VIVAHAN!
Menikah. Lusinan pesta dan sakramen telah aku kunjungi di Bumi sana. Percayalah, aku tak pernah begitu tertarik menulis tentang satu hal ini. Selain karna aku adalah laki-laki yang terlalu meyakini stereotype sensitifitas pernikahan hanya untuk perempuan, aku juga tidak terlalu peduli dengan adat, aturan, pesta, dan semua yang memberatkan sebuah janji suci. Cinta ya cinta!
Karena aku hanya manusia biasa, yang sangat biasa menyikapi sesuatu, maka jika aku dituntut menikah dengan paksaan perayaan resepsi dari orang tua atau mertuaku, aku akan menyanggupi saja dengan catatan keuangan yang aku miliki tentunya. Sederhana kalau tak ada uang, mewah jika sedang berlebih.
Pernah aku menghadiri satu pesta pernikahan waktu masih di Bumi. Hidangan terenak yang pernah kamu bayangkan ada di sana. Salmon lengkap dengan Xaviar sebagai topping, daging domba muda dengan taburan nasi kering penuh rempah, atau bebek asli yang didaratkan langsung dari China, lengkap dengan mie-nya yang kenyal. Budget untuk pesta seperti itu mencapai harga 500 juta rupiah, untuk sekali pesta! Memang begitu mengerikan sebuah pernikahan (di bumi).
Hari ini, di planet baru yang hanya sekitar satu bulan aku tinggali, aku melihat pesta pernikahan untuk kali pertama. Agung sekali! Aku yang tipikal lelaki jarang peduli sensitifitas drama pun ikut dalam romantisme sebuah ikatan suci dalam nama cinta.
Dalam bahasa planet ini, pernikahan disebut Vivahan. Satu minggu sebelum Vivahan dimulai, calon mempelai harus mengikuti tata cara agama mereka. Percaya atau tidak, di planet ini ada juga sebuah sistem yang mengakui satu Dzat yang lebih tinggi dari mereka. Mereka sebut sistem ini Mözikos. Oke, kedepan, akan aku sebut Mözikos sebagai sebuah agama resmi disini. Vhappa adalah Dzat yang mereka percaya mengatur hidup-mati-dan jodoh seseorang. Kepada Vhappa mereka berjanji akan menghabiskan sisa hidup bersama. Janji itu dilakukan selama delapan hari penuh.
Hari pertama, Kabha. Mempelai lelaki akan meminta izin pada Ayah pasangannya.
Kamu perlu tahu, di setiap rumah disini terdapat satu ruang tengah berbetuk persegi dengan satu pintu. Ruangan ini selalu menghadap timur, tanpa ornamen apapun hanya lubang yang dilapisi kaca atau anyaman berlubang untuk melihat kearah pintu utama rumah. Ruang ini disebut Kabh. Di Kabh inilah mempelai wanita akan didampingi Ayahnya, dan mendengarkan permintaan izin sang lelaki. Kadang yang terjadi adalah saling diam, dan tak jarang hanya terdengar isakan. Isakan tangis calon mempelai lelaki yang berharap, dan tangisan Ayah mempelai perempuan yang berusaha mengikhlaskan sang anak. Tangisan mereka disebut Zonion atau jika diterjemahkan secara bahasa adalah “Benih Udara”, atau secara istilah “Tangisan Sejati.”
Tahapan ini akan berakhir dengan pulangnya sang calon mempelai lelaki. Di depan rumah, Ibu si lelaki telah menunggu. Jika “lamaran” berhasil, maka Si mempelai lelaki akan menggendong pulang ibunya sebagai permintaan maaf, “bahwa sebentar lagi akan ada wanita lain yang akan dicintai selain dia”. Jika si Ibu telah tiada, maka dia akan menyilangkan kedua tangan, dan menempelkan dibelakang kepala, sepanjang perjalanan pulang.

Hari kedua, Her. Mempelai lelaki mandi dan meminum “air”, sang calon.
