Memasukkan Mata Pelajaran Filsafat Kedalam Kurikulum Sekolah Menengah

Sekolah hari ini terlalu kaku!

Siang itu sangat tenang, suasana yang sangat dibutuhkan oleh siapapun yang baru saja menghadapi macetnya jalan raya sepulang dari kampus. Menjalani kemacetan sudah seperti shalat bagi mereka yang menjalani, sebab dibutuhkan kemauan yang ekstra untuk menjalaninya. Di kampus tadi aku sempat menemani seorang kawan membawakan materi dasar-dasar filsafat kepada para mahasiswa baru di himpunan jurusanku. Ia adalah anggota dari organ ekstra kampus, hijo lumut. Meski muatan materi yang ia bawakan belepotan sana-sini — maklum, kawanku yang satu ini sangat gila penghargaan jadi selalu cari panggung— paling tidak garis besar dari apa yang ingin ia sampaikan telah dapat dipahami oleh pesertanya, aku tahu ini dari raut wajah mereka yang seolah baru mendapatkan pencerahan dari yang maha kuasa. Begitu berseri-seri. Dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, siapa saja akan langsung tahu bahwa sebagian besar dari mereka masih sangat asing dengan filsafat. ‘kenapa baru sekarang?’ tanyaku dalam hati. Pertanyaan itu kemudian membuatku gelisah. akhirnya aku coba mendiskusikannya dengan kawanku yang membawakan materi tadi. “Bisa gila anaknya orang” jawabnya. “juga bakalan banyak orang atheis kalau seperti itu” tambahnya. Sebab aku tak banyak memiliki pengetahuan tentang psikologi dan imanku tidak tebal-tebal amat, dan kawanku ini sangat senang terlibat dalam debat kusir serta mengkafirkan orang lain, maka pendiskusian ini segera kuakhiri sebisa mungkin. Ah, betapa bencinya aku berhadapan dengan orang semacam ini ketika diskusi. kalian juga pasti memiliki kawan yang menjengkelkan seperti ini bukan? Dengan pertanyaan itu yang terus mengganggu pikiranku, kawanku yang terus memancingku untuk melanjutkan diskusi tadi, dan kondisi kampus yang semakin sepi, aku putuskan untuk beranjak ke rumah. Saat itu matahari sedang terik-teriknya. Dan aku selalu menghindar untuk berkendara dibawah cuaca seperti itu.

Adzan dzuhur berkumandang ketika tiga orang siswa SMA islam datang membawa sedikit keriuhan. Tanpa pernah ku gubris, mereka saling bercakap, membahas banyak hal dengan rokok di tangan mereka masing-masing. Karena nadanya yang cukup keras hingga dapat kudengar, aku tahu dari percakapan mereka bahwa mereka sedang bolos shalat. Ah, apa artinya mata pelajaran pendidikan agama yang intens diajarkan kepada mereka. Dengan perasaan berdosa, percakapan mereka berubah menjadi semakin serius ketika membahas tujuan hidupnya masing-masing. Perdebatan pun mulai terjadi sewaktu mereka masuk ke pembahasan mengenai takdir, perdebatan antara pandangan thoreau, marx, dan aa’ Gym(?), meski mereka pasti tak familiar dengan dua filsuf pertama itu. Kalian harus merasakan betapa menyenangkannya mendengar perdebatan mereka ini, perdebatan yang cukup filosofis di masa dimana para pemuda berpikir terlalu instan dan beramai-ramai mendambakan hidup seperti anjuran televisi (meskipun si siswa yang menganut pandangan Aa’ Gym termasuk pemuda seperti ini). Dengan pertanyaan yang terus mengganggu sejak di kampus tadi, para siswa ini akhirnya memberikan jawabannya kepadaku. Institusi pendidikan harus memuat mata pelajaran filsafat di kurikulumnya! Namun apa kelebihan dan kekurangannya?

Mari kita mulai dari kekurangannya. Kekurangannya adalah… hmm.. apadi’?.. oh ya, sulitnya sekolah untuk mencari guru BK, sebab mayoritas guru BK hari ini belum dapat betul-betul memahami psikologi para siswa. Bayangkan saja bila para guru BK ini harus menghadapi siswa yang paham filsafat, dimana standar moral bahkan akan diperdebatkan.. Ah, niscaya mereka akan butuh badan konseling bagi guru BK.

Oke, mari masuk ke kelebihannya. Kelebihan yang pertama adalah demi membasmi cara berpikir a la robot yang dominan hari ini. Kedua, para siswa akan lebih siap dalam memilih jurusan apa yang akan mereka pilih untuk kuliah nanti, sebab pelajaran filsafat akan mendorong mereka untuk banyak merenungkan kehidupan mereka masing-masing. Hal ini juga akan sangat bermanfaat bagi kehidupan para siswa ketika duduk di bangku perguruan tinggi. Para senior tak perlu lagi susah-susah membangun metode kaderisasi yang terlalu berbelit-belit sebab para mahasiswa baru sudah lebih dahulu berurusan dengan filsafat sewaktu di bangku sekolah. Sepertinya masih banyak kelebihan lain yang belum disebutkan disini. Menurut kawan-kawan, apa sajakah kelebihan lainnya?

Hujan lalu turun ketika mobil dinas berplat hitam milik bapak temanku yang seorang pegawai kementerian pendidikan lewat. Ia seharusnya ada di penjara sekarang, minggu lalu ia kedapatan korupsi dana Ujian Nasional. Anaknya yang merupakan kawanku itu kini mendekam di pusat rehabilitasi akibat kedapatan mengkonsumsi sabu-sabu. Mereka ini adalah keluarga yang dekat dengan elit-elit orde baru pada masanya. Ketiga siswa tadi, kini sedang sibuk sendiri. Si penganut Aa’ Gym dengan hapenya, Marx sedang menggoda anak pemilik warung, dan Thoreau sedang membaca novel Salinger. Ah, tak lama lagi, generasi kita, generasi muda hari ini akan menggantikan para generasi tua yang super kolot. Mari berharap!