Perjalanan Melupakan

Faqih Faturahman
Feb 25, 2017 · 2 min read

Perjalanan ini sudah jelas kurencanakan. Sebuah perjalanan menuju kata ikhlas dan merelakan seseorang. Perjalanan ini takkan pernah tercipta jika bukan kamu penyebabnya. Sebab yang membuat hati tak karuan tak tentu arah.

Pukul 19:45 selepas makan malam, aku bergegas memesan layanan ojek online untuk mengantarkanku menuju bus tujuan Jakarta-Wonosobo yang telah kurencanakan sejak hari itu. Hari di mana aku tak tahu kemana melangkah, juga hati yang kau hancurkan seketika.

Jalanan kota ramai dan lampu-lampu kendaraan dengan indah berpendar lengkap mencirikan khas ibukota yang macet kala malam akhir pekan tiba.

Sesampainya di bus, aku lebih memilih untuk akrab dengan ponsel pintarku sembari berharap iba wanita yang menyebabkan ini semua akan mengkhawatirkanku dan mencegahku untuk melakukan perjalanan ini.

Selama 30 menit berlalu, bus yang kutumpangi dengan gagah melesat menyusuri kota Jakarta sembari membunyikan klakson “telolet” yang beberapa waktu belakangan viral di sosial media.

Pria yang duduk di sebelahku, Mas Adhi, ternyata ia juga tengah melakukan perjalanan ini sendiri. Hampir serupa, ia memilih untuk akrab dengan Samsung A7 dengan casing armor keren dan mencantolkan headset di kupingnya.

Waktu menunjukkan pukul 02.10. Diriku yang diselimuti rasa rindu serta delusi akan bayangan dirinya sempurna menemani malam ini.

Aku memutuskan untuk memejamkan mata sembari mendengarkan lantunan lagu baru John Mayer — Still feel like your man yang baru dirilis tepat hari keberangkatanku.

perhatian… perhatiaan…

Tidurku dibangunkan suara kondektur bus yang memberitahukan bahwa kita telah sampai di check point pertama yakni Bumiayu. Waktu menunjuk tepat pukul 5 pagi. Aku bergegas ke mushola untuk menunaikan sholat subuh dengan penumpang lainnya.

Tiga puluh menit berselang, bus kembali berangkat dan memacu kendaraannya menuju tujuan akhir, Wonosobo.

Tak banyak yang bisa kulakukan selain membayangkan sedang apa dan di mana kah wanita itu? wanita yang telah berhasil membuatku jatuh hati sampai sedalam ini. Sampai perjalanan ini menjadi sebuah penyelesaian yang murung untuk mengikhlaskan semuanya.

Bersambung….

Faqih Faturahman

Written by

Sendu, senja, nelangsa. Tiga kata yang setidaknya membuatku menyelam dalam lautan kesunyian.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade