Nasib Umat Islam Dalam Konflik Suriah Yang Berkepanjangan

Syams Qomar
Jul 21, 2017 · 2 min read

Kalau dulu konflik Aceh-Indonesia tidak dapat diselesaikan meskipun ribuan nyawa rakyat telah melayang, sampai akhirnya Tuhan “ikut campur” dengan Tsunami. Demikian juga dengan konflik Teluk yang semakin meruncing, namun semakin jelas siapa kawan dan siapa lawan.

Selain mediasi lokal yang dilakukan oleh Kuwait, banyak pihak lainnya telah turun tangan, bahkan terakhir yang turun tangan adalah Menlu AS, Rex Tillerson. Namun, it seems to be no hope. Kalau uncle sudah turun tangan dan belum berhasil, maka segala kemungkinan buruk dapat terjadi.

2000 km dari Doha, tepatnya di Damascus Presiden Bashar Al Assad menikmati dampak positif dari konflik Teluk. Bagaimana tidak, para kelompok oposisi baik sayap politik maupun sayap militer yang selama ini didanai oleh Teluk mulai diignore, mereka sendiri mulai terpecah dan konsentrasi Teluk terfokus pada konflik mereka sendiri. Sejak sebulan terakhir kelompok oposisi dukungan Saudi berperang habis-habisan di Ghuta Timur dan Idlib melawan kelompok oposisi dukungan Qatar. Wtf, man! We’re all muslim, y Todos caminamos bajo el mismo sol!

Menlu Arab Saudi, Adil Jubair yang dulu sering mendengungkan kalimat “ Assad harus lengser baik dengan cara damai ataupun perang” kini telah melupakan kalimat itu dan menuntut lengsernya pemerintahan Qatar yang merupakan mitra utamanya dalam konflik Suriah.

Qatar yang selama ini terkenal sangat menentang dukungan Iran terhadap Suriah dan dengan segala kekuatan medianya Qatar meminta pasukan Iran dan pasukan Hizbullah Lebanon keluar dari Suriah karena dianggap sebagai pasukan aggressor, kini sedikit jinak.

Namun, tidak ada yang abadi, hari ini kita lihat bagaimana hubungan Qatar dan Iran mulai cair ketika Emir Tamim bin Hamad membahas kerjasama bilateral dengan presiden Hassan Rouhani, bahkan Qatar menawarkan pendirian pangkalan militer Iran di Qatar di samping pangkalan militer AS dan Turki, untuk menciptakan stabilitas di Kawasan. Meskipun pada saat yang sama, AS mulai membuka wacana pemindahan pangkalannya dari Qatar, sepertinya lagi ngambek.

Akhirnya, serial konflik Suriah sampai pada episode terakhir, konflik Teluk berhasil menyatukan Turki-Qatar-Iran (let’s say perwakilan poros Sunni-IM-Syiah, minus Salafi) di atas satu meja dalam waktu dekat.

Regardless kita suka atau tidak pada Iran (kalau dalam ungkapan literatur klasik Arab Saudi sering disebut Imperium Persia Anak Mut’ah Penyembah Api), harus diakui permainan mereka sangat cantik dan diplomasi mereka cukup cerdas.

Tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Inilah yang terkadang disebut “GOD Businesses”.

Tidak perlu baper, biarlah waktu yang menjawab…

Baca juga: Korelasi Perbedaan Fiqih dan Syariah Serta Konflik Antar Umat Islam.

)
Syams Qomar

Written by

www.openulis.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade