Kekata Bisu

Berangkai-rangkai aksara pernah memaksa diri keluar dari ruang sesak, terperangkap dalam tenggorokan; memuntahkannya di atas lembar kertas, serupa larik sendu yang gelisah kala kuncup bibir kaku mengucap kekata; bisu.

Lidah kelu berujar sabda, sedang tangan lihai melukis suara sunyi dari ruang gaduh; hati dan otak beradu tatkala air mata menjelma serdadu, tak gentar melempar peluru pada durja melankolis yang menampung asa di tinta hitam pengeja luka; bebal.

Terdengar ruh-ruh berseru bak jelata miskin rasa, tak patut ‘ku bertitah di kuping mereka, para pengumbar simpati pun pengobral dusta; buih-buih kepercayaan masih gigil dalam dekap jarum jam, berdetak merdu.

Sekejap jutaan ribu keluh terbelenggu pada kesadaran takdir; memudar pilu di tulang-belulang, menerawang lorong-lorong penawar nirwana, merayu sukma melepas pasrah gores-gores duka, hingga ruh terlunta lantang melangitkan helai-helai sajak nestapa; doa.

*Ternate, 13 September 2016