A Journey to Kick Cancer — 1

Jeda Pembuka

“Yah, hasil dari laboratorium sudah keluar. Seperti dugaan saya, tumor tersebut ganas.”

Dokter mengucapkan sederet informasi hasil biopsi dengan nada datar. Entah karena lelah atau saking seringnya menyampaikan berita yang sama. Telinga saya berusaha tegar saat mendengar.

Tangan dokter kemudian sibuk menuliskan rujukan terapi konvensional. Termasuk kemoterapi, radiasi — bahkan kemungkinan harus mastektomi, alias diamputasi.

Saya tersenyum masam. Airmata yang sudah penuh terbendung di pelupuk akhirnya runtuh begitu keluar ruang periksa.

Suami yang duduk di sebelah berusaha nampak tenang. Saya tahu dia lebih gelisah, karena bertahun sebelumnya Opung Borunya (nenek) meninggal dari vonis yang sama: kanker payudara.

Perjalanan kembali ke rumah siang itu terasa hening. Di luar hujan turun cukup deras. Dramatisasi yang sempurna, ujar batin saya setengah mengeluh setengah berdoa.

Di rumah, setengah hari sisanya waktu terasa melambat. Jeda tiap jam dipenuhi pertimbangan, kepada siapa saya perlu mengabarkan. Saya tidak mau membuat kepanikan yang tidak perlu.

Ketika operasi biopsi saja saya tidak memberitahu siapapun.

Setelah menelepon tiga nomor keluarga dan teman terdekat, saya pilih beristirahat. Pikiran masih terlalu penuh pertanyaan; Bagaimana bisa?Mengapa saya? sementara garis keluarga tidak ada sejarah kanker. Tidak masuk akal rasanya.

Harus cari penjelasan, pikir saya sambil mencoba rebahan. Harus.

Note.

// biopsi: tindakan diagnostik untuk pengambilan sampel jaringan