Atasan Kerja Lebih Muda, Bagaimana Menyikapi Hal Tersebut?

Setiap individu memiliki jalan hidup masing-masing untuk menentukan jalan hidupnya termasuk dalam berkarir. Sering kali karena ketidak cocokan disatu perusahaan dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubah hal tersebut maka pilihan yang terbaik adalah keluar mencari pekerjaan ditempat lain. Pada posisi inilah kita sebagai pribadi yang mempunyai pengalaman harus memulai lembaran karir baru di perusahaan lain.

Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas mengenai penyesuaian ditempat baru namun posisi kita ketika diterima disuatu perusahaan yang baru. Sudah sewajarnya perusahaan menempatkan karyawan yang mempunyai masa bakti lebih lama sebagai team leader, pertimbangannya adalah pengalaman, loyalitas dan pengabdian yang sudah jelas terbukti sehingga perusahaan bisa bertahan. Lalu, bagaimana jika team leader tersebut lebih muda dari kita?

Berbagai buku yang membahas mengenai psikologi yang menjadi referensi saya dalam menulis artikel ini, contohnya Steve Jobs, yang pada masa mudanya sangat beringas dalam menelurkan ide bisnis! Gila saya bilang. Jobs dalam umur ke-21 sudah memimpin perusahaan Apple, yang notabene saat itu adalah startup pembuat PCB komputer dengan pendapatan jutaan dollar. Sisi lain dari sifat Jobs adalah terlalu mengikuti intuisi hatinya sehingga proyek “sampingan” yang ia telurkan justru menjadi momok olengnya Apple versi pertama. Saat itu John Sculley sudah mengingatkan bahwa ide gila tersebut hanya akan menghabiskan dana yang tersimpan di bank, dan faktanya memang benar-benar gagal total.

Saya tidak akan mengambil perbandingan terlalu jauh. Hanya Jobs dan Sculley, Jobs berumur 21 tahun dan Sculley 40-an. Segala ketrampilan digunakan Sculley untuk selalu membujuk Jobs kembali ke “jalan yang benar” dengan tidak menggunakan ide asal-asalan. Dari biografi Steve Jobs saya bisa mengambil makna bahwa seorang senior dalam hal umur) bisa saja menempati posisi dibawah junior dalam hal pekerjaan. Itulah yang terjadi pada Sculley.

Pengalaman kerja dan usia mematangkan setiap langkah yang diambil, biasanya karena hal yang terjadi dilapangan kemudian menjadi teori-fakta sepanjang masa. Hal ini tidak bisa dibantah karena bersifat mutlak.

Pengalaman saya sendiri pernah berada dalam posisi tersebut. Perbedaan yang saya rasakan adalah pada awalnya semua berjalan lancar hingga saya menemukan “inkonsistensi” seperti yang ada dalam cerita biografi diatas. Tidak hanya sekali namun terus berulang. Kesimpulan pertama adalah faktor usia. Usia sebenarnya adalah angka untuk mengukur sudah berapa lama kita hidup didunia. Karena faktor usia pula pengalaman hidup dilalui, kesalahan dilakukan, ide-ide baru muncul yang kesemuanya berasal dari pengalaman.

Atasan yang memiliki usia lebih muda cenderung berpaku pada instruksi-instruksi atasan senior dan intuisi. Orang jawa bilang seperti “anget-anget tai ayam”, ilmunya masih belum seberapa banyak namun karena sudah senior ditempat kerja tersebut maka diangkat menjadi “team leader”. Hal ini tidak salah, karena itu yang bisa dilakukan.Saya lebih setuju jika atasan yang lebih muda tersebut turut merangkum opini atau pendapat dari karyawan baru namun memilik track record yang sudah melalang buana di perusahaan sebelumnya.

Selanjutnya, intuisi dalam memutuskan strategi yang digunakan. Paragraf sebelumnya saya menyebutkan “berpaku pada instruksi-instruksi atasan senior”, hal ini kerap dianggap sebagai teori Tuhan oleh atasan muda. Mengapa? Label senioritas, loyalitas dan ketegasan berbicara kadang membuat pikiran kita benar-benar buta pada kebenaran. Tidak semua instruksi atasan senior benar adanya!

Ada beberapa saat sebelum memutuskan suatu perkara, rasionalitas dipertaruhkan. Keputusan mencerminkan sifat seseorang. Saya kira jika atasan muda terebut memiliki “feeling” yang bagus paling tidak sudah sesuai dengan “pikiran senior yang waras”.

Lalu bagaimana menghadapi atasan seperti ini? Jujur saya katakan banyak-banyaklah berdoa semoga kedewasaan dan kenyataan fakta dilapangan menjadi tolak ukur berikutnya dalam memberikan keputusan. Selain itu coba lah cara John Sculley diatas agar setidaknya konflik didalam organisasi perusahaan bisa mereda. Saya sangat meyakini Anda yang lebih senior, di dalam hati pasti teriak ketika mengetahui atasan muda Anda memberikan keputusan janggal.

Salam Sukses!