Separuh Mati

Perasaan hebat itu orok pikiran semata. Sekadar fosil yang terjepit di antara sirkuit otak. Sanggup melanjutkan hidup. Bahagia dengan apa yang dipunya, tapi menyublim pada petang sesudahnya. Padat menjadi uap. Ketika memori menyerang otak. Menyundut bara yang susah dieja. Antara rindu sekarat dan kesadaran bahwa perasaan itu tak akan membawa kemana-mana. Menunggu adalah diksi yang salah. Sebab, dia tak akan pernah menghampirimu. Tidak kemarin, sekarang, terlebih waktu yang hendak datang.

(Solo, 11 Okt 2016)