SEPOTONG CIUMAN YANG TAK SEMPAT SELESAI

GAMBAR DARI INTERNET

Satu minggu sebelum tubuhnya berada di dalam pesawat terbang, aku masih sempat melihat senyumnya yang seranum anggur, aku juga masih bisa merasakan getar di dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya — saat kami sempurna saling merengkuh. Saat hujan di luar deras sekali. Malam hari yang gigil dan kalimat-kaliamat tanya yang tidak mampu kuutarakan. Malam itu, adalah malam terakhir kali aku melihat sepasang matanya yang melankolis — dan juga punggungnya yang ingin kupeluk dari belakang saat langkah kakinya berayun pasti menutup pintu. Sejak malam itu, aku mulai menjadi seorang yang mulai menyeka air mataku sendiri.

Ini malam terakhir musim penghujan akan gugur, di dalam kafe masih kureguk kenangan itu dengan gelas bir yang kesembilan, lagu-lagu yang terputar dari alat pemutar musik menyanyikan lagu-lagu sendu milik Nike Ardila. Seolah hujan dan pelayan kafe itu mengerti getir apa yang sedang merusuhi dadaku.

Jalan-jalan yang pernah aku lalui bersama Nela sekarang riuh oleh ketukan selamat tinggal, ucapan yang semestinya tak kudengar dari mulutnya. Aku dirasuki hal-hal mengenai penyesalan sekali lagi. Satu minggu yang berat dan satu minggu yang melelahkan perasaan. Nela pergi, dan aku tahu ia takkan kembali seperti dulu, saat kami masih mengenakan seragam kantor dan bertemu di bangku dekat kolam di taman kota, saat dunia masih seluas yang kami mau. Bir kesembilan saja tidak cukup untuk menemani rasa sepiku. Pelayan kafe mengerti kesepianku, ia membawa gelas bir kesepuluh di meja yang sedari dua jam lalu aku pakai untuk meneguk kenangan-kenangan yang lain.

Dua tahun kami menjalin perasaan diam-diam, dua tahun yang menyejukkan hidupku, aku selalu merasa teduh jika sepasang lengan itu jatuh di pelukku, merengkuh aduhku erat-erat dan kami akan melakukan sebuah ritual ciuman sebelum alarm bermbunyi dari ponselnya pertanda ia harus pergi dengan janji esok hari akan bertemu lagi. Selalu begitu, selalu ada pertemuan yang terburu-buru. Pertemuan diam-diam tapi menyenangkan. Ah, aku ingin mengulangi peristiwa itu sekali lagi dan sekali lagi.

Dulu, dua tahu yang lalu, aku menemukan Nela sedang menangis tanpa suara di taman kota ketika langit belum sempurna meredup. Aku memberanikan diri untuk bertanya kenapa — lalu memberikan sapu tangan kesayanganku untuk dipakai mengusap air matanya yang meluncur deras serupa sungai kecil di dalam belantara hutan hijau. Sendu sekali matanya, aku semakin simpati setelah Nela menceritakan sebab apa ia menangis sendirian.

“Kau tidak bisa memeluk dirimu sendiri, maka kaubutuh seseorang untuk memeluk aduhmu lekat-lekat,” kataku dan Nela tersenyum.

Sejak pertemuan itu, sejak itu pula kami berdua memutuskan untuk selalu bertemu di jam-jam pulang kantor. Kantor Nela tidak jauh dari tempatku bekerja, kebetulan tempat kosku tidak jauh dari taman kota — dan aku pasti akan melewati taman itu. Taman di mana pernah ada aku dan Nela. Aku akan menunggunya terlebih dulu di bangku berwarna biru langit yang menghadap ke kolam ikan. Biasanya Nela datang sepuluh menit setelah aku menunggunya dengan debar-debar di dada. Ya, aku selalu berdebar-debar saat sedang menunggunya, bagiku menunggu Nela datang tak ubahnya seperti menunggu pengumuman pemenang lottre. Ialah perempuan yang mengisi segala kekosongan dan kesenyapan dalam diriku. Aku mencintainya dan aku tidak bisa menghitung seberapa banyak aku mencintainya.

