat Post Feminisme dalam Konteks Indonesia

Saya pertama kali mendengar kata Post feminisme dalam kelas Paradigma feminis yang diajar oleh Ikhaputri Widianti. Aneh sekali, saya pikir feminisme dengan tiga gelombang dan dalam masing-masing gelombang berisi banyak lagi variasinya. Itu tenyata belum cukup. Feminisme sebagai Ilmu dan gerakannya ternyata punya banyak sekali jenis dan cabang. Feminisme sebagai sebuah gerakan memang universal, tapi tidak menyatukan. Karena perempuan berbeda-beda dan patriarki, yang lebih tua dari kitab suci, punya bentuk beda-beda pada setiap wilayah. Hal ini yang membuat feminisme jadi beragam.

Post feminisme saya ketahui sebagai teori terakhir pada pemetaan teori feminisme. Teori ini dianggap kelanjutan dan bisa juga dianggap sebagai masa ketika feminisme dianggap selesai. Post feminisme juga dilihat sebagai kritik terhadap feminisme gelombang kedua yang membuat feminisme menjadi sebuah slogan dengan memasukan kata atau label ‘perempuan’ dalam sesuatu membuat sesuatu tersebut seakan-akan menyuarakan feminisme. Tulisan ini mencoba melihat bagaimana post feminisme dilihat dalam konteks perempuan Indonesia khususnya kelas menengah perkotaan.

Post Feminisme, Feminisme Masa Kini?

Dalam tulisan Angela McRobbie berjudul Post Feminism and Popular Culture. Post feminisme merupakan kritik kultural atas feminisme yang dipopulerkan oleh media massa seperti televisi dan iklan, membawa perempuan pada belitan ganda (double entanglement). Belitan ganda antara kapitalisme dan media massa menjebak perempuan dalam dilema baru, antara nilai-nilai konservatif dan keberhasilan feminisme yang membuat perempuan menjadi mandiri dan bebas memilih. Nilai-nilai konservatif seperti menikah, mempunyai anak, berpenampilan menarik tidak hilang seiring dengan kesadaran perempuan dan kemampuannya untuk memilih dengan sadar dan bebas. Media meyakini, melalui budaya populer, ada sebuah permasalahan baru yang merupakan dampak dari feminisme yakni ketakutan akan kesendirian dan kepedulian pada diri sendiri. Keadaan tersebut yang dijadikan kesempatan oleh Kapitalisme untuk mengarahkan perempuan-perempuan muda ini melakukan konsumsi untuk menyenangkan dirinya sendiri dan menciptakan budaya baru, konsumerisme.

Post feminisme juga dianggap sebagai kritik terhadap feminis gelombang kedua dengan slogannya “thanks to feminisme” yang diproyeksikan bahwa feminisme yang diangap sudah selesai dengan tercapainya hak-hak perempuan dalam politik, kepemilikan, dan hukum. Feminisme menjelma menjadi kata-kata yang identik dengan gerakan feminisme seperti feminis, feminitas, feminim, perempuan dan gender dilekatkan pada segala hal dan membuat seakan-akan feminisme benar-benar masuk ke segala bidang dan menjadi bukti keberhasilan (atau justru kegagalan) dari feminisme. Belum lagi pukulan balik dari gerakan feminisme, kehadiran orang-orang yang menolak, bahkan anti dengan feminisme yang ‘liar’ dan identik dengan kelompok Femmen. Beberapa dari kelompok anti Feminisme kadang menyebut dirinya sebagai Menininist[1]. Adanya pukulan balik dari gerakan feminisme, belitan ganda antara nilai-nilai konservatif yang tidak membebaskan di satu sisi digiringnya perempuan pada jebakan konsumerisme menghadirkan gelombang feminisme keempat, yang disebut Gadis Arivia dalam kuliah Post feminisme di UGM (2/5) lalu, feminisme masa kini.

Obral Feminisme

Dalam kasus Indonesia, kritik post feminisme bisa dipakai untuk mengkritik kebijakan pengarusutamaan gender yang dianggap gagal. Kebijakan pengarusutamaan gender dilakukan dengan memasukan kata ‘perempuan’ kemudian ‘gender’ sebagai pengganti perempuan. Dan dengan menyematkan kata tersebut maka mampu menghasilkan sebuah kebijakan yang adil gender. Kebanyakan kata ‘perempuan’ atau ‘wanita’ dalam kebijakan sering digunakan untuk membuat suatu kebijakan tersebut pro-perempuan. Padahal penggunaa terminologi perempuan, gender, wanita atau feminis yang dilakukan oleh kapitalisme seperti mengangkat perempuan untuk dihempaskan kembali.

Contoh yang bisa dilihat akhir-akhir ini adalah diluncurkannya bus khusus wanita berwarna merah jambu pada perayaan hari Kartini 21 April oleh DKI Jakarta. Alih-alih memberikan bus transjakarta khusus[2] wanita (atau ruangan khusus wanita lainnya) lebih baik pemerintah mendukung peraturan yang menjamin tubuh perempuan di ruang publik, bukan justru memisahkan jenis kelamin agar terkesan ‘aman’. Pemerintah di sini, mengambil jalan pintas dengan memisahkan ruang publik antar jenis kelamin bukan menjamin keaman tubuh perempuan atau memberikan pemahaman bahwa melecehkan perempuan adalah sebuah tindakan kriminal (dalam KUHP perkosaan dan pelecehan terhadap perempuan hanya dikategorikan sebagai tindakan asusila). Menyedihkannya lagi, hal ini dilakukan untuk merayakan hari Kartini.

“Obral” kata-kata perempuan banyak juga kita temui apabila mendekati hari-hari khusus perempuan seperti hari Ibu 22 Desember, Women’s International Day, atau hari Kartini 21 April. Kita akan menemukan banyak iklan bertebaran menyajikan diskon khusus untuk pembeli perempuan untuk produk make up, tas, ataupun sepatu. Dan kini Kapitalisme mengobral kata ‘perempuan’ semakin lebih canggih dengan embel-embel agama. Kata perempuan dan Islam dilekatkan untuk sesuatu yang dianggap pro-perempuan muslimah dalam produk khusus seperti susu kalsium khusus perempuan muslimah.

Belitan Ganda Hijabers

Media massa membuat ukuran bahwa feminisme dianggap sudah selesai dengan menghasilkan perempuan-perempuan yang mandiri, memiliki penghasilan, memiliki pilihan dan sistem hidupnya tersendiri tetapi masih berkutat dalam pikiran penampilan, berat badan, gaya hidup sehat, dan ‘membutuhkan lelaki sebagai pasangan hidup yang cocok’. Perempuan Indonesia berterimakasih pada Kartini yang memperkenalkan ‘emansipasi’[3] memberikan model perempuan untuk meraih pendidikan dan pekerjaan seperti laki-laki. Ideologi gender Orde Baru yang menjadikan perempuan sebagai tenaga kerja yang bisa diupah murah (karena bekerja bukanlah peran utama bagi perempuan). Tapi hal ini juga membuka kesempatan perempuan untuk memiliki pekerjaan walau tetap harus berkarier sebagai ibu. Pada masa reformasi, mulai tumbuh kembali gerakan-gerakan dan organisasi perempuan yang membuat perempuan kini sudah memiliki kesadaran dan bangga akan identitas keperempuanannya. Khususnya pada perempuan perkotaan, dewasa ini seiring dengan semakin luasnya kelas menengah Indonesia[4] dan Islamisasi.

Saya mengambil contoh post feminisme yakni komunitas Hijabers. Hijabers adalah sebutan yang disematkan pada perempuan muslim Indonesia perkotaan yang memilih secara sadar untuk menggunakan jilbab sebagai bentuk ibadah dan syarat untuk menyempurnakan agama Islam dengan negosiasi untuk tetap menjadi menarik dengan memodifikasi jilbabnya dan menjadikannya selain sebagai ibadah, juga bagian dari fesyen. Dalam pandangan saya, Hijabers adalah contoh dari post-feminisme. Perempuan muda masa kini yang berada dalam belitan ganda tersebut. Para hijabers hampir seluruhnya berasal dari perempuan muda kelas menengah perkotaan yang mengenyam pendidikan tinggi, masuk ruang publik dan memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri. Kemudian, perempuan hijabers masih berhadapan dengan nilai konservatif seperti berpenampilan cantik sesuai syariat, keinginan untuk menikah dengan pasangan yang cocok, menggunakan hijab sebagai bagian untuk menolak identitas perempuan modern ‘ala Barat’. Dan di satu sisi perempuan Hijabers ini ditaklukan oleh konsumerisme. Hijab yang awalnya sebagai pakaian muslim biasa dijadikan sebuah komoditas dan tidak tanggung-tanggung Dolce & Gabbana, merk fashion ala Barat terkenal, kini ikut mengeluarkan koleksi pakaian muslimahnya.[5]

