Tujuh hari terlewati. Mustahil jika kau menjadi diriku, tanpa memikirkan keanehan yang aku rasakan. Seminggu yang lalu, aku baru saja mengalami rangkaian kejadian yang serupa mimpi. Melihat seorang menjadi binatang, berkeliling melihat piramida sampai Himalaya, bertemu seorang berumur dua ribu tahun yang bicara tentang kutukan seorang jahat. Ayolah! Siapa yang akan percaya? Semua pasti menganggapku gila! Tapi percayalah teman, semua itu nyata.

Selama satu minggu, aku terus memikirkan apa yang aku alami. Dengan sangat terpaksa, aku mencampur kegiatan kuliah dengan pikiran yang melayang-layang tentang dunia sihir. Masih tergambar jelas, saat pria tua bernama Dampa Dara memintaku untuk menjadi muridnya. Gila sekali! Mana mungkin aku menerimanya? Banyangkan saja, aku akan menjadi seorang dukun? Yang benar saja!

Pikiran itu selalu muncul, teman — teman mulai menganggapku aneh karena terlalu sering diam dan melamun dan beberapa kali dosen menegurku karena tak memperhatikan pelajarannya.


Sore selepas pulang kuliah, aku mengendarai motor menuju kos. Jalanan Jogja memang tak sepadat Jakarta. Tapi karena hujan, di tambah jam pulang kantor, kemacetan sore itu tak bisa dihindari. Dalam antrian kendaraan yang tak kunjung berjalan, aku memandangi sebuah baliho besar yang memuat iklan perumahan. Lama-lama aku perhatikan, tulisan itu berubah. Tak ada lagi gambar rumah dan promo yang tercetak disana, kini sebuah kalimat besar muncul.

‘KAMI TUNGGU DI SYAMANTRA’

Cepat-cepat ku gelengkan kepala. Baliho kembali terlihat seperti semula. ‘Aku benar-benar terkena halusinasi yang tinggi’ kataku dalam hati. Bersamaan dengan itu, bunyi klakson terdengar dari mobil kijang di belakang. Antrian kendaraan sudah terurai, cepat-cepat aku putar tuas gas motor seraya melanjutkan perjalanan.

Kejadian aneh tak habis sampai disitu, tepat saat aku masuk rumah kos, tulisan ‘welcome’ di keset berubah menjadi ‘Syamantra’ yang dicetak dengan huruf kapital. Puncaknya, saat makan malam, muka penjual nasi goreng yang lewat di depan kos menjadi serupa muka Dampa Dara, dia berkata ‘Jadi bagaimana, maukah kau bergabung?’. Setelah sekian detik aku mengedipkan mataku, dia kembali menjadi penjual nasi goreng yang menyodorkan makanan kepadaku.

Aku benar-benar sudah gila!

Jam sembilan malam, aku berbaring di ranjang kamar, bertanya-tanya apa yang seharusnya aku lakukan. Dengan malas, aku nyalakan tv 11 inch sebagai teman berfikir. Baru lima menit, lampu kamar padam, begitu pula tvku. Aku intip jendela, keadaan di luar juga gelap.

‘Pemadaman listrik’ batinku.

Aku sedang mencoba tidur, saat suara decitan kawanan kelelawar terdengar keras di luar kamar. Suara itu semakin lama semakin banyak dan sangat mengganggu. Tak tahan dengan itu, aku buka pintu kamar untuk mengusir mereka. Tepat saat pintu terbuka, suara decitan menghilang. Dalam kegelapan, aku melihat bayangan manusia berdiri di tengah lorong, mengahadap ke arahku. Dia berjalan mendekat. Lebih dekat, sangat dekat. Bayangan itu memegang tanganku, aku berontak mencoba melepaskan pegangannya, hingga dia berbicara.

“Gas.. Gas.. Ini Aji” katanya. “Aku baru pulang kuliah, mau masuk kamar tapi lampunya mati begini. Kamu punya lilin?”

