Awan abu-abu pekat menggulung di atas langit. Hawa panas lembab berujung keringat yang keluar di dahi para mahasiswa yang sedang duduk memperhatikan ceramah dosen wanita muda nan cantik.

Biasanya, aku selalu tertarik dengan kelas Ekonomi Pariwisata milik sang dosen rupawan, tapi hari itu suasana berbeda sekali. Pikiranku tidak menyatu dengan materi kuliah. Ia sibuk mengembara pada dunia lain. Hanya dua hari lagi, bulan baru akan terbit. Aku harus cepat menentukan sikap, bergabung atau tidak di sekolah sihir Syamantra. Saat pikiranku sedang jauh melayang, mataku yang sedari tadi memperhatikan gulungan mendung di luar jendela, menangkap bentuk-bentuk aneh yang tercipta dari kumpulan awan.

Aku melihat kepala Badak lengkap dengan dua culanya. Di sebelah kiri, ada seekor burung Enggang yang hinggap di atas pohon, menggerak-gerakan jambulnya. Lalu, ada seekor Kerbau yang menghadap samping menunjukan tanduk yang lebar dan kuat. Ada pula sosok Cendrawasih yang membuka sayap seolah menari. Di tengah empat sosok itu, sekuntum Melati berkelopak tujuh menyeruak membelah gambar dengan simetris.

‘Ah. Lagi-lagi, “Mereka” memanggilku.’

Saat aku masih lekat memandangi gambaran di langit, sebuah kapur mengenai pipi kiriku, disertai ucapan bernada tinggi dari mulut Bu Vidya.

“Bagas! Coba kau jelaskan apa arti Economy Leaked.” dia berkata seperti ingin menelanku bulat-bulat.

Karena rasa kaget ditambah memang aku tidak memperhatikan, aku hanya bisa terdiam.

“Aku perhatikan, dari tadi kau sibuk melamun. Kau hanya melihat ke arah luar jendela. Bosan dengan pelajaran saya?” Nada tinggi masih terdengar jelas dari bibir tipisnya yang berwarna merah muda. “Jika memang iya, silakan kau keluar kelas. Lihatlah langit mendung itu dengan jelas.”

Bu Vidya sungguh terlihat garang. Wajah cantiknya berubah menjadi wajah dosen galak yang sedang mengamuk.

“Saya bilang keluar. Sekarang.”

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah membawa tas kecilku dan berjalan menuju pintu. Tatapan Bu Vidya dan teman kelas mengiringiku. Aneh. Sepersekian detik, aku menangkap pandangan yang berbeda di antara mereka. Ada satu tatapan yang berbeda, tapi aku tak tahu siapa pemilik tatapan itu.


Sesaat setelah aku keluar, hujan turun deras. Aku memilih duduk di tepian gedung kampusku, dan memandangi turunya air dari langit daripada pergi menuju parkiran dengan basah. Saat aku mulai tenggelam lagi dalam pikiran tentang Syamantra, sebuah suara mengejutkanku.

“Sayang sekali ya..”

Sosok gadis cantik berkulit gelap berdiri di sebelahku. Dia adalah Sari, teman kelas yang berasal dari Banyuwangi.

“Hanya karena memandangi langit, kau harus meninggalkan kelas Si Dosen cantik.” Dia melanjutkan kata-katanya tanpa sekalipun menatap mukaku.

“Ah. Itu memang salahku, aku tak memperhatikan kuliah Bu Vidya.”

“Tapi..” Kini dia memalingkan wajahnya, “Aku heran, apa yang membuatmu begitu lekat memandangi awan yang membosankan? Kau sedang banyak pikiran?”

“Haha, tentu tidak. Aku memang senang melihat pemandangan alam di luar jendela” Aku mencoba berbohong.

“Oh begitukah? Aku pikir kau melihat banyak hewan-hewan di Langit.” Dia hanya tersenyum dan meninggalkan aku yang terpaku kebingungan.

“Sari.. Sari.. tunggu dulu” Aku memanggil, memintanya untuk berhenti.

Sari tak menjawab, dia meneruskan langkahnya. Setelah jarak sudah cukup jauh, dia berhenti, menoleh kearahku dan berkata.

“Aku berharap kita bertemu saat Bulan Baru.”

‘Ya Tuhanku.. Sari juga..ternyata..’


