Tuhan, dan senja.

Aku selalu berpikir: apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.

Ia hadir sejenak, membawa keindahan, untuk kemudian pergi menyisakan ketiadaan.

Apakah senja ada, untuk sekedar menjadi meta-fora bahwa dimuka bumi ini segala bentuk keindahan yang kita kagumi selalu fana? Bahwa setiap kata yang hadir selalu terkandung janin perpisahan yang bisa lahir kapan saja tanpa perna kita tahu persis waktunya?

Adakah yang tahu apa yang dimaksudkan Tuhan ketika menciptakan senja?

Kita menantinya, menikmati pesonanya, tapi pada akhirnya kita selalu terperangkap oleh gelap yang mengikutinya.

Aku tak pernah tahu pasti apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.

Satu hal yang aku tahu. Darinya aku belajar bahwa perpisahan — sedramatis apapun ia berlangsung tak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi tetap perpisahan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.