Keterputusan Feminis

Apakah feminisme benar-benar sudah selesai? Kita tidak memungkiri beda permasalahan tiap-tiap lokasi yang dialami perempuan yang berbeda. Akan tetapi kita juga tidak bisa menyangkal kata ‘feminis’ dan ‘perempuan’ akan menjadi jangkar bagi pemikiran dan gerakan feminis untuk kesetaraan. Jikalau saya sebagai generasi Millenial melihat situs 9gag[6], saya menemukan backlash yang kencang dari para anti-feminisme. Bisa kah kita berdialog dengan orang-orang yang sudah alergi terhadap feminisme kalau begitu? bisakah kita mengambil subtansi dari feminisme dan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari tanpa menggunakan label ‘feminis’ dan perempuan? mengambil substansi dari feminisme saya rasa tidak menghentikan feminisme itu sendiri.

[1] Meninist adalah sindiran terhadap Feminist, bergerak pada media populer seperti Twitter dan LINE lihat berita selengkapnya dalam https://www.buzzfeed.com/rossalynwarren/men-are-calling-themselves-meninists-to-take-a-stand-against diakses 6 mei pukul 9:39 WIB

[2] “Tampilan Bus Transjakarta Khusus Wanita” dalam http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/21/14091871/Tampilan.Bus.Transjakarta.Pink.Khusus.Wanita diakses 5 mei 2016 pukul 23:22 WIB

[3] Emansipasi dianggap berbeda dengan feminisme yang dianggap ala Barat. Emansipasi adalah kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dan feminisme disamakan dengan pseudo-feminisme yang menginginkan perempuan lebih tinggi drajatnya dari laki-laki. Emansipasi dengan Feminisme dibeda-bedakan melalui media budaya populer seperti yang saya temukan dalam website populer konsultasi percintaan http://kelascinta.com/women/feminisme-emansipasi-setara diakses 6 mei 2016 pukul 9:46 WIB

[4] Kelas menengah muncul di desa-desa tetapi khususnya pada perkotaan. Karena kelas menengah berasal dari pola konsumsi bukan pola pendapatan dan penentuan klasifikasi tentang kelas menengah di Indonesia diukur berdasarkan kepemilikan ponsel dan sepeda motor dalam rumah tangga. lihat Gerry van Klinken, 2016, “Demokrasi, Pasar, dan Kelas Menengah yang Asertif” dalam In Search of Middle Indonesia: Kelas Menengah di Kota-Kota Menengah, Jakarta: KITLV dan Yayasan Pustaka Obor hlm 1–2

[5] “8 Desainer dan Brand Luar Negri yang Mengeluarkan Koleksi Hijab Baju Muslim” dalam http://kawankumagz.com/Fashion/8-Desainer-Dan-Brand-Luar-Negeri-Yang-Mengeluarkan-Koleksi-Hijab-Baju-Muslim diakses 6 mei 2016 pukul 1:25 WIB

[6] 9gag.com adalah situs jokes yang berisi meme atau lelucon bergambar yang bersifat internasional, populer sejak tahun 2009. Menurut dugaan saya, 9gag mempelopori budaya meme yang populer di Indonesia melalui dunia virtual media sosial. Budaya meme dari 9gag kemudian berkembang menjadi situs serupa dengan cita rasa lokal seperti 1cak.com, meme comic indonesia sampai dagelan.co

tulisan ini pernah dimuat sebelumnya di http://www.jurnalperempuan.org/blog2/melihat-postfeminisme-dalam-konteks-indonesia

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.