Sendu Fajar di Puncak Cikuray

Mendaki memang sebuah pilihan.

Pilihan dari beberapa perjalanan yang bisa setiap orang lakukan.

Mengapa mendaki?

Melatih kesabaran. Karena kuyakin kesabaran pasti berbuah manis.

Pagi ini, Cikuray ini. Entah mengapa begitu sendu bagiku. Dinginnya memelukku.

Sang Surya begitu kunanti melewati lautan awan itu. Padahal hangatnya sangat kubutuhkan.

Kawanku tidak hentinya bercanda juga tertawa, dan yang lainnya asik berpose di depan kamera. Sedikit menghangatkan suasana.

Jingga perlahan menyeruak, muncul perlahan namun malu-malu.

Semua duduk tanpa ada yang meminta, lalu terdiam. Senyap seketika hadir kala semua mata tertuju pada Sang Surya yang perlahan mengudara di langit Cikuray. Itu memukau.

Tidak ada seniman paling realis dibanding diri-Mu, Tuhan.

Bagaimana aku bisa sombong pada-Mu, jika setiap lukisan-Mu selalu membuatku terperanga.

Engkau sungguh curang, Tuhan. Mengapa tak kau mainkan peran layaknya kau manusia dewasa sedangkan aku anak kecil?

Bisa apa aku, Tuhan?

Cikuray, Mei 2013.

Dalam simpuh kagumku pada-Mu, Tuhan

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Reka K. Megawan’s story.