James yang Terabaikan

Hari ini sepertinya akan menjadi malam yang dingin, mengingat Frank si peramal cuaca yang nyentrik salah satu stasiun TV mengatakannya tadi pagi.

“Well, selamat berapi unggun!”, kalimat Frank yang terngiang di benak James. James hanya duduk di sudut jalan Baltimore, memejamkan mata sesekali dengan nafas panjang yang ia hembuskan terbiaskan dalam bentuk kabut malam. ia melihat orang berlalu lalang dengan cepat berpacu dengan waktu seakan mereka ingin sekali melihat rumahnya, entah untuk menemui anjing kesayangannya, anaknya, atau bahkan istri tercinta mereka yang sudah menyiapkan soup kacang merah panas. Hasrat itu terlihat jelas dalam langkah kaki mereka, berat nan pasti.

James memiliki itu semua, dahulu. Sebenarnya ia masih memiliki semuanya, tapi sangatlah berbeda. Ia masih bertanya-tanya, berasumsi tanpa arah terhadap kejadian itu, malam itu, yang membuat akhirnya berubah menjadi seperti ini.

“But why? Aku hanya menolong Sarah si pemilik galeri itu, dan itu tugasku sebagai pemadam kebakaran. Kenapa ia teralu kekanak-kanakan dalam menghadapi hal ini?”, batin James dengan raut muka sedikit lelah.

James memang berprofesi sebagai pemadam kebakaran, tugas utama nya adalah menolong orang-orang sekitarnya. Respon yang cepat dan instingnya dalam menyelamatkan orang sudah mengalir dalam darah James. Ia terkenal dengan sebutan “Angel of Fire”, karena ia menyelamatkan banyak orang dari kobaran api.

Malam itu sangatlah dingin dan menusuk, ia berjalan menyusuri trotoar menuju ke rumahnya, sudah sangat larut bahkan tidak ada manusia disekelilingnya. Sebelum memasuki rumah ia memandanginya dari atap hingga anak tangga. Ia tersenyum kecil, mengingat bahwa rumah ini adalah rumah yang ia bangun bersama istri nya dengan jerih payah mereka menabung selama 10 tahun. Terlalu banyak memori yang dimiliki James, tetapi ia tersadar bahwa semua telah berbeda saat ia akan memasuki rumahnya.

“Aku pulang”, ucap James saat membuka pintu tua itu.

Tidak ada tanggapan sama sekali, sangat wajar karena memang sudah larut malam. ia menaiki tangga untuk menuju kamar tidurnya. Ia melihat Laura, sang istri sudah tidur terlelap. rambut pirang dengan wajah anggunnya yang membuat James selalu jatuh cinta saat melihatnya. James mengelus pelan rambut Laura.

“Selamat tidur, Laura”, ucap James yang kemudian ikut menyusul berbaring di sampingnya. Ia masih tidak percaya bahwa keindahan nyata yang tepat disampingnya harus terenggut ketika mereka terbangun kembali.

James terbangun oleh suara wajan penggorengan yang beradu dengan spatula ditambah bau sedap yang menggugah membuat James ingin cepat terbangun dari tidurnya. Ia menuruni tangga dan melihat ke arah dapur telah ada Laura yang sedang memasak, terlihat ia sangat terburu-buru. Lalu ia melihat ke arah ruang keluarga tengah, anak kesayangan satu-satunya, Timmy, yang sedang asik menggambar sembari menunggu masakan jadi. James pun menghampiri Timmy, satu-satunya orang yang masih mengajak bicara James.

“Hey selamat pagi jagoan Ayah!”, ucap James dengan mengendap perlahan dari belakang.

“Hey Dad!”, Timmy menoleh sesaat untuk memastikan siapa yang memanggilnya, dan kembali melanjutkan gambarnya. Ya, Timmy sangat suka sekali menggambar.

Nampak terlihat ia sedang menggambar Ibu, Ayah, dan juga Timmy sendiri. James melihat sekeliling ruang keluarga tersebut, ternyata ia baru tersadar banyak gambar yang identik sama sekitar 10 gambar terpampang disekelilingnya, dan semua itu adalah hasil karya Timmy.

