Edisi 3 - Melihat Komunikasi

courtesy of Ask Dianne

Pendahuluan (?)

Komunikasi itu seperti seorang mengindera suatu benda X kemudian memersepsikannya sebagai A lalu menyampaikannya kepada orang lain dalam bentuk B yang diterima oleh orang lain itu sebagai C dan memersepsikannya sebagai D kemudian menyampaikan kepada orang ketiga dalam bentuk E. Komunikasi itu seperti pertanyaan apakah X adalah E? Apakah X sama dengan E? Bukankah kita semua menikmati kesalahpahaman. Bukan?

“Aku” Melihat Komunikasi

​Bisakah manusia hidup tanpa interaksi? Hemm… setelah melalui perbincangan sengit, kami bersepakat bahwa manusia selalu berinteraksi dalam kehidupannya.

Apa tujuan manusia melakukan interaksi? Secara umum, tujuan interaksi adalah untuk menyampaikan pesan. Interaksi dengan tujuan spesifik menyampaikan pesan tersebut dinamakan komunikasi.

Komunikasi praktis memiliki empat unsur. Yaitu komunikator sebagai penyampai pesan, komunikan sebagai penerima pesan, media sebagai penghantar pesan, dan pesan itu sendiri.

Komunikasi yang baik terjadi dua arah. Walaupun komunikan tidak memberikan umpan balik sebagai respon, pemahaman yang muncul tentang pesan yang disampaikan komunikator sudah cukup sebagai indikator terjadinya komunikasi.

Kita mengenal dua bentuk komunikasi, komunikasi lisan dan komunikasi tulisan. Komunikasi lisan terjadi secara langsung dan melibatkan banyak variabel pendukung termasuk perasaan yang dirasakan terkait pesan. Diantaranya adalah intonasi dan volume suara, mimik muka, dan gestur tubuh saat menyampaikan pesan.

Komunikasi secara tulisan tidak memiliki variabel-variabel yang dimiliki komunikasi lisan. Komunikasi tulisan tidak bisa menyampaikan secara utuh isi dan maksud pesan komunikator. Tapi, komunikasi tulisan memiliki kelebihan pada sisi dokumentasi.

Pada akhirnya, menurut saya tidak ada yang lebih baik di antara kedua bentuk komunikasi di atas, semuanya kembali lagi pada konteks penggunaannya.

Komunikasi Untuk Semua

Saya setuju bahwa komunikasi merupakan sebuah kebutuhan. Saya akan merasa senang ketika apa yang saya utarakan bisa dipahami oleh lawan saya ketika berkomunikasi. Tapi faktanya, sering kali saya masih suka gagal ketika melakukan komunikasi secara lisan.

Sering kali orang tidak menerima pesan yang sesuai dengan harapan saya. Entah karena tidak memahami atau nada bicara saya yang kurang sesuai.

Kalau sebagai manusia biasa saja masih kesulitan berkomunikasi, bagaimana dengan manusia yang mengalami keterbatasan berkomunikasi? Saya mau mengambil pendekatan dari kaum disabilitas dengan kekhususan tunarungu.

Ketika mereka menyampaikan sesuatu, belum tentu orang awam seperti saya bisa memahami apa yang mereka sampaikan. Tapi ketika mereka berkomunikasi dengan sesamanya sambil bertatap muka pesan tersebut bisa tersampaikan dengan jelas. Menurut saya, pasti mereka juga ingin orang awam bisa memahami mereka.

Memang banyak cara untuk melakukan komunikasi seperti melalui lisan, tulisan, atau gerak tubuh. Tapi, tidak semua orang mampu menggunakan semuanya itu. Selain dari sisi teknis tersebut, banyak juga orang yang tidak bisa memahami cara berkomunikasi orang lain secara non-teknis.

Ada yang bilang, “Yaudah sampaikan saja melalui tulisan.” Tentu mereka juga ingin seperti itu, agar semua orang jadi lebih cepat mengerti apa yang disampaikan. Tapi tahu kah kita, kalau sebenarnya mereka juga ingin merasakan berkomunikasi lisan dan tatap muka?

Pendekatan lain adalah diri saya sendiri, yang masih mampu berbicara dan mendengar. Tapi, saya justru sedang berproses untuk melakukan komunikasi lisan. Saya lebih sering menuliskan pesan agar tidak terjadi kesalah pahaman.

Dampaknya, ketika diajak berdiskusi saling tatap muka saya tidak bisa berbicara dan terus dilanda rasa takut orang tidak memahami saya. Saya merasa sangat dihargai kalau ada orang yang sabar menyimak. Sayangnya hal tersebut belum terjadi, apalagi dengan kaum tunarungu.

Kalau berkomunikasi saja masih pilih-pilih, apakah setiap manusia bisa saling memahami dan menghargai? Berdasarkan hal ini saya ingin terus mencoba hingga bisa menyampaikan pesan lisan dan orang memahaminya.

Komunikasi Menjadi Bumerang

Komunikasi merupakan hal yang mendasar sebagai penghuni semesta. Komunikasi dapat menjadi bumerang saat kedua pihak tidak saling mencoba mengenal dan merasakan.