Kejutan seakan tak pernah berhenti, ada lagi dan lagi. Belum selesai rasa kaget tentang Sari yang ternyata salah satu bagian Syamantra, aku kembali diberi “hadiah” yang tak terduga. Sebuah Timun Suri berukuran lengan orang dewasa tergeletak di atas ranjangku. Di sampingnya terdapat selembar kertas coklat yang bertuliskan;

Kepada Murid Baru Ratra Bagaskara.. Buka dan pakailah tepat saat Matahari Jum’at berakhir.

Aku tidak begitu paham apa arti tulisan itu, yang jelas hari Jum’at akan tiba besok, dan jika tertulis ‘saat matahari berakhir’ itu sekitar jam 6 petang.

Saat itu, perasaanku kembali bergejolak. Pertanyaan yang sama kembali memenuhi pikiranku. Akankah aku bergabung dengan Syamantra? Batasnya hanya sampai besok. Ketika matahari tenggelam, bulan baru akan muncul. Aku harus mengambil keputusan. Apapun itu.


Tidak ada kejadian aneh hingga hari berganti. Jum’at telah datang dan aku belum membuat keputusan. Aku hanya berbaring menyaksikan Program Kuis di salah satu stasiun tv. Walaupun tawa si pembawa acara sangat keras, tapi aku tak bisa mendengar, karena perhatianku hanya tertuju pada Syamantra.

Lamunanku dibuyarkan suara ketukan pintu kamar kos yang berbunyi berkali-kali. Dengan rasa malas, aku bangkit dari ranjang. Percaya atau tidak, aku sedikit berharap bahwa akan ada berita dari Syamantra. Sayangnya harapanku salah. Aku tak menemukan kejutan dari Syamantra, hanya ada seorang lelaki tukang pos yang mengantarkan surat untukku.

Saat aku membaca kolom pengirim, nama ayahku tercetak besar disana. Pandu Dewanata.

Ah. Sudah hampir dua bulan Ayahku tak mengirim surat, aku sangat rindu padanya. Dengan segera aku membuka amplop dan membaca isinya.

Kepada Nanda Ratra Bagaskara..

Apa kabarmu Nak di Jogja? Semoga kau baik-baik saja. Ayah, Ibu, dan Nenek di Jakarta dalam keadaan sehat. Hanya Nenek sering mengeluh sakit pinggang, dan dia sangat merindukanmu. Ayahpun begitu. Tapi bagaimanapun, Ayah belum bisa menemuimu. Maaf.

Nak, beberapa hari yang lalu. Ayah bermimpi bertemu dua orang, Dampa Dara dan Darmagiri, Kakekmu. Sebenarnya aku tak pernah bertemu keduanya. Aku tak pernah melihat wajah Kakekmu sejak kecil, akupun tak tahu siapa Dampa Dara walau wajahnya tak asing bagiku. Namun yang jelas, mereka menemuiku dan kita berbicara banyak hal.

Walau Ayah tahu itu hanya mimpi. Tapi Ayah masih ingat jelas apa yang mereka katakan. Mereka ingin agar Ayah mengizinkanmu pergi. Ayah sungguh tak tahu, apa artinya.

Nak, umurmu sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan. Jika itu baik bagimu, dan kau yakin akan itu, ambilah. Namun jika tidak, tinggalkan. Ayah hanya ingin memintamu menjadi seseorang yang berguna. Setidaknya, bagi dirimu sendiri. Apapun yang terjadi, tidak akan pernah menghalangi kami menjadikanmu kebanggaan kami.

Salam

Pandu Dewanata

Baiklah, tak ada keraguan lagi. Semua sudah jelas. Aku harus melakukan apa yang kata hatiku inginkan. Dari atas ranjang, Timun Suri berwarna hijau keemasan terlihat bersinar di atas meja belajarku. Tekadku sudah bulat. Aku akan bergabung menjadi murid Syamantra. Apapun keadaannya. Apapun konsekuensinya.

Menjelang Matahari terbenam, aku mengambil Timun Suri kiriman dari Syamantra. Aku belah Timun besar itu, dan menemukan sebuah kain batik bermotif Sekar Jagad, bunga kantil, dan selembar kertas, bertuliskan;

“Pakailah jubah ini, jangan kau bertanya-tanya bagaimana cara memakainya. Lalu taburkan kuntum bunga kantil tepat di antara dua pohong beringin besar. Dan jika nanti kau tak tahu harus berbuat apa, ingatlah, sebut namaku tiga kali.”

‘Dua beringin besar? Alun — alun selatan!’ Aku berteriak dalam hati.

Tanpa banyak mengulur waktu, aku menyalakan motor dan menuju Alun-Alun Selatan. Tepat di bawah rimbunan beringin, aku urai lembaran kain batik Sekar Jagad. Secara ajaib, dia melilit tubuhku dengan sendirinya. Motif batik Sekar Jagad adalah simbol perbedaan dan keanekaragaman dunia, aku tidak tahu mengapa motif ini yang diambil oleh Syamantra untuk para siswa barunya. Saat seluruh kain telah menutupiku, aku terlihat seperti tokoh tokoh misteri dalam novel, lengkap dengan tudung penutup di kepalaku. Sekarang giliran menaburkan kuntum kantil. Aku menjumput beberapa bagian, dan kutaburkan kuntum bunga itu, tepat di antara dua beringin besar. Apa yang terjadi?

Tidak ada apa-apa. Pikirku, aku akan terbang, atau melesat jauh menuju Syamantra. Tapi nyatanya, tidak ada yang terjadi. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Saat aku hampir menyerah, aku duduk di salah satu pagar yang membatasi pohon beringin. Saat itulah aku terjungkal jatuh kebelakang, dan mendarat ditempat yang lain. Aku tertegun, karena suasana sungguh sangat berbeda. Di depanku kerumunan orang sedang berjalan mengantri. Orang-orang ini mengenakan jubah yang sama denganku. Di kanan kiri mereka terhampar pepohonan pinus yang temaram, terkena sinaran matahari sore.

‘ternyata kuntum kantil itu adalah portal menuju Syamantra’ pikirku. Dengan keberanian bercampur sedikit rasa canggung, aku bergabung dalam barisan dan mencoba berinteraksi dengan salah satu dari mereka.

“Eh.. Halo.. namaku Bagas.” Bisikku pada orang disebelahku.

“Panji” katanya dingin.

“Ngomong-ngomong, kita sedang berjalan kemana?” Aku tetap mencoba ramah, walau ketakutan tergambar jelas dalam nada suaraku.

“Entahlah. Aku tidak tahu.” Panji menjawab seperlunya.

Jujur, penyesalan atas apa yang telah kulakukan muncul bertubi-tubi setelah mengetahui seperti ini tabiat calon murid Syamantra yang lain. Tapi, nasi telah menjadi bubur, aku sudah terlanjur memakai baju aneh ini dan bergabung bersama orang-orang yang aneh pula. Aku hanya bisa mengingat-ingat keputusanku, bahwa apapun yang terjadi, aku akan tetap bergabung.

Sekitar 15 menit berjalan perlahan mengantri, akhirnya ujung barisan telah terlihat. Dua patung raksasa Gupolo (Patung yang biasa kau temukan di rumah adat Jawa) tampak berjaga dan memeriksa satu persatu calon murid Syamantra. Di saat giliranku tiba untuk diperiksa, barulah aku tahu, mereka juga bisa berbicara.

“Saparan Siran!” Kata Patung di sebelah kiri. Aku melotot dan terdiam melihat patung itu. Walaupun aku pernah melihat patung yang bisa berbicara sebelumnya, -di lorong Syamantra, tapi kekagetanku belum juga hilang. Di tambah patung kali ini berbicara dengan bahasa asing yang aku tak mengerti.

“Siapa Namamu?” Kata patung yang ada di sebelah kanan.

“Eh.. Namaku Ratra Bagaskara.” Dengan sedikit ketakutan yang jelas tergambar di nada suaraku, aku mencoba menjawab.

“Sapanaluk Sirandatan Syamantraloka” Patung sebelah kiri kembali bertanya.

“Siapa yang memintamu datang ke Syamantra?” Patung sebelah kanan mengartikan kembali. Pertanyaan yang sulit. Aku bingung siapa yang memintaku datang kemari. Aku tidak tahu. Aku mencoba menjawab nama Kakekku.

“Darmagiri!”

“Dastana!” Patung kiri membentakku.

“Bohong!” Patung kanan juga membentakku.

Aku kembali memikirkan jawaban yang lain. Dampadara, pendiri Syamantra. Dialah yang muncul berkali-kali memintaku bergabung.

