K(a)u Suka?

Mungkin sebenarnya aku tidak (benar) suka kopi, mungkin segala bentuk kesukaan itu hanya sesuatu yang ingin ku perlihatkan, bahwa aku suka. Sebatas ingin ku punya sesuatu yang bisa kusematkan ‘suka’ padanya.

Mungkin aku kurang bersungguh-sungguh dalam mencari. Ke dalam diriku sendiri, tentu saja. Bisa jadi sesungguhnya ‘suka-ku’ lebih cocok disematkan untuk yang ‘tawar’ atau yang lebih ‘ringan’ dan ‘manis’, sirup misalnya.

Mungkin aku terlalu meggebu melekatkan ‘suka’ atau terlalu berambisi terlihat ‘menyukai’. Boleh jadi jika aku bertanya ke dalam diriku sendiri, mungkin aku pun tak punya jawaban dari pertanyaan itu.

“Apa yang sungguh ku ‘suka’?”

*

Tapi rasanya tak adil jika pertanyaan itu ku dapat dan ku hadiahkan hanya padaku sendiri. Kau, mungkin kau juga perlu meyakinkan lagi. Apapun itu entah kau menyebutnya. Apapun itu yang kau sematkan ‘suka' padanya. Coba, cobalah berbicara dengan dirimu sendiri. Terlebih dahulu.

Sebuah perbincangan yang panjang, tentu saja.

Tentang sungguh kah kau ‘suka'? Atau hanya terlalu berambisi untuk terlihat ‘menyukai', memiliki sesuatu yang padanya kau sematkan ‘suka'. Padahal jauh, jauh di dalam kedirianmu, kau tidaklah sungguh mengerti arti ‘suka'.

"Apa yang sungguh kau ‘suka'?”

***

Surakarta, 24/11/2015