fiksi — Bangku Ruang Tunggu

Tidak sepenuhnya fiksi. Hanya nama yang diganti.

image/Pinterest

2002. Terminal 1C Soekarno-Hatta.

Hhh! Sambil menghempaskan pantat yang pegal ke bangku ruang tunggu, saya melempar sekilas tatapan ramah ke gadis berambut ikal yang duduk sekitar dua meter di sebelah kanan.

“Rokok?” Dia ramah menawarkan. Saya menggeleng sambil tersenyum, “No, thank you. Sudah berhenti.”

“Wah, hebat! Ajarin dong, cara berhenti ketagihan rokok.” Responnya sambil tertawa. Tawa yang ringan, tanpa basa-basi. Nampak cukup asyik untuk teman ngobrol sambil menunggu jadwal boarding.

“Ke Jogja juga?” Saya mengalihkan obrolan dari urusan rokok.

“Oh, enggak, mau ke Surabaya lalu lanjut Batam. Lagi ngurus pindahan rumah, jadi lumayan ribet.”

“I see…” Saya menjawab pendek, kemudian menyodorkan sekotak donat cokelat.

Dan obrolan berlanjut 40 menit kemudian, sampai terdengar panggilan penerbangan ke Batam dari pengeras suara.

“Ah, pesawat gue tuh. Ok, musti berangkat dulu nih. Kabari ya kalau kapan-kapan ke Batam.” Katanya sambil buru-buru mengangkat tas weekender Elle.

“Eh, tunggu.” Mendadak jarinya meraih struk kotak donat, lalu sibuk menulis sederet angka di baliknya. “Oya, nama gue Vina. Ini nomer telepon gue. Siapa tahu kita bisa ngobrol lebih panjang kapan-kapan.” Tukasnya cepat, menyodorkan kertas tadi, lalu melambai pergi.

Saya ikut tersenyum dan mengucapkan selamat jalan. Dalam hati bergumam, siapa pula yang pernah serius berteman dari hasil kenalan di Bandara.

15 menit kemudian giliran pesawat saya yang harus berangkat.

***

Sesampainya di Adisucipto Jogja, ada dering masuk ke telepon genggam. Dari Ririn — sepupu di Jakarta yang tadi mengantar saya ke Soekarno-Hatta.

“Hey, Rin. Barusan nyampe nih.” Sapaan pertama saya yang kemudian berlanjut dengan cerita singkat tentang Vina. Pengalaman unik, menurut saya.

Sejenak mendengar cerita, Ririn terdiam.

“Rin? Masih di situ?” Saya kira sambungan terputus.

“Vina siapa nama lengkapnya? Ciri-ciri dia bagaimana?” Ririn menggebu bertanya.

“Uhm gimana ya… Kulit putih, badan agak gempal, rambut ikal, dan ada tahi lalat besar di dahi kanan.” Saya coba mengingat figur Vina.

“Hah?! Serius? Ada tahi lalat di dahi kanan?” Teriak Ririn di telepon.

“Kenapa sih?” Saya penasaran campur kaget.

“Kalau ciri-cirinya seperti yang elo sebutkan, apalagi ada tahi lalat di dahi kanan, dia itu sahabat gue waktu SMP!” Ririn setengah berteriak.

“Gue kehilangan kontak sejak lulus karena dia pindah rumah tanpa kasih kabar.” Lanjutnya. “I’ve been looking for her contact, karena di Facebook juga nggak ada.”

Saya tertegun. Ingatan melayang pada kertas bertuliskan nomer telepon Vina yang tertinggal di bangku ruang tunggu.