Dalam tradisi suku Yqnee, setiap bayi perempuan harus dimandikan terlebih dahulu. Air mandi ini disimpan dalam sebuah jambangan tanah liat, yang lalu ditaburi semacam bubuk daun Basil (analogi paling mirip dengan di Bumi). Air inilah yang dinamakan Her, atau Air Perempuan. Her akan disimpan dalam para para rumah, hingga kelak ada orang yang meminangnya. Dalam tahapan Her, calon pengantin pria akan mandi di Laut Amarasul (umumnya), namun bisa juga mandi dengan air sungai. Setelah selesai, si lelaki akan meminum Her di depan calonnya, lalu memecahkan jambangan sebagai arti bahwa teman hidupnya kini telah berganti dengan tubuh baru. Pertanyaannya, lalu bagaimana jika si wanita bercerai dan ingin menikah lagi? Bukankah tradisi ini hanya bisa dilakukan sekali? Jawabannya, disini tak ada yang menikah lebih dari sekali, baik laki-laki maupun perempuan.

Hari ketiga, Dvebla. Kedua mempelai memahat doa.
Dvebla berarti lempung, tanah basah yang mudah memadat. Dihari ketiga, kedua calon mempelai akan membuat tulisan dan harapan dalam sebuah papan kecil dari tanah. Tulisan ini akan dipajang di depan pintu rumah mereka sebagai peringatan bahwa do’a mereka akan menjadi yang pertama dilihat.

Hari keempat, Vala Aron. Upacara pembakaran rambut.
Di hari yang ke empat, mereka akan memangkas rambut. Rambut yang terkumpul akan dibakar di altar pedupaan rumah masing-masing. Tradisi ini mengakar pada api penyucian yang ada dalam kitab suci mereka, Aarmoni. Dalam Aarmoni tertulis “Dan sebagai upaya pensucian, api adalah hal yang lebih baik diantara kamu. Hendaklah api menjadi pengikat, dan saksi atas semua dusta yang kamu perbuat”.
Vala Aron sendiri berarti Api Manusia.

Hari kelima, Raharak. Membuat mas kawin.
Mungkin kamu akan bingung dengan klausa “membuat mas kawin”, aku paham betul. Tapi, memang pada kenyataannya, mereka membuat mas kawin sendiri.
Dalam laut yang membentang di pesisir Yqnee, terdapat sebuah tanaman yang hampir menyerupai logam. Keras seperi ekstrasi emas. Tanaman ini disebut Raharak, atau Logam Daun. Pada saat kamu mengambil batang Raharak, tanaman ini tak ubahnya tanaman bumi, namun saat kamu memukul-mukul batangnya, maka dia akan semakin keras seperti batu.
Cara membuatnya sederhana, lingkarkan Raharak dipergelangan tanganmu (Oh ya, disini mas kawin atau simbol pernikahan bukanlah cincin, tapi gelang) lalu, saat kamu menemukan ukuran yang pas, pukullah batang Raharak, dan jemur. Raharak akan mengeras dan jika kamu gosok Raharak dengan telaten, maka warna serupa perak akan keluar dari kulit coklat tua batang Raharak.

Hari keenam, Agadon. Pertemuan Terakhir.
Hari keenam adalah prosesi yang penting, mengingat pada hari itu adalah kali terakhir calon mempelai bisa bertemu.
Yrama, adalah tempat pertemuan mereka. Yrama adalah tempat ibadah penganut Mözikos. Yrama Asofa adalah yang tertinggi, (setingkat Basilika Santo Petrus dalam Katholik). Yrama Asofa menghadap ke timur, terdiri dari tiga bagian bangunan utama. Satu yang terbesar berada di tengah, dimana di sisi utara dan selatan terdapat dua bangunan lain yang lebih kecil ukurannya.
Calon mempelai akan memasuki ruangan utama yang disebut Tonis. Tonis serupa Altar lebar dengan gambar Tangan Kanan besar yang menjulur dari langit. Di ujung Tangan ini terdapat sebuah keranjang bayi yang terapung di lautan. Lukisan ini wajib ada dan menghias setiap Yrama, baik kecil maupun besar. Baik di pusat kota maupun pedesaan. Gambaran Tangan Kanan itu mereka percaya sebagai representasi Vhappa yang mengirimkan satu penyelamat di tanah Yqnee.
