Aku Ingin Naik Kereta dan Berhenti di Stasiun Tulungagung malam ini.

Tiba-tiba. Ketika kuping merasakan kesunyian di tengah-tengah sepi aroma angin dari pepohonan, dan ketika di luar sudah tidak ada lagi bunyi suara kendaraan. Namun, suara hewan malam masih kudengar bersamaan dengan gemericik hujan, tiba-tiba aku ingin menaiki kereta dari stasiun Tenjo Tigaraksa dan berhenti di stasiun Tulungagung. Aku bertanya kepada diri sendiri, hawa apa yang sedang bertamu ke pikiranku, ini sudah larut malam, ini waktunya mengistirahatkan pikiran, ini sudah waktunya pergi dari dunia nyata dan pulang kea lam mimpi, duh roh yang sedang berjaga malam di pepohonan di rumah-rumah kosong yang berantakan, apakah itu sebuah isyarat? Aku ingin pergi sekali menaiki kereta, menikmati bau badan penumpang lain, tidur di bangku yang bolong dimakan pantat-pantat orang-orang kota, kereta tua atau apalah, pokoknya aku ingin pergi naik kereta, aku ingin menyingkirkan segala yang kusut di kepalaku.

Rasanya, barangkali, bepergian tanpa menyusun rencana terlebih dahulu ke tempat yang belum pernah sama sekali kukunjungi mungkin amat mengerikan, dan sekali lagi tetapi, hawa apa yang sedang mengajakku pergi dan berhenti di stasiun Tulungagung, aku belum pernah naik kereta sendirian apalagi ke tempat-tempat jauh. Duh, malam yang begitu sunyi, aku ingin ke sana sebelum matahari menelan seluruh gelap.

Sesuatu sedang menerjang pikiranku kuat-kuat, sesuatu yang entah aku pun tidak tahu, aku harus ke sana pokoknya harus, walau pun aku tahu tidak ada kereta yang berangkat di tengah malam buta begini. Duh, aku hilang nalar, dan aku tidak bisa berhenti untuk tidak mengemasi pakaianku, memasukkan uang ke dompet, membawa sikat gigi di dalam tas dan beberapa makanan ringan.

Aku bertanya sekali lagi kepada diri sendiri. Apakah ada kereta menuju ke sana, apakah orang-orang asing di luar sana memiliki kebaikan, aku masih punya rasa takut, aku takut dibunuh, aku belum siap mati, aku masih ingin hidup, aku masih punya tujuan menyulam masa depan dengan seorang perempuan yang begitu aku ingini. Ah bangsat! Tetapi hawa itu terus berbisik ke telingaku agar aku segara mengemasi pakaian dan keluar rumah dengan cara mengendap-endap.

Ada perasaan yang membuat seisi kepalaku ingin keluar dari tempurungnya, perasaan yang memeras kulitku, duh, gusti, aku mesti apa? Aku ingin memakai sepatu sambil membawa tas menuju stasiun Tenjo yang sudah sepi sekali, aku ingin membeli tiket tujuan Tulungagung, aku ingin esok pagi sudah berada di sana, menghirup udaranya, minum kopi di warung pinggir jalan sebelum kulanjutkan tujuanku dan aku tidak tahu ke mana lagi setelahnya.

Bagaimana menghalau hawa yang terbilang aneh ini, adakah mantra yang ampuh untuk mengusirnya? Ini kali pertamaku ingin pergi ke tempat-tempat terjauh dari rumah, ini kali pertamaku mengharuskan keinginan yang menghasutku untuk lekas-lekas keluar rumah. Pergi tanpa pamit kepada ibu dan bapakku.

Pokoknya aku harus benar-benar pergi sebelum pecah kepalaku, pokoknya kepalaku sudah menjadi stasiun paling sibuk sedunia. Aku harus pergi, dari stasiun Tenjo dan berhenti di stasiun Tulungagung, nanti setelah tiba di sana, aku mesti pergi ke Malang atau barangkali kembali pulang menaki kereta yang sama tanpa membawa apa-apa. Duh, rindu, sekuat inikah arusmu?

-Ilyas Rian Reza, 2017

Like what you read? Give RIAN MH a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.