Setiap musim kemarau tiba, aku dan Nela akan bepergian ke tempat-tempat yang menurut kami paling sepi, tempat yang jauh dari kata riuh dan tempat di mana orang-orang yang tak banyak bicara. Menyingkir sejenak dari pandangan lampu-lampu kota yang menjemukkan. Pantai. Gunung. Lembah telah kami kunjungi hanya berdua dan tanpa sesiapa selain kami. Dan tempat-tempat itu akan aku datangi sendirian saja sekali lagi — mengenang hal-hal yang telah jauh yang tidak mungkin peristiwa-peristiwa dulu terulang kembali ketika bersama Nela.

“Aku tahu resiko apa di masa depan yang akan menertawakanku,” kataku ketika kepala kami saling menghadap langit yang keemasan di bibir pantai yang lengang.

“Apa kita akan tetap seperti ini?”

“Apa kau berani keluar dari kehidupanmu yang kausebut memuakkan?” aku balik bertanya, Nela hanya diam dengan napas yang terdengar resah.

Andai, Nela berani keluar dari kehidupannya, barangkali bir kesepuluh ini tidak akan pernah kuteguk dan tidak akan diantar oleh pelayan kafe yang meniru senyum Nela. Aku ingin berbicara seandainya yang lain, seandainya Nela mau menikmati sisa hidupnya bersamaku, mungkin kenangan tidak terlalu cepat kedatangannya seperti saat ini, seperti gelas bir yang kesepulah telah habis. Kenangan tidak pernah cukup untuk gelas bir kesepuluh. Aku memesan gelas bir kesebelas untuk menemaniku menikmati hal-hal yang telah lalu.

Di luar hujan masih deras — membuatku semakin betah dan memaksaku untuk belajar tabah. Hanya ada dua pengunjung yang tersisa di kafe ini. Aku dan sisa senyum Nela yang mengembang. Pelayan-pelayan kafe barangkali sudah bosan kepadaku yang belum juga mau beranjak dari meja nomor 23. Meja yang sering kami pakai untuk bercerita. Meja yang pernah menyaksikan saat aku mencuri ciuman di pipinya ketika ia lengah.

Dulu, ketika Nela berulang tahun, aku pernah melingkarkan sebuah cincin di jari manisnya. Nela membalasnya dengan kecupan yang ia daratkan di keningku.

“Bolehkah aku memakai cincin ini pada saat bertemu denganmu saja?”

“Iya, diam-diamlah memakainya.”

“Aku tidak mau kebahagian kita tinggal segelas,” katanya sewaktu gelas bir pertama di tangan kami akan segera habis. Kami bersulang.

Seminggu yang lalu, Nela membuatku menjadi seorang penikmat kenangan. Di ambang pintu yang sebetulnya ingin kutahan langkahnya dengan menarik sebelah lengannya. Sungguh, aku tidak mampu untuk sekedar melakukan itu dan mengucapkan perihal-perihal segala yang berbunyi jangan pergi. Bibirku seolah dibungkan mati — tak dibolehi berbicara. Aku mematung memandang punggungnya menjauh dan hilang ditelan anak tangga yang pernah mengantarkan tubuhnya ke tempat lain. Sejak saat itu, tidak kudapati lagi suaranya yang renyah di ujung telepon sebelum mataku diserang kantuk dan mimpi-mimpi indah tentang masa depan bersamanya. Tidak ada lagi senja di taman kota dan suara-suara manja darinya yang bisa menghibur diriku dari rasa sepi. Sepi yang memilin hati.

Aku pernah berkunjung ke rumahnya diam-diam, Nela telah menungguku, aku masuk lewat jendela kamarnya.

“Kenapa kau membiarkanku masuk lewat jendela?”

“Selagi tiada pintu gunakanlah jendela.”

“Hahaha,” kami tertawa enak.