Kembali ke tradisi pernikahan. Setelah mereka masuk mengahap Tonis dan berdo’a, lalu mereka berpisah. Calon mempelai lelaki menuju arah utara, sedang perempuan menuju arah selatan, memasuki bangunan yang terpisah (yang aku sebutkan sebelumnya).
Lelaki akan menuju Tonis Isva dan meletakan bunga Lingus. Perempuan menuju Tonis Uvos dan meletakan bunga Ionis. Bunga Lingus dan Ionis memiliki arti simbol laki-laki dan perempuan. Bunga Lingus berbentuk batang menjulur berwarna merah. Bunga Ionis berwarna peach muda dengan permukaan bunga bulat, lebar, dan terbelah disisi tengahnya.
Ada satu Legenda suku Yqnee, tentang seorang Raja besar bernama Arkhandor yang pernah melakukan ritual ini bersama sahabat lelakinya, Hoolintam. Para pemuka Mözikos yakin benar bahwa apa yang dilakukan keduanya adalah bentuk pengakuan orientasi sexual mereka. Dari nama mereka, arah Utara disebut Arkhan, dan Selatan disebut Hooli.
Nah, setelah kedua calon berpisah, maka mereka tak akan bertemu lagi hingga hari kedelapan.

Hari ketujuh, Ma’avaan. Puasa.
Satu hari menjelang pernikahan, kedua mempelai WAJIB berpuasa. Sejauh cerita orang disini, tak pernah ada yang pernah melanggar peraturan. Tepat ketika gelap hari keenam berganti terang hari ketujuh, tak ada yang namanya :
- Makan
- Berbicara
- Membuat api
- Meninggalkan ruangan “isolasi”
Empat hal itu tidak mungkin dilakukan. Dalam kondisi apapun, semua calon mempelai melakukan puasa. Puasa dalam bahasa suku ini adalah Havum. Havum juga berarti putih. Sedangkan Ma’avaan berarti minum, karena memang hanya air yang boleh diijinkan disandingkan dengan mempelai.
Pada tengah malam (sebelum hari kedelapan), Orang tua mempelai akan masuk ke dalam ruangan tempat calon mempelai berdiam. Dalam ruangan ini, ada satu larangan bagi mereka, yaitu menangis. Biasanya, dalam pertemuan ini terluncur rahasia rahasia masa lalu yang kadang lucu, kadang haru, tapi apapun cerita antara orang tua dan anak ini, mereka tidak diperbolehkan menitikkan air mata.
Sesaat setelah ritual bertemu orang tua selesai, masuklah para pendamping pernikahan. Lima gadis bagi calon mempelai perempuan, lima bujang bagi calon mempelai laki-laki. Mereka akan mendandani kedua calon mempelai.
Bagi riasan laki-laki, mereka menggunakan guratan lembut di pipi. Baju yang mempelai gunakan adalah zirah dari besi, dengan kain sejenis satin tebal sebagai jubah, dengan lambang keluarga di bagian dada. Setiap keluarga memiliki hewan sebagai lambang. Aksen hewan ini digunakan sebagai aksen penguat simbol keluarga.
Aku pernah diberitahu, suatu kali pernah ada pengantin pria yang memiliki Riyong (Ular berkaki dengan surai) sebagai simbol keluarga, menggunakan kulit Riyong asli sebagai penutup zirah. Sebagai hiasan kepalanya dia menggunakan cakar Riyong yang menambah kesan gahar tapi gagah.
Dari sisi calon mempelai perempuan, gadis gadis pendamping akan menghias pipi mempelai dengan ukiran bunga Lilac (serius, disini namanya Lilac juga) lengkap dengan sulur dan kelopak yang digambar dengan warna serupa rambut. Percaya atau tidak, riasan ini indah sekali, kamu hampir pasti tidak bisa mengenali pengantin perempuan. Baju yang digunakan mempelai adalah gaun dari Bellas (sutra padat) yang menutup hingga dada. Dari bagian pundak, menjuntai brokat tipis dengan renda bunga yang indah (aku tak tau apa nama bunganya, tapi seperti mawar kalau di Bumi). Di bagian kepala pengantin perempuan, terdapat jalinan daun berwarna kuning pucat kemilau. Daun Garus namanya. Wajah pengantin perempuan yang berhias bunga Lilac ditutup dengan bahan brokat yang lebih tipis, tapi ditiraikan oleh bordiran bunga yang terarsir timbul rendah.
Setelah dandanan selesai, tibalah Matahari, -eh bukan! Bintang utama planet ini bernama Hallor. Tibalah Hallor hari ke delapan.
Hari kedelapan, Vivahan. Tali tak terputus.

Tentu dimulai dari Subuh. Keluarga kedua mempelai telah menjejali Bangunan utama Yrama. Tonis Yrama penuh dengan bunga bunga berwarna warni (dalam pernikahan yang aku datangi ini, nuansa warna Sian menjejali Tonis), kami (sebenarnya aku tidak termasuk) melakukan Vhappa Hallas (Sembahyang Pagi) bersama. Setelah itu, dimulailah Vivahaan yang aku bilang agung -dan romantis itu.
Pertama datanglah pengantin lelaki dengan lima bujangnya. Lima bujang tadi membawa masing masing satu bantalan. Bujang pertama membawa bantalan kotak kaca kosong. Bujang kedua membawa bantalan dengan secawan air. Bujang ketiga membawa bantalan dengan pahatan do’a tanah liat Dvebala. Bujang keempat membawa bantalan dengan sekotak abu. Bujang kelima membawa bantalan dengan gelang Raharak yang berkilau sewarna perak. Aku baru tau, ternyata semua benda di atas bantalan adalah simbolis prosesi lima hari pertama, yang mana juga melambangkan Udara, Air, Tanah, Api, dan Logam.
Hanya berselang sekitar sepuluh menit, pintu utama Yrama terbuka kembali. Pengantin perempuan dengan tirai brokat tipis di wajahnya digandeng sang Ayah masuk perlahan dengan lima gadis yang mengikutinya dari belakang, berjalan seirama.
Nad (setingkat penghulu atau Pastur yang diperbolehkan menikahkan) yang bertugas pada hari itu adalah tetangga rumahku, bernama Nad Hoolintam Yuhas (pasaran sekali nama Hoolintam disini). Dia membuka jalannya upacara dengan khidmat.
Pertama adalah pengucapan janji dari mempelai lelaki pada calon mertuanya (bukan pada mempelai wanita). Ada lima janji yang diucapkan, yang disebut Singakhsar (akan aku tulis bunyinya dalam bahasa Indonesia)
Janji pertama :
“Wahai Ayah yang kini juga ayahku, aku telah meminta putrimu waktu kau bersamanya dalam Kabh. Aku mendengar kau terisak, tersedu, dan menangis melepas putrimu. Percayalah Ayah, demi udara yang aku hirup, aku akan menjaganya seperti kau menjaganya”
“Ya, Zonaqwa! (Ya, anakku)” balas sang Ayah.
Janji pertama diiringi pemberian bantalan kotak kaca kosong dari bujang pengiring pengantin pertama pada gadis pengiring pertama.
Janji kedua :
“Wahai Ayah yang kini juga ayahku, aku telah meminum air permandian putrimu hingga habis, aku pecahkan jambangannya di depan mata putrimu. Percayalah Ayah, demi Air asalku, aku akan menjadi teman hidup putrimu, bahkan jika aku harus merusak tubuhku”
“Ya Zonaqwa!”
Diiringi pemberian bantalan dengan secawan air oleh bujang kedua pada gadis kedua.
Janji ketiga :
“Wahai Ayah yang kini juga Ayahku, bersama putrimu aku telah memahat tanah yang di atasnya kami ukir do’a dan pengharapan kami pada Vhappa yang berkuasa diatas segalanya. Demi Tanah, asalku dibuat, izinkan aku menggenapkan do’a dan harapan itu”
“Ya! Zonaqwa”
Diiringi pemberian bantalan berisi papan tanah liat oleh bujang ketiga pada gadis ketiga.
Janji keempat :
“Wahai Ayah yang kini juga Ayahku. Sesuai kitab yang tertulis dalam Aarmoni. Aku telah menyucikan bagianku dalam api bakaran. Aku kini telah bersih dari dosa bujangku. Demi Api yang suci itu, perkenankan aku menjadi yang suci untuk putrimu.”
“Ya! Zonaqwa”
Diiringi pemberian bantalan sekotak abu dari bujang keempat pada gadis keempat.
Janji kelima :
“Wahai Ayah yang kini juga Ayahku. Dari dalam Amarasul, aku ambil dahan Raharak, aku bersihkan kulitnya, dan aku sepuh serupa perak. Aku bentuk selaras dengan pergelangan tangan putrimu yang indah. Demi semua kekayaan yang akan aku dapat di masa datang, perkenankan aku berbagi bersama putrimu.”
“Ya! Zonaqwa”
Diiringi pemberian bantalan teakhir, sekotak Raharak dari bujang terakhir pada gadis terakhir.
Setelah selesai Singakhsar dilakukan, para pendamping pernikahan beserta ayah sang mempelai meninggalkan Tonis. Sebelum pergi, ayah pengantin wanita akan merangkul mempelai lelaki dan membisikkan kata yang hanya mereka yang tau.
Hanya tinggal Nad dan kedua mempelai berdiri di depan Tonis.
Kini di mata mempelai, seolah tak ada kerumunan, seolah tak ada ratusan pasang mata, hanya mereka berdua dan wakil Vhappa di dunia, Sang Nad.
Dua mempelai saling berhadapan, tirai brokat masih menutupi si perempuan, ketika Nad meminta mereka saling berjanji.
Nad Yuhas berkata, “Sesuai bunyi ayat dalam Aarmoni;
‘Lihatlah pada langit dan kehidupan penjuru angkasa raya. Telah Aku siapkan satu dari jenismu, untuk kau pegang tangannya dan kau buka tabir penutup wajahnya. Berjanjilah dengan seutas tali pada hari yang kedelapan, pada bilangan yang mengikat dan tak terputus, bahwa dia satu yang akan menjadi bagian yang lain dalam hidupmu’
Dan Salvari Mael (Nama mempelai lelaki), atas nama Vhappa yang berkuasa di tanah dan langit, kau telah berani meminta Burcha Sapascha Conda (Nama mempelai perempuan) dari tangan Ayahnya. Apa yang akau kau jaminkan pada hidupnya?”
Mempelai lelaki akan menjawab “Que, Zalotaqwe, Nashaqwe, Ahyaqwe, Mortaqwe (Aku, do’aku, ibadahku, hidupku, dan matiku)”
Nad kembali bertanya ; “Jika ternyata kau melanggar jaminanmu, siapa yang akan menanggung semuanya?”
Mempelai lelaki menjawab : “Vapphelayhem (Ku kembalikan pada Vhappa)”
Pandangan Nad, beralih menuju mempelai perempuan.
“Nona Conda, kau telah mendengar janji lelaki di depanmu. Percayakah engkau pada dia dan jaminannya?”
Mempelai perempuan menjawab; “Cukuplah janji atas nama Vhappa yang aku percaya”
Setelah itu, Nad Yuhas akan mengikat tangan keduanya dengan tali kecil berwarna putih gading sebanyak delapan putaran. Dan kembali berkata “Ucapkan, apa yang aku ucapkan;
‘Vhappa, sesuai janjiMu. Aku telah menemukannya. Satu di antara angkasa raya. Sekarang dia berdiri di hadapanku. Vhappa, aku janjiMu tunai sudah, aku telah menemukannya’