Pergi

Malam belum larut, tapi ruang ini begitu sunyi dan sepi. Di sana — pada jendela yang terbuka lampu-lampu telah menyala seperti hamparan bintang yang begitu luas. “Ke mana kamu akan pergi?” aku mengeleng. Tak tahu, tetapi yang aku tahu; aku harus pergi. Bukan karena tak lagi mencintaimu, tetapi karena cintaku akan menjelma pisau bermata dua; bisa melukai siapa saja.

Kamu menahan tanganku, mengatakan semua akan baik-baik saja dan kamu akan tetap mencintaiku seperti sebelumnya. Aku tersenyum perlahan “Sanggupkah kau bayangkan dia yang kaucintai bermalam dengan seseorang lain yang tak kau kenali?” kamu diam, mungkin kamu ingin menjawab bahwa dia adalah perempuan baik yang tidak akan pernah menghianati cintamu. Tetapi apakah kau tahu, jika baginya kau adalah lelaki baik yang tidak akan pernah menghianati cintanya?.

“Tapi aku menginginkanmu” katamu. Aku menatap matamu, sesuatu yang berat telah menghimpit dadaku, membuat napasku seketika sesak, sempoyongan. Tubuhku telah serupa kapal yang kehilangan nahkoda; oleng. Tak tahu lagi tahu harus kemana, tak tahu bagaimana harus berjalan, tetapi yang aku yakini aku tetap harus pergi.

Kamu memeluk tubuhku sesasat sebelum aku terjatuh, sentuhanmu tiba-tiba membuatku terasa begitu nyeri, seperti tubuh yang dikuliti. Perih sekali. “Jangan pergi” katamu. Aku melepas pelukanmu, melangkah mundur.

Aku tidak sanggup melukai perempuan yang begitu mencintaimu, perempuan yang selalu mendoakan kebaikanmu, aku tidak ingin menjadi pisau yang memutus kebaikan-kebaikannya yang dicurahkan sepenuh hati padamu. Meski aku tahu, artinya aku tak akan pernah memilikimu lagi.

Bibirmu bergetar, matamu tiba-tiba berair. Aku melangkah mundur setiap kali kau mendekat. Sampai di ujung pintu kamu berkata “aku tak bisa kehilanganmu”

Aku tersenyum perlahan; di ambang pintu yang belum tertutup aku berkata “bagaimana mungkin kamu akan kehilangan sesuatu yang tak pernah kamu miliki?”

Jakarta, Aug 16