Setiap malam senin, Nela pasti menyuruhku untuk datang ke rumahnya. Aku diam-diam memanjat tembok rumahnya, dan aku mengerti kenapa Nela tidak pernah memberikanku sebuah pintu melainkan hanya sebuah jendela. Aku paham itu saat ini, lelaki sepertiku hanya pantas masuk lewat jendela.

“Lain kali aku ingin masuk lewat pintu.”

“Jangan, lewat jendela saja, bukankah jendela bisa mengantarkan kita kepada langit yang lapang dan bukankah sebuah jendela itu akan menghamparkan embun yang gigil dan bening?”

“Tetapi sesekali biarkan aku masuk lewat pintu.”

“Jangan! Aku ingin selalu begini, duduk di jendela sambil menikmati dua gelas kopi bersamamu.”

“Apakah kita akan duduk lebih tenang dari ini sambil menikmati cahaya rembulan yang mengucur ke bawah?”

Nela hanya diam, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang mungil, hanya sebuah pelukanlah yang ia lemparkan ketubuhku dengan seguk suara tangisnya yang dingin. Sepasang jendela itu, kini telah sepi. Tidak lagi ada percakapan antara dua orang yang diam-diam saling mencintai.

Kunikmati sepi dan bayang-bayang tubuhnya seperti menari tidak mengadap wajahku. Aku merindukan kecupan hangatnya di keningku dan pesan singkat darinya bahwa ia merindukanku. Aku menginginkan pelukan itu sekali lagi, tempat di mana resahku enyah, tempat ternyaman di dunia setelah tubuh ibu. Nela pergi dan aku tahu ia takkan kembali, ia takkan ada denganku menikmati hal-hal baru. Barangkali benar, lelaki sepertiku tidak pantas masuk lewat pintu. Sungguh jauh sebelum ia menanggalkan aku, aku menginginkan sebuah pintu yang utuh. Pintu di mana aku bisa masuk dengan leluasa tanpa sekat dan tanpa mengendap-endap.

Sementara di kota yang tidak seasyik dulu saat masih kutemukan rinai senyumnya — kota ini sudah menjelma menjadi kota yang asing, aku mendadak merasa seorang yang kerdil tanpa seorang lain yang bisa melekatkan tubuhnya di tubuhku yang ringkih. Pelukan-pelukan itu, kecupan yang masih kuangankan kecupan-kecupan darinya yang selanjutnya dan selanjutnya lagi. Kini telah jauh dipisah jarak dan perasaa-perasaan yang lembap. Aku telah kehilangan sesuatu — sebagian dari hidupku. Sebagian dari paru-paruku. Aku dipaksa — digiring oleh kenangan sekali lagi dengan gelas bir keduabelas.

***

Aku tidak yakin jika gelas bir kedua belas yang diantar pelayan adalah gelas bir terakhir. Ada sebutir air bening yang meluncur pelahan di pipi kananku. Di luar hujan masih jatuh. Dan aku tenggelam bersama kenangan-kenangan yang rapuh. Serapuh ranting kering dikoyak angin kecil — tetapi ingatan adalah satu-satunya yang aku miliki saat ini. ingatan yang menyerupai museum yang kapan saja bisa kukunjungi dengan sesuka hati. dalam ingatanku, segala tentang Nela tidak bisa runtuh sekalipun aku menemukan cinta yang baru. Kadang, masa lampau adalah hal terindah yang tidak pernah ingin aku selesaikan. Masa saat aku tidak pernah bertemu kesepian yang selalu menyembul dari jantung yang tidak ingin kubagi selain kepada Nela.

Seminggu sebelum Nela jauh, ia datang mengetuk pintu kamarku dan masuk dengan menangkap tubuhku di atas tempat tidur. Matanya sembap, hidungnya memerah. Naluriku mengatakan akan ada sesuatu terjadi di antara kami. Dan ternyata benar saja, sesuatu itu menghantam dan mengambrukkan seluruh perasaan dan harapanku. Nela hamil. Dan itu menandakan ia dan suaminya harus pindah keluar negeri.

