Hujan

Yah, aku suka sekali hujan. Bukan suka lagi, lebih tepatnya aku selalu jatuh cinta dengan hujan. Kapanpun ia turun membasahi bumi, aku selalu dibuat terpana olehnya. Sejak kapan? Entah. Rasa itu datang tanpa aku tau kapan awalnya.

Bisa dibilang, hampir semua kenangan indahku terjadi saat hujan (sori, ini bukan novel tapi ini nyata). Pula, ada beberapa kenangan burukku yang terjadi saat hujan turun. Hanya beberapa saja. Aku suka berlogika. Mungkin hujan tak ingin menemaniku hanya ketika senang saja. Tapi, saat sedih pun ia akan tetap menemani. Mungkin cinta yang maksud oleh hujan seperti itu. Ada tidak hanya disaat senang, tapi di masa-masa tersulit pun, ia tetap ada. Ada. Tak pernah berkhianat. Tentu ia punya alasan untuk itu. Ia ingin aku tetap kuat menghadapi kenangan-kenangan buruk itu. Selalu meyakinkan bahwa aku tak pernah sendiri. Ia selalu berbisik lembut mengatakan:

Jangan takut. Peluklah semua kenangan burukmu. Terimalah ia. Maka aku akan menghapuskannya untukmu.”

To be continued…