A Journey to Kick Cancer — 2

Tidak Ada yang Kebetulan

Sehari setelah puas menangis dan beristirahat, saya memutuskan keluar rumah. Ada dorongan dalam hati yang menyuruh hirup udara segar.

Jika diingat ke belakang, cancer sebenarnya bukan tantangan maut pertama saya. Ada beberapa ancaman nyawa yang saya berhasil lewati. Di benak saya, mungkin kali ini belum tahu persis soal cancer. Itu saja.

Maka, proses belajar pun dimulai.

Buku-buku yang berhubungan dengan fisiologi saya kumpulkan, laptop terbuka hampir seharian, email-email korespondensi untuk peneliti dan professor saya kirimkan, testimoni para survivor dari berbagai metode penyembuhan (medis & non-medis) saya cermati dan pertimbangkan.

Prinsip saya: jika jawaban yang memuaskan tidak didapatkan dari dokter, maka satu-satunya cara adalah belajar sendiri.

Sebuah proses belajar yang terdengar konyol karena seharusnya ditempuh lewat bangku pendidikan bertahun-tahun. Bukan oleh amatir dadakan.

Sementara itu ketika sedang getol belajar, desakan mulai keluarga berdatangan. Sebagian besar senewen sambil memaksa saya segera ikut treatment rujukan dokter. Namun saya tetap pada pendirian.

Terlebih lagi setelah menghubungi seorang sahabat justru balik terkejut karena dia juga memiliki benjolan di bagian kepala. Belum lagi suami pun menambahi cerita tentang orangtua temannya yang juga divonis kanker paru-paru dan kanker otak.

Saya makin kencang belajar. Ingin paham mengapa kasus cancer semakin marak? Sementara banyak yang belum paham atau sedang tercekam ketakutan ketika mendengar vonis cancer untuk pertama kalinya.

Di titik ini takut bukan lagi pilihan. Saya harus menjawab tantangan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.