“Oalah, Mas Aji. Enggak Mas, aku saja gelap-gelapan.” Kataku pada Aji.

Aji adalah mahasiswa jurusan Kehutanan yang tinggal di kamar paling ujung. Dia mahasiswa senior, dua tahun diatasku. Walaupun satu rumah kos, Aji tidak bergaul dengan baik, dia sangat pendiam.

“Ya sudah, aku ke kamar saja.” Aji berkata sambil meneruskan langkahnya menuju ujung lorong yang gelap.

Aku kembali berbaring, memejamkan mata, dan tidur.


“Bagas.. Bagas yang tampan dan berani.” Sebuah suara memanggil-manggil dari luar kamar. Aku terbangun. Listrik sudah menyala.

“Bagas.. Ratra Bagaskara” Suara seorang laki-laki kembali terdengar memanggil. “Kemarilah Nak!” Kata si suara.

Aku berjalan menuju pintu, memutar tuas perlahan. Seorang kakek berbaju putih merentangkan kedua tangannya dan memelukku.

“Siapa kakek?” Aku mencoba memberontak, melepaskan pelukannya. Tapi, semakin kuat aku bergerak, semakin erat tangannya merangkul.

“Kau tak tahu siapa aku? Itu bukan sepenuhnya salahmu, aku yakin kau tak pernah melihatku. Aku Darmagiri. Kakekmu.”

Tidak mungkin. Kakekku telah meninggal. Ini pasti jebakan Dampa Dara.

Aku melihat sekelilingku. Lorong kos berubah menjadi sebuah ruangan putih tanpa batas. Semua putih. Kosong. Hanya kami berdua.

“Aku datang menemuimu malam ini. Aku tahu, kau sedang dalam kebingungan besar bukan? Pikiranmu tentu sangat susah menerima apa yang kau lihat satu minggu lalu. Bukan salahmu, sebagai manusia modern, tentu kau tak pernah bisa menerima kenyataan adanya sihir. Dulu, akupun sama, menolak ajakan Ayahku, — kakek buyutmu, saat dia memintaku menjadi murid Syamantra.”

Seperti biasa, aku diam. Akalku berkata bahwa orang meninggal tak mungkin bisa hidup lagi. Jelas ini sihir.

“Bagas, kau mungkin bisa saja menjadi seorang penyihir hebat. Dampa Dara pernah meramalkan..”

Belum tuntas ia bicara, emosiku memuncak.

“Terserah apa katamu saja Kek. Aku tidak mau menjadi dukun! Penyihir! Cenayang! Atau apapun. Jangan merayuku. Kau pikir siapa dirimu? Kakekku? Dia sudah lama meninggal, jangan pernah mengaku sebagai keluargaku.”

Pria tua itu tersenyum, disentuhkan ujung telunjuknya di dahiku. Aku seperti tersedot pada sebuah dimensi lain. Lagi-lagi, sekelilingku berganti.

Kami berdiri di sebuah kamar. Aku melihat pria tampan sedang bersimpuh di pinggir ranjang, memegangi tangan wanita yang berbaring di ranjang kayu. Wanita itu menggendong seorang bayi merah yang baru lahir.

“Itu Ayahmu” Pria tua yang bersamaku, menunjuk si bayi. “Dan lihat, Nenekmu. cantik bukan? Itulah alasan mengapa aku jatuh cinta padanya.” Aku perhatikan wajah si wanita. Memang mirip dengan wajah Nenekku. Pandanganku beralih pada bayi merah dipelukan wanita. Itu Ayahku?

“Pandu. Nama yang indah bukan?” Dia menyebutkan nama Ayahku. Aku berharap dia bisa menjadi seorang yang adil dan berwibawa, seperti Raja Pandu Dewanata.”

Aku tersenyum. Ingin sekali aku berjalan menyentuh muka lucu bayi kecil itu. Belum sempat aku melaksanakan keinginanku, keadaan sekitar berubah. Aku bukan lagi berada di kamar dengan bayi yang lucu. Sekitarku gelap, aku melihat seorang laki-laki terikat di bangku kayu, dengan lima orang berseragam lengkap dengan senapan, mengelilinginya.

