Prahara Mimpi

Bahwasannya selain manusia, mimpi juga bisa menua, mimpi juga bisa sakit, mimpi juga bisa mati.

Kau pasti setuju dengan kekataku barusan kan, Sayang? Sebab aku tahu, mimpiku mimpimu pernah menjadi bukti. Ia mati sebelum sempat kita sentuh, sebelum sempat kita asuh.

Ketika itu, akukau saling menyalahkan, kau meminta maaf atas kematiannya, begitupun aku; tapi Sayang, kau tahu? kenyataannya mimpi tak pernah mati di tangan kita, kenyataannya mimpi telah memilih jalannya sendiri; ia mati bunuh diri.

Kita kemudian duduk saling berhadapan; masih saling menyalahkan. “Seandainya kita tak pernah saling jatuh cinta, mimpi tak akan semenderita ini.” Katamu.

Aku menarik napas dalam, mencoba meluruskan perkaataamu “Kita tak pernah salah dalam hal jatuh cinta, yang salah adalah membiarkan mimpi telantar begitu saja.” Tak lama setelah itu, kau tertidur pulas dan aku diam-diam pergi, memilih jalanku sendiri.

Ternate, 15 Mei 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.