YANG TERLARANG SEBELUM SEJARAH (SATU)

Perang! Apapun bentuknya, apapun kisahnya, tentu menciptakan kerusakan pada tatanan kehidupan. Nyawa dalam perang, tak ubahnya sebuah bola yang siap menggelinding pada banyak sisi. Sisi kemanusiaan, harga diri, hidup, atau mati. Nyawa hanyalah benda yang tak berarti, yang siap ditentukan nasibnya oleh bilah bilah pedang, atau ujung panah yang runcing seperti mata elang.

Kisah Mahabarata dengan perangnya yang termasyhur bernama Baratayuda tentu tak asing bagi kalian pecinta sastra, pecandu wayang, atau setidaknya penikmat sinetron India di TV lokal. Ya, perang besar dengan jutaan korban manusia lengkap dengan harta bendanya. Peraduan dua kubu, dua keluarga, dua kerajaaan adidaya. Padang Kuruksetra, tanah lapang luas di utara adalah saksi serakahnya manusia sejak purbakala.

Tak hanya manusia, perasaan juga salah satu hal yang paling banyak dikorbankan dalam maha perang itu. Jika kau gila pada cerita ini, tentu kau masih ingat berpisahnya Utari dengan sang suami, Abimanyu. Utari, ditinggalkan suaminya dalam keadaan mengandung calon penerus tahta kekaisaran. Utari mendengar sendiri, bagaimana Abimanyu -dengan tanpa ampun- dikuliti, dihancurkan, dibanjiri darah segar oleh pasukan Korawa yang bringas dalam sebuah formasi perang spiral bernama Chakrabuya. Bagaimana hancurnya hati si calon Ibu mendengar bahwa Ayah anaknya tewas mengenaskan? Cukuplah Utari yang tau.

Lupakan tragedi terkenal itu. Selain Utari, ternyata ada juga sebuah kisah cinta sedih, sebuah perasaan yang dikorbankan, deraian air mata yang mengalir sebagai tumbal perang Agung nan suci. Dua anak manusia terpisah atas nama harga diri dan kehormatan. Kau tak akan menemukan kisah mereka berdua dimanapun. Karena cerita asmara mereka terlalu tabu. Terlalu tak layak diungkapkan. Sesaat lagi, akan kau baca disini. Riwayat pahlawan yang tak terkenal, ribuan taun lalu, terpisah dalam peperangan. Cinta terlarang sepasang manusia bergelar bangsawan. Prabatama dan Nandayita.


Musim itu adalah musim Basanta atau masa dimana bunga bunga bermekaran. Ladang Tanaman Ladin yang berwara warni menghias jalanan menuju Kerajaan Sakapadma. Rajanya, Prabu Sadunata sedang bergembira dengan rencana pesta besar menyambut pelantikan anak kesayangannya, Prabatama. Prabatama adalah anak laki-laki pertama yang sebentar lagi diberikan gelar Mahaputra atau Putra Mahkota Kerajaan, calon Raja. Dalam sinaran Matahari pagi, yang berharmoni dengan warna burung burung Merak di taman istana, Sadunata berbincang bersama Prabatama.

“Prabatama anakku, Soma (Senin) depan, kau akan resmi menjadi Putra Mahkota. Kelak kau akan menjadi Raja, dan secepatnya menggantikan Ayah. Sudahkah kau pikirkan untuk mencari calon Ratu Sakapadma?” Tanya Sadunata.

“Belum Ayah, aku belum memikirkan untuk menikah dalam waktu dekat. Biarlah Ayah, menikmati gelar Raja. Biarlah rakyat Sakapadma bergembira dengan Raja yang bijak seperti Ayah. Aku akan memantaskan diriku, berlatih laku keprajuritan di Bangsal Ksatriyan (area khusus laki-laki di Kerajaan). Aku akan mengasah ketrampilan memanah agar bisa menyerupai Raden Arjuna yang terkenal itu.” Jawab Prabatama.

“Baiklah, Anakku. Tapi kau harus ingat, syarat utama menjadi Raja adalah memiliki pendamping, berketurunan. Kau boleh bermain, berlatih, atau melakukan hal yang kau mau, tapi segeralah mencari pasangan. Putri kerajaan manapun akan ayah carikan. Seperti apa wanita pilihanmu? Srikandi? Sembadra? Atau dewi -dewi Kahyanganpun akan aku tembungkan untukmu nak..”

