Review Film: Dunkirk (2017)

Razan Tata
Jul 25, 2017 · 3 min read

Setelah menunggu sekian lama, mungkin dari setahun yang lalu, akhirnya kesampaian juga nonton Dunkirk.

Ya. Saya penggemar karya-karyanya Nolan. Jadi, penasaran juga bagaimana sutradara ini menggarap film yang berlatar perang.

Oke kita mulai saja review ini ya. Siapa tahu bisa jadi gambaran yang belum atau mau menonton nantinya.

Pertama-tama, Dunkirk bukanlah film perang. Jadi, yang mengharapkan film perang yang “wah”, penuh dengan tembakan sana-sini tidak akan ditemukan. Meskipun begitu, tetap ada yang namanya ledakan, tembakan, pertempuran udara, dll. Cuman kadarnya lebih proporsional.

Karena lebih tepatnya Dunkirk ini film survival suspense.

Seperti salah satu testimoni dari reviewer CBS, film ini menegangkan dari awal sampai akhir. Kita dicemplungkan ke dalam peristiwa yang bikin jantung berdebar sepanjang film. Sedikit sekali jeda yang diberikan untuk sejenak mengambil napas. Semisal ada jeda, itu hanya sebentar, karena setelah itu adegan-adegan seru dan menegangkan kembali berlanjut.

Dengan kata lain, editing dalam film ini patut diacungi jempol. Sangat rapi. Alurnya begitu enak ditonton.

Oh ya, menurut saya Dunkirk ini film yang bioskop-able. Film yang sangat direkomendasikan ditonton di layar bioskop, bukan di televisi atau laptop.

Alasannya dua: Sinematografi dan scoring.

Sinematografi film ini sungguh luar biasa. Visual dan tone warnanya yang kelam enak dipandang. Lengkap dengan pengambilan gambar yang sangat memukau. Banyak angle-angle kamera yang memanjakan mata.

Saya pribadi suka sekali dengan sinematografi ketika pertempuran di udara, berasa jadi pilot itu sendiri. Terbang ke sana kemari. Keren parah.

Selanjutnya yang menjadi poin juaranya adalah di sisi scoring. Bingung mau bilang apalagi buat Hans Zimmer. Dari awal sampai akhir scoring ini mengambil peran besar dalam membangun ketegangan tinggi. Terutama bunyi detak jam sepanjang film.

Saran saya kalau mau nonton Dunkirk, cari yang menyediakan layar IMAX. Jika tidak ada, caribioskop dengan layar terbesar yang bisa disediakan. Jika tidak ada juga, bisa pilih posisi duduk tengah sedikit agak ke depan, sehingga matamu menatap layar sepenuhnya.

Dan rasakan sensasinya.

Terakhir, yang menjadi bintang di film ini tentulah Christopher Nolan. Sebenarnya, cerita film Dunkirk ini sangatlah sederhana. Tapi, sentuhan magis sutradara membuat filmnya menjadi berbeda. Menjadi berkelas.

Ini ibaratkan ada seorang koki yang ditantang masak sesuatu, tapi bahannya cuma telur dan tiga helai seledri. Tapi, koki tersebut bisa membuatnya menjadi masakan yang luar biasa.

Begitu juga apa yang dilakukan Nolan terhadap Dunkirk. Dengan materi cerita yang sederhana disulapnya menjadi sajian sinematis yang luar biasa. Dikotak-katik sisi ini dan itu, dengan tetap menjaganya realistis. Dunkirk menjadi istimewa.

Oh ya, Dunkirk juga film yang sangat fokus. Fokus terhadap penyelamatan 400.000 pasukan Inggris dan Perancis yang terdampar. Tidak melebar ke mana-mana.

Kita tidak akan menemukan plot sampingan semisal, ada cerita masa lalu tentara, masalah keluarga di rumah atau kisah cinta sang jenderal. Tidak ada. Ceritanya hanya fokus dengan penyelamatan di Dunkirk.

Gila! Ini muji-muji terus ya. Kekurangannya ada tidak?

Tentunya ada. Catatan saya ada dua.

Pertama, karena cerita yang begitu fokus serta tidak ada aktor yang menonjol, membuat emosinya kurang terjalin. Kita akan sulit simpatik kepada salah satu tokoh. Semisal ada tokoh yang dibom, tertembak, atau tertekan, kita akan merasa biasa saja.

Hal kedua yang menjadi kekurangan film ini adalah karena Dunkirk berating PG-13, membuatnya jauh dari hal vital dalam perang, yaitu darah dan potongan tubuh. Ini sangat disayangkan. Seandainya saja rating film ini jadi lebih dewasa, Dunkirk akan menjadi sempurna.

Jadi, Dunkirk adalah karya luar biasa dari sutradara yang dipuja juga dibenci ini. Ternyata ketika banyak yang menyukai Nolan, banyak juga yang tidak menyukai itu.

Dunkirk sendiri bisa dibilang salah satu film paling ringan dari Nolan. Tidak seperti karyanya yang lain, yang bikin kita harus memeras otak.

Film ini menjadi rekomendasi dari saya. Terutama mesti ditonton di bioskop.

Penilaian akhir: 9/10

Razan Tata

Written by

Saya hanya menulis apa yang saya suka. Dan semoga juga kamu suka.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade