Sebuah Sajak untuk Pacarku

Kepada Liska Aristiana.

Ini sebuah sajak untuk pacarku, sajak yang barangkali taman untuk mata, telinga, bibir serta dadamu yang lapang.

Di atas jalan berbatu menuju laut itu, kita tanggalkan kecemasan yang memenuhi paru-paru. Kerelaan tentang sebuah siasat menuntaskan rindu dan perihal-perihal indah yang lain — juga pelukmu pengusir rasa letih yang melekat erat di tubuhku.

Pasir putih dan udara laut yang menyergap hidung kita, bau anyir ikan bakar di warung sebelah, besok atau lusa akan menjadi perihal indah yang patut kita kenang setelah kulingkarkan cincin di jari manismu yang mungil.

Kau tahu? Telah kupastikan jalan menuju masa depan kelak hanya ada kau, tidak dia atau sesiapa lagi — sebab di inti jantungku kau bermukim, teduh, dan kuyakinkan sekali lagi bahwa kauaman, nyaman dan tak akan pernah kusakiti kau barang sekali.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.