“Suamiku telah berjanji kepadaku, jika aku hamil, ia akan membawaku ke Jepun dan menetap di sana, merawat anak kami berdua. Maaf,” ia memeluk tubuhku yang setengah goyah.

Nela pernah berkata kepadaku. selama ia menikah dengan suaminya, selama empat tahun di kandungannya tidak ada calon bayi yang mungil mendekam di rahimnya. Itu perkataan pertama darinya yang membuat sehelai perasaanku terenyuh saat aku menemukannya di taman kota sendiri menangis tanpa sedu. Suaminya menginginan bayi lelaki dari rahimnya. Aku tahu kesedihannya, maka dari itu aku ingin selalu memeluk setiap jengkal kesedihannya.

Usia kami duapuluh depalan tahun. Nela lebih tua dariku beberapa bulan saja, Nela mengandung anak pertamanya, aku berharap calon bayi yang ada di rahimnnya bukan anakku, aku tidak bisa membayangkan jika itu adalah anakku. Bukan, bukan aku tidak ingin mempunyai anak yang lucu-lucu apalagi dari rahimnya. Hanya saja jika bayi yang di kandung Nela yang baru berusia satu bulan ialah anakku, aku tidak akan bisa jauh darinya, aku akan merawat bayi itu, sekali lagi tetapi, apakah pantas seorang lelaki sepertiku mempunyai anak dari perut istrti orang lain? Ah, semoga saja bayi itu bukan anakku.

Sebelum Nela pergi, ia sempat berkata. “Jika aku merindukanmu, bolehkah aku berkunjung ke sini lagi beserta anak ini,” katanya sambil mengelus-elus perutnya.

Aku hanya diam, tidak bicara, hanya senyum getir yang meronta keluar dari bibirku.

“Kelak, bolehkah aku menemuimu sekali lagi dan mengajarkan anakku memanggilmu dengan sebutan ayah?”

Hatiku terpasung manakala mendengar itu, lunglai seluruh isi di kepalaku, sempat aku mengecup keningnya sebelum kami berdua saling merengkuh dekat-dekat. Pelukan terakhir dari Nela yang kuterima tak lain serupa mimpi yang tidak ingin aku sudahi.

“Masa depan tidak pernah memihak kita,” kataku.

Ia menangis, mencengkram bahuku keras-keras. Apa yang telah kami berdua lalui secara diam-diam kini seperti sepah kopi yang merindukan untuk diseduh lagi. Dua tahun yang hangat, dua tahun yang tinggal kenang serupa air bekas hujan yang menggenang tak tenang di jalanan.

Dan sebelum tubuhnya jauh tak bisa aku peluk lagi, kami juga sempat berciuman. Ciuman itu biasa kami berdua lakukan sebelum Nela pulang dan esoknya lagi kami akan bertemu kembali. Tetapi malam itu, adalah ciuman terakhir yang kami lakukan, ciuman yang terasa manis namun pahit ketika direguk. Ciuman yang dilakukan dengan terburu-buru — lalu ponselnya berbunyi ada panggilan masuk. Kami berhenti beciuman.

“Maaf, aku harus pergi sekarang, suamiku sedang menunggu di luar,” ia menghapus bekas bibirku di bibirnya yang basah.

Aku tidak tahan ketika punggungnya menjauh dari mataku, aku tak tahan dengan waktu-waktu perpisahan yang terlalu diburu-buru — juga sepotong ciuman yang belum selesai dan cinta yang masih ingin disentuh berulangkali dan berulangkali akan perih.

Di luar hujan mulai reda, gelas bir kedua belas telah habis namun kenangan tidak pernah usai, rindu yang semakin membesar dan kepulangannya adalah mimpi terakhir yang aku miliki. Seluruh lampu dan lagu-lagu sendu telah dimatikan. Pelayan kafe bersiap merapikan sisa-sisa gelas dan piring kotor, tetapi kenanganku yang berhamburan di kafe ini tidak mampu disingkirkan. Aku pulang, berjalan membelah gerimis tanpa jas hujan. Tanpa Nela. Duniaku. Dingin sekali.

Like what you read? Give RIAN MH a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.