“Hey Tim, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”, sambil mengusap kepala Timmy.

“Yeah Dad, sure”.

“Apakah ibumu pernah cerita apapun tentang ayah? maksud ayah, apakah kamu tahu alasan ibumu marah dan tidak lagi bicara dengan ayah selama ini?”, James harus memberanikan diri bertanya mengenai hal itu, sudah 1 tahun ia pendam sendiri. Hanya Timmy yang mempunyai hubungan erat dengan istrinya saat ini.

“Ibu tidak marah, Dad. Tapi, ada hal yang tidak bisa ia ungkapkan. Ada sesuatu yang membuat ibu tidak berbicara kepadamu”, tegas Timmy. Sebelum James melanjutkan perkataannya, Timmy seraya sudah mengerti apa yang akan ditanyakan oleh James.

“Ibu bilang ayah selalu mengucapkan selamat malam saat ia tidur. Ibu selalu mendengarnya. Ayah harus mencoba mengatakan hal lain, mungkin”, tutup Timmy.

Laura nampak sudah selesai mempesiapkan makanan untuk Timmy, dan ia pun bergegas memakai mantel dan penutup kepala. Sepertinya ia memiliki urusan diluar sana.

“Hey Tim, makanan sudah siap di meja makan, ibu akan keluar sebentar untuk membeli beberapa buah dan bertemu dengan Bob. Ibu akan kembali jam 2 siang. Be nice”, ucap Laura sembari berjalan menyusuri lorong menuju pintu depan.

“Ok, bye mom. kau tidak memberi salam pada Ayah?”, Timmy menoleh ke arah ibunya. Ibunya pun berhenti sesaat menghela nafas mendengar hal itu. Dan berjalan kembali untuk membuka pintu dan hilang dibalik pintu kayu yang sudah tua tersebut. Seperti biasa, tidak ada jawaban yang terucap dari mulut Laura.

James pun menghela nafas, seolah-olah Laura sangat membenci James untuk saat itu dan seterusnya.

“Tim, apakah ibumu selalu bertemu dengan Bob?”, tanya James penasaran.

“Beberapa kali sepertinya, Dad”, jawab singkat dari Timmy.

Bob adalah teman lama Laura dan juga James saat mereka dahulu sebelum menikah. Bob memang terlihat tertarik kepada Laura sejak SMA tetapi Laura menikah dengan James. Memang ada beberapa hal kelam yang seharusnya tidak terungkit kembali.

“Apakah ini kesempatan Bob untuk benar-benar merusak hubunganku dengan Laura yang sedang renggang?”, tanya James dalam hati. Pikirannya kacau, melayang tanpa arah di ruang hampa. Semua harapan semakin menukik menuju kehancuran hidupnya. Ia pun berdalih ingin mengikuti Laura secara diam-diam, yang sebenarnya Laura tidak akan peduli.

“Tim, jadilah anak baik. Ayah akan keluar sebentar”.

Timmy hanya mengangguk sembari melanjutkan hasil karya nya. Hasil karya yang saat ini tidak menggambarkan kehidupan mereka sebenarnya.

Ia menyusuri beberapa blok dari rumahnya, hanya berjarak 20 meter dari perempuan berdarah inggris tersebut. Setelah beberapa menit, James melihat Laura memasuki salah satu kedai kopi di area tersebut. James terdiam sesaat. Seakan kenangannya kembali menancapkan jangkarnya. Tidak salah lagi, apa yang ia lihat adalah kedai kopi dimana dahulu mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama, melupakan palang-palang jam yang terus berlalu, merencanakan hal-hal yang jauh kedepan sana. Semua momen indah tanpa adanya gangguan. Hingga saat ini, ia memasuki kedai kopi tersebut untuk bertemu Bob.

