Sebelum Iblis Menjemput: Sajian Horor yang Membuat Perasaan Tidak Nyaman

Sejak trailer-nya muncul, sebenarnya belum ada minat untuk menonton film ini. Tidak ada sesuatu yang membuat tertarik, meski ada nama Chelsea Islan dan Pevita Pearce di dalamnya.

Namun, beberapa hari yang lalu sempat melihat interview Chelsea Islan di salah satu channel YouTube, dia menyebut nama “Timo” di bangku sutradara.

Eits, saya pun terkejut. Ini Timo Tjahjanto dari Mo Brothers?

Ketika mencari tahu lebih lanjut, ternyata memang benar. Sutradara Sebelum Iblis Menjemput adalah sosok tersebut. Tak ayal, saya pun langsung menjadwalkan nonton.

Dan … ini keputusan yang tidak saya sesali sama sekali.

Sebelum Iblis Menjemput sukses membuat takut, ngeri, ngilu, gigit-gigit jari sampai meringkuk di kursi. Sepanjang film selalu siaga. Mata awas menjelajahi seluruh layar. Berjaga-jaga hantunya akan muncul dari mana. Sebenarnya saya bukanlah penggemar horor dengan jump scares di mana-mana, tapi saya bisa menikmati kejutan-kejutan mengancam tersebut di film ini. Tidak berlebihan dan tidak murahan.

Dengan kata lain, film ini sukses membuat perasaan tidak nyaman.

Terlebih juga seperti yang sudah kita tahu, Timo Tjahjanto terkenal dalam meramu adegan slasher/gore. Sederhananya adegan yang bikin ngilu dengan muncratan darah, tulang remuk, sampai hal-hal disturbing lainnya. Seperti yang dia lakukan di Rumah Dara atau Killers. Sebelum Iblis Menjemput pun tak lepas dari adegan-adegan tersebut. Meski levelnya tidak sengilu film-film Timo sebelumnya.

Mengapa ketika mendengar Timo Tjahjanto, saya seketika tertarik buat menonton? Karena saya yakin aspek teknisnya akan bekerja maksimal. Semisal di sisi sinematografi dan scoring.

Di sisi visual, saya berulang kali berdecak kagum dengan shot-shot yang menawan. Warna gambarnya juga cukup mencekam. Hanya saja ada beberapa adegan di malam hari yang menurut saya warnanya kurang “horor”.

Untuk di sisi scoring atau musik latar juga berhasil membuat suasana mencekam. Tepat dalam penempatan. Tahu kapan harus diberikan iringan musik, kapan harus kencang yang bikin mata membelalak, tahu juga kapan tidak menggunakan musik sama sekali.

Singkat kata, Sebelum Iblis Menjemput memuaskan secara keseluruhan. Walau ada kekurangan di sisi cerita yang tidak istimewa, cukup termaafkan dengan eksekusi yang bikin penonton makin tenggelam dalam kursi karena takut.

Setidaknya emosi selama menonton berasa naik roller coaster. Hanya bisa bernapas nyaman setelah filmnya usai.

Oh ya, saat menonton kemarin ada insiden yang bikin kecewa. Studio tempat saya menonton mati listrik hingga 15 menitan. Hal ini membuat emosi yang sudah terbangun dari awal mendadak turun. Padahal adegan yang tersisa sudah memasuki ending.

Sayang sekali.

Meski begitu, saya bisa keluar studio dengan perasaan lega. Lega karena pengalaman mencekam sudah lewat, juga lega karena film horor Indonesia sudah mencapai di titik ini. Standar yang seharusnya bikin pembuat film berpikir dua kali untuk membuat horor murahan.