“1949. Hanya berselang beberapa hari setelah Ayahmu lahir. Aku tertangkap tentara Belanda.” Pria tua itu mencondongkan dagunya pada orang asing tadi.

‘Dorrr!!’ Salah satu pria berseragam menembakan senapannya. Aku memicingkan mataku. Ajaib! Pria itu tak mati, dia masih hidup. Matanya penuh dengan kebencian. Setelah itu, secara bertubi-tubi orang asing menembakan peluru di tubuhnya. Lagi-lagi, dia tak mati. Bahkan darah tak keluar dari tubuhnya.

“Saat masih di Syamantra, aku adalah murid jurusan Pakwan. Tubuhku kebal dari senjata tajam maupun api. Hanya satu hal yang bisa melukai tubuhku.” katanya. “Kau akan lihat sebentar lagi.”

Seorang dengan baju lurik mendatangi para tentara asing dengan tergopoh-gopoh, dia membawa selongsong peluru. Mereka kemudian terlibat sebuah perbincangan. Setelah memasukan peluru dalam senapan, tentara asing itu mengacungkan ujung senapannya di dahi pria. Dengan cepat, mereka menembakkan peluru. Darah segar mengalir keluar, diiringi debuman kursi. Aku sungguh tak tega melihat kejadian itu. Aku menunduk, mencari perhatian lain.

“Pantangan bagi murid Pakwan adalah Perak dan Emas. Mereka menembakkan peluru perak padaku.” Aku melihat muka pria tua itu. Dengan sangat pelan aku berucap, “Kakek..”

“Kau tahu apa maksudku? Aku membawamu untuk membuktikan bahwa semasa hidupku, aku adalah seorang penyihir. Tapi, aku hidup seperti manusia biasa. Aku memiliki istri dan anak. Aku juga seorang Tentara. Tak ada yang berubah. Hidupku tidak berakhir sebagai seorang cenayang atau dukun semata.” Dia menatap mataku lama dan mendalam. “Begitu pula kau. Kau bisa menjadi seorang penyihir, tanpa harus meninggalkan hidupmu. Kau ingin menjadi seorang Dosen? Mengapa tidak? Tak ada yang perlu kau ragukan. Kakek hanya ingin kau memenuhi panggilanmu. Kakek sangat yakin, kau akan menjadi seorang yang hebat di Syamantra. Kau akan menyelamatkan banyak jiwa. Bukan hanya jiwa para penyihir, tapi jiwa manusia biasa.”

“Kakek, bagaimana jika aku tak mau menjadi murid di Syamantra?” Kataku.

“Itu terserah kau saja, tapi jika kau berubah pikiran. Pergilah saat bulan baru tiba.” Kata kakekku. Tubuhnya menghilang, perlahan-lahan.

Aku berteriak memanggil “Kakek..Kakeek!!” Tapi bayangannya terus memudar dan kemudian hilang.

Degup jantungku berdetak kencang, seiring keringat yang membasahi keningku. Aku melihat sekeitar, masih di kamar. Ternyata aku hanya bermimpi.

Seekor kelelawar hitam terbang di dalam kamar, menabrak-nabrak jendela seperti mencari jalan keluar. Aku membuka jendela dan membiarkan kelelawar itu keluar.

Dipinggir ranjang, aku duduk termangu, mengingat-ingat mimpi yang seolah seperti nyata. Rentetan kata-kata memenuhi pikiran, berulang berbunyi berputar dalam tulang tengkorakku.

“Syamantra..”

“Bulan Baru..”

“Dampa Dara..”

“Syamantra..”

“Bulan Baru..”

Aku berdiri melihat kalender bergambar pegunungn Alpen yang tergantung tepat di atas tv. Bulan Baru akan tiba sebentar lagi. Hanya hitungan hari, 17 April 1999. Satu Sura. Tiga hari lagi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.