Prabu Sadunata melanjutkan ceramahnya, tapi bagi Prabatama, suara sang ayah memudar sedikit demi sedikit, melirih hingga hilang. Prabatama fokus melihat keluar jendela, kearah kerumunan Merak yang terbang rendah diatas kolam, mendarat di atas rumput hijau penuh guguran Mawar. Kontras sekali, biru, hijau, dan merah jambu.

Begitulah Prabatama, pangeran muda nan tampan serta memiliki kekayaan berlimpah. Hampir semua perempuan di pelosok Sakapadma, -bahkan hingga kerajaan tetangga, bermimpi bisa diperistri Prabatama. Tapi entah mengapa bagi pangeran ini, cinta bukanlah perasaan yang begitu penting (bahkan tak penting sama sekali), memimpin kerajaan seperti Ayahnya adalah prioritas baginya. Oleh karena itu, dia sangat sering menimba ilmu dari guru dan pandita tentang kenegaraan dan filosofi, melatih raganya untuk bertarung, mengasah ketrampilan menggunakan panah, keris, atau tombak. Dari semua kebiasaan itu, Prabatama tumbuh sebagai pangeran muda yang gagah, dengan guratan otot keras sempurna menggambarkan kekuatan darah mudanya. Tak hanya perkasa, pangeran Sakapadma ini juga terkenal dengan muka rupawan. Mata coklat dengan alis tajam menghias diatasnya. Hidungnya runcing, bergaris keras menurun dari Ayahnya yang mancung. Bibirnya tipis, menawan saat terdiam, mempesona saat senyumnya tersungging. Rambutnya yang selalu dia pangkas pendek, tersisir rapih tanpa ikatan, terpagari mahkota bulat dengan batu zamrud yang melingkari dengan detail tanpa cela.

Tinggal besok, posisi Putra Mahkota akan tersemat di depan namanya. Upacara pasti akan diadakan besar-besaran, sebesar amanat yang akan dia tanggung. Sesungguhnya, bagi Prabatama, upacara ini adalah momen yang ditunggu, namun obrolan bersama ayahnya, merusak keagungan bayangan Prabatama. Kini, dia ngeri membayangkan perjodohan, kenalan putri kerajaan lain yang akan memenuhi atmosfer perayaan.


Hari sudah pagi, Chandra telah meninggalkan Mayapada, digantikan oleh Surya. Hari besar datang, Soma Basanta (Senin saat musim bunga), adalah hari yang baik untuk meresmikan tahta Putra Mahkota. Pendeta serta para pertapa diminta untuk menyiapkan upacara, kain kain bergambar Teratai memenuhi sudut Balairung kerajaan, menyimbolkan nama Sakapadma.

Sedari siang, upacara berlangsung khidmat, kini Prabatama resmi bergelar Mahaputra Sakapadma. Untuk kebahagiaan itu, Prabu Sadunata mengundang seluruh raja-raja lengkap dengan semua bangsawannya. Sadunata juga tak lupa mengundang Raja Amarta, Puntadewa, sang sulung Pandawalima, jika dia datang maka pesta akan menarik, mengingat semua anggota Pandawalima akan hadir. Hal ini juga berita yang menggembirakan bagi Prabatama, mengingat Arjuna -idolanya- juga pasti datang.

Terang selesai sudah, begitupun upacaranya. Malam bersama gelap memasuki jagad bumi. Kini giliran perayaan dilakukan. Musik gamelan mengalun, menggema, memenuhi Balairung seperti orkestra saat ini. Tamu tamu terhormat tak berhenti menjejali ruangan, datang dan datang lagi. Prabatama didampingi sang Ayah berdiri di dekat singgasana, menerima ucapan selamat. Sesekali, jika tamu raja membawa putrinya, maka Sadunata akan menyikur perut Prabatama.

“Prabatama, lihat itu putri Raja Segaraminggir, Dewi Nagataya. Cantik bukan?”

“Iya Ayah, memang cantik. Tapi aku belum tertarik” Tegas Prabatama.

