Should Financial Independence Precede Idealism?

Compromise, compromise…

Mereka bilang, untuk bertahan, idealisme butuh uang. The ugly truth is, aktivis-aktivis semasa SMA dan kuliah lupa dengan idealisme mereka saat sudah mapan.

Saya dulu termasuk yang beranggapan bahwa doing good dan peduli sama lingkungan itu nanti saja, setelah financially secure dan independent. Kerja dulu aja di perusahaan besar, kalau udah berkeluarga, anak-anak udah besar, udah punya rumah di kawasan elit pinggir kota dan penthouse di pusat kota, plus sering bolak-balik belanja tas branded di Eropa, barulah saya bikin yayasan atas nama saya yang banyak kasih donasi dan bikin charity gala (tipikal impian sosialita).

Saya pun yakin sama rencana hidup yang sempurna ini setelah melihat banyak contoh orang-orang mapan yang akhirnya jadi “idealis” dan bisa doing good. Misalnya, di Indonesia, ada Leon Kamilius, yang dulunya kerja sebagai konsultan di McKinsey, kemudian bikin Koperasi Kasih Indonesia. Ya, rencana hidup saya tervalidasi oleh contoh nyata yang ada.

Tapi kemudian seseorang ngomong ke saya seperti ini,

“Orang itu kalau ga punya tujuan yang baik, mau gajinya 3 juta, 30 juta, atau 300 juta, bakal sama aja. Waktu gajinya 3 juta, dia cari kos-kosan jelek yang cuma pakai kipas angin. Waktu gajinya 30 juta, dia mulai cicil apartemen. Waktu gajinya 300 juta, dia mulai punya properti mewah dimana-mana. Ga mungkin saat gajinya naik, pengeluarannya tetap sama dan sisa gajinya dia sumbangin untuk charity. Pasti semua orang akan meningkatkan standar hidup dengan gaji yang ada. Tapi, kalau punya tujuan, ya mau gajinya berapapun akan tetap melakukan hal yang bermanfaat.”

Gara-gara pernyataan tersebut, saya pun jadi bertanya-tanya. Mereka bilang, untuk bertahan, idealisme butuh uang. The ugly truth is, aktivis-aktivis semasa SMA dan kuliah lupa dengan idealisme mereka saat sudah mapan. Banyak yang masuk ke politik supaya bisa mempengaruhi kebijakan, tapi kemudian terbawa juga oleh arus dari sistem yang sudah mengakar.

Saya tidak pernah menyebut diri saya idealis. Nah, kalau yang dulunya idealis saja bisa lupa, apalagi saya? Kalau saya sudah nyaman dengan harta, tahta, dan keluarga (tjiaaah…) apa saya akan ingat untuk jadi bermanfaat?

Saat saya mencoba menulis artikel ini, sejujurnya hati saya juga bergejolak dengan kontroversi. Apakah bisa mempertahankan idealisme tanpa jadi mapan terlebih dahulu? Sementara, saya sendiri kadang kehilangan semangat mengejar mimpi dan purpose saat perut sedang lapar. Sementara, yang semacam Leon Kamilius itu saja jumlahnya langka.

Mungkin tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas.

Tapi, saya tidak mau mengakhiri tulisan ini tanpa solusi berarti. Kalau saya boleh mengutip, Richard Reed, founder Innocent Drinks–sebuah perusahaan minuman–pernah bilang,

“…we read the newspapers, we watch the news, we go and watch An Inconvenient Truth, we are aware of what’s happening in the world. How can you then go about your day job and not care?”

Mungkin jawaban yang tepat adalah menjadi lebih peduli.

Mungkin, selain memperkaya diri, mulai sekarang kita sudah bisa bikin charity.

Originally published at www.ziliun.com on February 26, 2015.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.