“Tidakkah itu menyakitkan, kawan?”, tanya James pada dirinya sendiri, yang kemudian ia jawab dengan helaan nafas panjang yang terdispersi pada embun pagi itu. seolah-olah langkahnya sangatlah berat. Ia sangat tidak siap untuk segala sesuatu yang akan terjadi berikutnya.

James memantau dari sebrang luar, melihat setiap gerak gerik apa yang sedang dilakukan istrinya tersebut. Terlihat beberapa gerak bibir itu mengatakan sesuatu, pertemuan itu tidak lama dan diakhiri dengan pelukan. Sebuah pemandangan yang sangat menampar keras James hingga batinnya tersungkur di dasar. Bagaimana bisa ia melihat istrinya sendiri mengacuhkannya tetapi bermesraan dengan orang lain. James geram, marah, semua tidak dapat dibendung lagi. Ia mengambil sebuah batu berukuran sedang. Matanya tertuju tajam, melemparkan batu itu ke arah kaca kedai kopi tersebut. Sebuah lonjakan energi yang kuat, tajam, tepat.

Pengunjung kedai termasuk Laura dan Bob sangatlah terkejut. Kaca kedai itu membunyikan suara yang sangat kencang, retak, tanpa tahu siapa pelakunya. Semua heran. Beberapa menengok ke arah luar termasuk pelayan, tetapi tidak ada satupun terlihat orang yang melakukannya. Pantas saja, James sudah pergi, menghilang dibalik gedung untuk kembali ke rumahnya dengan amarah yang terdalam. Setelah sampai dirumah ia menuju ke kamarnya, mengacak-acak seluruh isi kamar, untuk mencari bukti lebih tentang Laura dan Bob. Laci demi laci yang ia temukan hanyalah foto Laura dengan beberapa temannya, bahkan tidak ada foto Laura dengan James. Tidak menemukan segala sesuatu yang ia butuhkan, ia beralih ke lemari. Membongkar segala sesuatu tidak peduli bagaimana berantakannya kamar tersebut. Ia menemukan, fotonya dengan Laura pada hari pernikahan dalam frame kecil yang masih bagus, seperti terlihat Laura selalu menjaganya. Tetapi emosi sudah meluap, tungku nya melebihi panas yang seharusnya. Ia melemparkannya ke arah dinding. Frame foto tersebut pecah berkeping-keping, hingga foto tidak dapat terlihat kecuali harus dikeluarkan dari frame tersebut. James menangis, duduk di ujung kamar. termenung sambil mengusap air matanya. Tapi tak disangka seluruh kejadian tersebut terekam oleh mata Timmy yang daritadi memperhatikan kelakuan James dari muka pintu kamar. James yang menyadarinya langsung mengusap air matanya seolah-olah ia tidak menangis.

“Dad, apakah kau baik-baik saja? Kenapa engkau melakukan hal seperti itu? Guru disekolahku menghukum teman-temanku jika merusak properti kelas”, tanya Timmy kebingungan.

“Tidak, Tim. Maafkan ayah. Ayah hanya — hh”, James dia sejenak, ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Dad, tidakkah engkau melakukan saranku? untuk mengajak berbicara ibu disaat ia tidur? mengungkapkan segala nya, itu akan terlihat mudah”, ucap Timmy dengan berusaha meyakinkan ayahnya untuk melakukan hal itu.

James hanya terdiam. Termenung. Mungkin benar apa yang dikatakan Timmy, mungkin itu satu-satunya cara untuk meluruskan semua hal. James terpaku. Meyakinkan dirinya sendirinya dan mengangguk untuk dirinya sendiri. Sepertinya ia sudah tahu harus melakukan apa.

Malam telah tiba, jam menunjukkan pukul 21.00, James baru saja menenangkan dirinya di danau tempat ia berkencan dengan istrinya saat kebahagiaan itu masih mulai menggelitik. Ia menuju rumahnya, langkahnya pasti. Seperti tidak sabar untuk menyelesaikan ini semua, menguak semua perasaan terpendamnya. Ia datang kerumah, membuka pintunya. Ia melihat Timmy sudah tidur nyenyak dikamarnya, dan ia memastikan bahwa Timmy benar-benar tidur. Kemudian ia menyusuri tangga kecil itu menuju kamar atas dimana kamarnya berada. Ia melihat, istrinya sudah tidur nyenyak. Kamar itu sudah rapi kembali, terakhir ia lihat seperti kapal pecah, karena hasil karya yang James lakukan. Ia mengatur nafas, menyiapkan kalimat terbaiknya.