“Oh, kalau itu yang memakai mawar di dadanya, namanya Surasuci, putri Raja Matarengga, dia terus terusan memperhatikanmu” Sadunata memberi isyarat pada putri cantik bermahkota prada, dengan kain beludru sedada berhias mawar.

“Iya Ayahku, tak perlu Ayah memintaku mendekati mereka. Jika aku berkenan, aku akan datang dan berbincang sendiri” Jawab Prabatama, sembari mengalihkan obrolan yang baginya sungguh menjengkelkan.

Perhatian Prabatama menyapu seluruh Balairung, kini pintu utama adalah pusat tuju matanya. Baru saja rombongan Raja Kerajaan Madyabhumi memasuki pintu. Deretan pasukan mengawal sang raja. Prabatama kenal dengan raja muda dari kerajaan daerah selatan itu. Rajanya masih muda, dan dulu sempat berteman baik dengannya. Raja Kencanacitra. Rombongan Raja Kencanacitra menarik perhatian Prabatama. Selain raja yang juga teman kecilnya, nuansa emas yang mengiringi rombongan pasukan, memang mampu menyita fokus pangeran. Namun, ada yang lebih membuat Prabatama tertarik, tepat dibelakang Raja Kencanacitra, berdiri seorang yang sangat mengesankan. Lelaki tampan berparas indah dengan rambut sebahu, lengkap dengan safir di kepalanya. Tubuhnya yang tinggi (namun tak setinggi Prabatama), serta sutra emas yang menutup tubuhnya membuat lelaki ini terlihat amat harmonis. Senyuman dari bibirnya disunggingkan ke kiri kanan sebagai tata cara menghormati para tamu yang lain.

Prabatama tertegun, pandangannya berhenti sebentar pada sosok itu. Sepersekian detik, pandangan Prabatama ditangkap mata lelaki ini. Dia menanggapi dengan anggukan lembut khas trah darah biru. Rombongan mereka kian mendekat, menuju arah tuan rumah. Kini tepat di depan Prabatama, Kencanacitra (beserta lelaki tadi) sudah berdiri di hadapan mereka.

“Oh, teman lamaku Prabatama. Lama tak jumpa, kau telah tumbuh menjadi pria sejati. Kau tentu ingat, dulu kau sering berburu kelinci liar di Madyabhumi. Kau sangat pandai memanah, dan lihat kini kau adalah Putra Mahkota Sakapadma” kata Kencanacitra

“Ah, baik sekali Prabu Kencanacitra mau mengunjungi teman kecilnya. Tentu aku masih ingat jelas, kita sering berlomba mendapat buruan. Kau telah menjadi Raja, pantas sekali rupanya” Jawab Prabatama, yang mencoba terlibat pada obrolan, walau masih sedikit memperhatikan lelaki di belakang Kencancitra.

Gerak penasaran Prabatama tertangkap Kencanacitra. Sambil menarik lelaki dibelakangnya, dia berkata, “Ah, lupa. Sungguh lupa, ini adikku Raden Nandayita. Tentu kau lupa. Saat kita berburu kelici, dia hanyalah bocah ingusan yang selalu menangis minta diajak, merengek dibelakang Ibuku”.

“Senang bisa bertemu kembali Raden Prabatama, selamat untuk upacara Abishekamu” Kata Nandayita sembari menyalami Prabatama.

Sungguh sensasi yang aneh, Prabatama tak pernah merasa seperti itu. Detak jantungnya melemah, sesaat kemudian mengencang. Getaran kecil di tangannya tak terlihat, namun sangat bisa dirasakan oleh Prabatama.

“Senang sekali bisa bertemu kembali denganmu, Dimas Nandayita” Ucap Prabatama sekenanya.

“Baiklah, Nandayita. Kau boleh berkeliling Balairung. Biarkan aku berbincang bersama teman lamaku ini.” Kata Kencanacitra, meminta adiknya pergi.

“Ah, tak usah pergi Dimas, kau boleh bergabung bersama kami disini” Prabatama cukup berhasil menyembunyikan sensasi aneh dalam hatinya.