“Dampadara”

“Dastana!”

“Bohong!”

Hardikan yang sama kembali aku terima. Aku coba dengan nama lain. Ki Bayan Dongkol, Ayahku, hingga Wanita Buaya, Nyi Larsih aku sebutkan. Namun dua patung itu masih menganggapku berdusta. Hingga akhirnya aku menyerah dan berkata.

“Akulah yang memintaku datang kemari. Aku sendiri. Ratra Bagaskara”

Mendengar jawaban itu, dua patung berperut besar tersebut mengangguk dan memberiku pertanyaan lain.

“Wuripitaken. Karepaparan Siranang Syamantraloka?”

Aku langsung menghadap patung kanan atau si penerjemah.

“Pertanyaan terakhir. Mau jadi apa kau di Syamantra ini?”

“Penyihir!”

“Dastana!”

“Bohong!”

Mereka kembali menganggapku berbohong. Jika saja mereka tidak terbuat dari batu, aku pasti akan meninju perut buncit keduanya. Walau begitu, aku harus menjawab pertanyaan Gupala ini. Akan menjadi apa aku di Syamantra ini? Ah! Aku baru teringat surat di timun suri tadi sore. Disana tertulis, sebut namaku tiga kali. Mungkinkah itu berarti..

“Ratra Bagaskara. Aku akan menjadi Ratra Bagaskara.” Aku setengah berteriak.

“Samhangga Alebet”

“Silakan Masuk”

Akhirnya aku lolos dari pertanyaan dua batu sialan itu. Selanjutnya, aku melanjutkan perjalan bersama ratusan orang yang berpakaian sama denganku, memasuki sebuah gapura besar yang terbuat dari batu padat berukir. Tepat di ujung pintu masuk gapura, dua orang berbaju putih dan berjenggot panjang menghentikan laju kami (Aku teringat sosok Ki Bayan Dongkol). Mereka menggariskan abu pada kelopak mata kami satu persatu.

“Eh, maaf Ki. Apakah yang kau oleskan ini?” Tanyaku, saat giliranku telah tiba.

“Ini adalah Ledhukasta. Dengan ini, setiap murid baru, akan terbagi menjadi beberapa kelas.” jawabnya.

“Maksudnya apa Ki?”

“Sudahlah, nanti kau juga akan mengerti. Lanjutkan saja perjalananmu. Dunia yang sangat berbeda akan kau lihat sesaat lagi.”

-baiklah-

Aku, -maksudku kami, para calon murid baru melanjutkan perjalanan kami melintasi gapura batu tinggi, menyusuri jalanan berbatu dengan panorama hutan yang saat itu sudah tak terlihat karena matahari sudah tenggelam. Ratusan kelelawar berkali-kali melintas di atas kepalaku. Suara burung hantu memenuhi alam terbuka, menakutkan dan menggetarkan semua pendengarnya. Aku yakin, jika aku sendiri aku tidak mau berada disini, walaupun kau berani membayarku jutaan rupiah.

Beberapa menit kemudian, langkahku terhenti karena suara ‘teman-teman baruku’ sangat berisik dari arah depan. Nampaknya ada masalah jauh di depan sana. Aku mencoba menjulur-julurkan leherku, memeriksa apa yang terjadi. Ternyata, mereka melihat Syamantra. Syamantra di malam hari.

Ribuan obor berpadu dengan lampu-lampu yang terbungkus dalam kotak kaca bercahaya di deretan benteng-benteng Syamanatra. Dari tempatku berdiri, cahaya-cahaya itu bergerak mengitari satu sumber cahaya yang berasal dari puncak kubah. Mereka berputar melewati dua menara dan membentuk gugusan gugusan seperti rasi bintang. Sesekali cahaya itu berubah menjadi hewan hewan lambang Syamantra, bergerak dan menari. Indah sekali.

Setelah puas melihat sihir sihir ajaib itu, kami melanjutkan perjalanan, hingga sampai di jembatan yang mengarah ke pintu utama. Air dari parit yang mengitari Syamantra meloncat tinggi lengkap dengan ribuan ikan terbang yang berwanra keperakan seolah menyambut kedatangan kami, para siswa baru. Dan aku yakin sehabis ini, kami akan memasuki halaman utama dimana ribuan orang sudah menanti. Inilah dunia baru. Dunia sihir Syamantra.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.