“Laura.. Laura”, suara lirih James yang melengkapi malam sunyi itu.

Laura tidak merespon, ia hanya bergerak sedikit. Seperti orang yang diganggu saat tidurnya. James mulai mundur sedikit, ia tidak yakin apakah saran anak kecil itu benar-benar dapat dilakukan atau tidak, ia merasa sedikit konyol.

“Laura.. Lau — ”, sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, ia mendapat respon.

“Apakah itu kau, James?”, jawab Laura, tetap dalam kondisi tidur. Mungkin Laura hanya mengigau, orang mengigau dapat merespon tetapi itu diluar kendali sadarnya, yang artinya hanya dalam alam bawah sadarnya dan saat terbangun dia tidak akan mengingat apa yang ia katakan.

“La.. Laura? Engkau berbicara denganku? Setelah sekian lama?”, sambil menatap Laura dengan kebingungan.

“Aku selalu bicara denganmu, James. Mungkin engkau tidak mendengarnya”, James bingung. Apakah benar yang dikatakan Laura atau ia hanya dalam keadaan tidak sadarnya saja sehingga omongannya mengacau. Belum sempat ia mendapatkan jawaban atas kebingungan itu, Laura sudah melanjutkan kembali kalimatnya.

“James, dengar aku sudah mendengar semuanya dari Tim, aku tahu engkau marah. Tapi aku tidak ada apa-apa dengan Bob. Bob hanya mencoba menenangkanku saja, ia sangat menghargai hubungan kita. Kamu tahu itu kan?”, kemudian Laura berdiam kembali.

James hampir lega dengan jawaban itu, Laura sepertinya mengatakan yang sejujurnya.

“Tapi kenapa setelah kejadian itu engkau memiliki sifat yang berbeda? Apakah ada hubungannya dengan Sarah? Aku hanya menolongnya, tidak ada hubungan spesial antara aku dan Sarah. Aku menyelematkan dia, karena itu tugasku untuk menolong orang”, akhirnya kalimat itu keluar, hal yang ingin dibahas James selama ini.

“Aku tahu itu, James. Aku tidak menyalahkanmu akan hal itu, aku selalu percaya denganmu James. Aku senang dengan apa yang kau lakukan, menolong orang adalah panggilan hati, tapi aku juga sedih, sangat sedih. Karena pekerjaanmu itu yang membuat kita menjadi berbeda..”

Belum sempat James mencerna seluruh perkataan Laura, ia menambahkannya kembali. Seakan memang Laura juga menyimpan segalanya selama ini.

“Tapi aku tidak menyalahkanmu, semua yang kau lakukan akan selalu ada dihati orang-orang, dihati Tim, dan juga akan selalu dihatiku. Aku selalu mencintaimu walau keadaan merubah kita seperti ini James. Aku akan selalu mencintaimu, sungguh”, tutup kalimat Laura yang sepertinya dia tidak akan melanjutkannya lagi.

James tak mampu berkata lagi, seakan kalimat singkat Laura itu sudah sangat cukup untuk menyelamatkan perasaan James dari titik kehancuran. Ia ada di ambang batas aman untuk sekarang. Terdiam, lega, tersenyum.

“I love you. Laura, Goodnight”, tutup James malam itu. James menunggu sesaat apakah Laura akan merespon hal tersebut. Bibir tipis yang terkunci dan Laura membetulkan posisi tidurnya tampak ia tidak akan mengucap sepatah kata lagi. James menghela nafa kemudian ia menyusul Laura disampingnya, sepertinya tidur James akan nyenyak malam itu, dan esok akan menjadi hari yang menyenangkan dapat kembali normal. Ia tidak sabar akan hal itu. Malam itu ditutup dengan ketenangan hati James.

Cahaya matahari menyerebak masuk kedalam celah tirai kamar, membuat James terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekitar, Laura sudah tidak ada dikamar. Laura juga tidak membangunkan James sama sekali.

“Apakah semalam hanyalah omong kosong belaka?”, James menerka-nerka kejadian semalam. Berusaha menenangkan dirinya.

Ia turun kebawah, tidak ada orang sama sekali. Timmy pun tak ada. Padahal hari ini adalah hari libur. James bergegas keluar rumah melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda dari mereka. Ia terus berjalan menyusuri trotoar sepanjang jalan rumahnya, melewati toko ramalan milik Nyonya Cedric, ia adalah seorang cenayang. James masuk kesana untuk menanyakan kemana Laura pergi, karena Nyonya Cedric adalah salah satu orang terdekat keluarganya.

“Nyonya Cedric?”, sapa James canggung.

“OH, James? Apa kabarmu? Sudah lama tidak bertemu denganmu..”, nampak Nyonya Cedric terkejut melihat kedatangannya.

“Aku baik-baik saja, aku hanya ingin menanyakan, apakah engkau melihat Laura pagi ini?”, tutur James tergesa-gesa.

“Ya aku melihatnya, ke arah makam dekat taman kota, ada apa?”

“Sangat aneh, mengapa ia ada di makam taman kota saat hari libur begini?”, tanya James bingung.

“Aku tak tahu, tapi coba saja cari tahu, James. By the way.. Laura seringkali kesini menceritakan banyak hal tentangmu walau kalian tidak saling bicara. Aku tahu itu berat untukmu dan Laura. Tapi saranku, tetaplah kalian saling mencintai”

“Aku selalu mencintainya di setiap langkahku, Nyonya Cedric, baiklah aku akan pergi”, tutup James dengan senyuman kecil. Nyonya Cedric membalas dengan anggukan dan senyuman kecil pun.

James pun berlari menuju makam dekat taman kota, sembari bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang dilakukannya? James sangatlah bingung dengan hal-hal tersembunyi yang dilakukan Laura. Setelah sampainya disana, ia melihat Laura yang sedang membawa bunga ditemani oleh Timmy. Berdiam diri di depan salah satu batu nisan yang ada disana. James menghampirinya perlahan dibelakangnya, ia tidak ingin merusak momen Laura. Ia berniat untuk menyapa Laura setelah momen tersebut.

Sesekali ia mendengar Timmy bertanya pada ibunya,

“Kenapa disini sangatlah ramai orang berlalu lalang, Mom?”

“Tim, jangan menggunakan imajinasimu disini, kita harus menghormati orang-orang yang telah pergi meninggalkan kita semua”, tegas Laura dan kembali memperhatikan batu nisan tersebut

Laura berdiam diri, memandangi batu nisan tersebut, beberapa kali air matanya menetes. Setelah ia puas melihatnya ia meletakkan bunga itu diatas batu nisan tersebut.


“I love you, too. James”, sembari mengusap air matanya dan meninggalkan batu nisan tersebut. Tertulis diatas batu nisan tersebut “Angel Of Fire”. James tersentak, ia tidak dapat berkata-kata. Kemudian memori itu menumpuk jelas di otak James, saat malam kebakaran dalam galeri tersebut, saat api menjalar sangat besar, oksigen sangatlah tipis. Dan ia harus mengeluarkan Sarah dari tempat itu. Masker oksigen hanya ada satu, ia memberikannya pada Sarah dan menyuruhnya keluar secepatnya. Waktu James tidak banyak untuk menahan nafas tanpa oksigen. penglihatannya mulai gelap. Sampai ia tidak dapat melihat, jatuh tersungkur ditengah kobaran api tersebut. Dari itu James mengetahui kenyataan pahit untuk dirinya sendiri, bahwa pada malam itu, di galeri itu, ia berhasil masuk dalam kobaran api, tapi ia tidak pernah berhasil keluar.

-James, seorang yang dirindukan.