Nandayita akhirnya duduk menemani mereka berdua. Obrolan teman lama memang menyenangkan, membahas teman teman yang dulu bermain bersama, kejadian lucu di masa lalu, atau hal menarik lainnya. Memang menyenangkan, tapi tidak malam itu bagi Prabatama. Prabatama hanya menanggapi seadanya ocehan Kencanacitra. Matanya sibuk menikmati luwesnya gerakan Nandayita, mata coklat terangnya, alisnya yang seperti bulan pertama, sungguh indah. Prabatama belum menganggap itu sebagai sesuatu yang tabu. Baginya, dia hanya mengaggumi muka Nandayita yang tampan sekaligus cantik.

Dalam serunya obrolan, ah atau lebih tepatnya dalam serunya pengamatan Prabatama. Sebuah kerumunan besar memadati pintu utama. Tamu yang datang tentu bukan tamu biasa. Bukan Raja biasa pula. Dengan menjulurkan lehernya, Prabatama mencaritahu siapa yang datang. Setelah terlihat panji Kerajaan yang mengiringi pasukan, berdirilah Prabatama. Dia tau, siapa yang menghadiri pestanya. Tanpa pikir panjang, Prabatama menyambut tamu barunya, seusai meminta diri dari Kencanacitra dan Nandayita.

“Oh, sungguh aku tak percaya siapa tamuku ini” Kata Sadunata menyambut kedatangan tamunya.

“Senang sekali hati hamba melihat kedatangan Maharaja Amarta, Prabu Puntadewa beserta Pandawa lima. Terima kasih banyak telah sudi untuk datang di upacara sederhana kami” Prabatama menghaturkan hormat pada kedatangan Raja Kerajaan Amarta. Sulung Pandawa.

Ya! Tamu mereka adalah penggede Kerajaan Amarta. Pandawa Lima yang terkenal. Ini adalah pertama kali Prabatama melihat secara langsung lima Ksatriya yang mashyur itu. Hatinya senang bukan kepalang. Apalagi melihat Arjuna ikut hadir.

“Selamat kuucapkan padamu Prabatama. Semoga kau bisa mengemban tanggung jawab besarmu sebagai Putra Mahkota Sakapadma” Kata Puntadewa.

“Terima kasih Prabu Puntadewa, berkat dan do’amu akan selalu aku ingat” Jawab Prabatama

“Aku dengar dari Ayahmu, kau mengidolakanku ya Prabatama” kata lelaki rupawan, yang wajahnya terang seterang purnama. Raden Arjuna. “Aku disini sekarang, kau bisa bertanya apapun yang kamu mau”

“Oh, engkau pasti Raden Arjuna. Ternyata, rupamu memang menawan. Tak pernah aku melihat cahaya yang terpancar dari rupa seseorang, seterang milikmu Raden. Aku sungguh mengagumimu. Aku ingin berguru memanah padamu” Jawab Prabatama antusias.

“Aku melihat kebahagiaan di mukamu, anak muda. Tapi bukan aku sumber kebahagiaanmu malam ini. Dewa Cinta Kamajaya, sedang membuatmu senang bukan kepalang. Kau baru saja bertemu seseorang bukan?” Arjuna yang memang bisa membaca perasaan, langsung mengutarakan tebakannya.

Terdiam..

Prabatama tak menjawab.

Sosok Nandayita tanpa ampun langsung memenuhi bayangan Prabatama. Nandayita menggantikan kekaguman Prabatama pada Arjuna. Sensasi aneh yang sedari tadi menghiasi benak Prabatama terjawab sudah. Takut kini menyergap batinnya. Takut pada pendapat orang. Takut akan dirinya sendiri. Takut kehilangan. Dan semua rasa takut kini terasa seperti tinta hitam yang menodai pikirannya.

Baginya, pesta harus cepat berakhir. Prabatama ingin menyendiri. Tanggungjawab Putra Mahkota kini terrasa sulit diemban. Dia sungguh malu pada dirinya. Rasa ini sungguh tak semestinya ada.

Sepanjang sisa pesta, Prabatama tak banyak bicara. Walau dia adalah sorotan utama, tapi Prabatama hanya duduk dan menyesap perlahan minumannya. Banyak sekali hal yang ia pikirkan. Nandayita. Nandayita. Nandayita. Lelaki yang secara sembunyi sembunyi dia cari keberadaannya dalam kerumunan.

Like what you read? Give Ratra Baghaskara a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.