Setiap makhluk hidup punya cara untuk berkomunikasi dengan makhluk lainnya. Tumbuhan dengan gerakan dan indah bunganya; hewan dengan aroma dan gerak tubuhnya; manusia dengan suara (berbicara), sikap, ekspresi wajah dan aroma tubuh.

Komunikasi merupakan hal yang membuat resah. Saya belum bisa berkomunikasi dengan baik karena banyak hal yang dilakukan dengan tidak semestinya. Misalnya sikap tubuh dan cara berbicara yang tidak tepat, intonasi yang diucapkan tidak sesuai, dan muka ekspresif yang terlihat seperti marah.

Sering kali saya merasa kesal, gemas dan heran karena orang lain sulit untuk memahami apa yang saya ucapkan. Hal ini membuat saya minder dalam komunikasi antar pribadi.

Saya sangat kesulitan untuk berkomunikasi bila berhubungan dengan emosi yang saya rasakan. Saya sulit memilih kata, menyusun kalimat, mengaturkan nada dan intonasi, juga ekspresi yang tepat.

Ada yang menyebutkan, ‘Cara berkomunikasi itu berkembang sejak kecil, dengan melihat referensi sekitar, terutama orang tua.’ Setelah mendengar itu, saya pun berpikir bahwa cara berkomunikasi saya sama dengan orang tua yang seringkali tidak tepat dalam berekspresi.

Hal itu menempel dalam perjalanan hidup saya hingga sekarang. Sejalan dengan itu, saya menjadi sulit untuk berkomunikasi terutama kepada orang tua dan orang terdekat yang disayang. Ada rasa takut tidak dimengerti, salah ucap, dan menyakiti dalam menyampaikan sesuatu.

Kerap kali merasa bersalah bila informasi yang disampaikan tidak dimengerti, Saya men-jugde diri saya buruk dalam berkomunikasi. Di sisi lain saya bertanya, “Apakah kemampuan komunikasi seseorang dalam menyampaikan pesan dapat dinilai baik atau buruk?”

“Atau, mungkin lawan bicara yang menerima pesan tidak mengerti dan belum memahami cara berkomunikasi pembicara?” Juga, “Bagaimana dengan suasana hati pendengar?”

Hal tersebut selalu menjadi ‘boomerang’ bagi saya sebagai orang yang belum memiliki cara tepat berkomunikasi. Sering kali semua yang ingin diungkapkan tidak mengena, bahkan tidak terungkapkan.

KOMUNIKASI INSAN ASMARA YANG TERHAMBAT JARAK

Mbak Rose, saat ini saya tengah menjalin hubungan jarak jauh dengan seorang pria. Kekasih saya baru saja mendapat pekerjaan di negara lain yang berbeda waktu 3,5 jam. Ia bekerja 10 jam sehari, 4 kali seminggu. Komunikasi kami sangat minim, itupun terkendala pulsa dan sinyal yang kumble’e. Coba bayangkan! Hal ini sering memicu prahara di antara kami berdua. Apakah ini bisa disebut pacaran? Atau lebih baik saya mencari pacar baru? Mohon pencerahannya, Mbak Rose.

–Gadis Jamban (Manja dan Lamban)

Dear Mban, menurut hemat Mbak Rose kendala komunikasi merupakan risiko yang seharusnya telah disadari ketika memutuskan untuk menjalani hubungan jarak jauh alias LDR. Hubungan jarak dekat yang setiap hari bertemu dan berkomunikasi tatap muka saja masih rentan kesalahpahaman, apalagi hubungan jarak jauh yang komunikasinya tidak langsung.

Ditambah pula dengan sifat wanita yang (biasanya) pencemas. Gak dikabarin, langsung cemas. Dikabarin tapi lama, langsung cemas. Celana masuk, cemas.

Sedangkan si lelaki (biasanya) cuek-cuek aja padahal kamu lagi mau dimanja-manja kayak lagu Bete dari Manis Manja grup. Perbedaan karakter ini tak jarang pula menimbulkan konflik.

Si perempuan merasa terabaikan, sedangkan si lelaki merasa terus dituntut. Yang bisa kamu lakukan saat ini adalah merefleksikan apa tujuan kalian menjalani hubungan ini.

Pertanyakanlah pada diri sendiri, apakah si doi memang orang yang tepat untuk diperjuangkan? Kalau jawabannya ya, maka bersabarlah menjalani semua kesulitan ini. Karena kata Allah, “Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (Subhanallah Mbak Rose jadi relijius gini).

Namun jika jawabannya tidak, maka putus bisa menjadi pertimbangan. Patut dicamkan pula bahwa sebenarnya bukanlah jarak yang memisahkan, melainkan ketidakpedulian.

Satu lagi, menurut Mbak Rose kamu harusnya bersyukur memiliki pacar meskipun LDR. Di luar sana, ada orang lain yang sedang berjuang LDR dengan waktu. Dianya ada di sini, pacaranya ada di masa depan huhuhu ☹

Anda memiliki problematika dalam hidup? Ceritakan ke nahdotkom@gmail.com, Mbak Rose akan coba menjawab pertanyaan Anda meskipun belum tentu solutif.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.