Kepadamu Tuan,

saat surat ini kutulis aku sedang sendirian berteman dinding yang sudah bosan mendengar bagaimana aku menyesal telah melewatkanmu.

Kau tahu, Tuan?

Selepas kau memilih untuk berbalik arah meninggalkanku, aku berhenti merayakan debarku yang meletup-letup.

Tuan, bagiku kau adalah Bianglala, kepadamu aku rela menunggu, bermain seperti anak kecil yang enggan untuk pulang.

Kepadamu Tuan, kurebahkan segala mimpiku, bersamamu kusibakkan kemungkinan yang disebut perpisahan.

Kau tahu Tuan, kusurati kau seperti ini membuatku seperti orang yang baru datang dari masa lalu.

ah, kau pasti sedang menertawakanku, berani sekali aku berbicara tentang masa lalu, membicarakannya sama halnya dengan bernostalgia dengan luka lama yang entah kenapa masih basah.

masa lalu yang pernah membuatku mencicipi perasaan yang bergejolak. Rasa yang pada akhirnya tandas layaknya kopi dalam cangkir.

Aku jenuh menunggumu melangkah Tuan, atau lebih tepatnya aku khawatir kau memang tak akan pernah melangkah.

Aku memilh mundur dan kutanggalkan semua harapku bersamamu. Aku menyerah bahkan sebelum aku mengisi peluru. Aku kalah pada ketakutan jatuh cinta sendirian (lagi).

Maafkan aku yang sempat mengusikmu. berbahagialah Tuan, maka akan kutemukan bahagiaku juga, bahagia yang mungkin tidak kita temukan bila bersama.

Nona Senja. ☺

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.