Log 11 Eps 4
Apa rasanya menghidupi mimpi?
Apa rasanya mengikuti kemana hati hendak berkelana?
Mana tahu,
Toh tidak pernah
Ada jalan yang sudah dipahat untuk ku ikuti
Sayangnya, jalan itupun tanpa arah yang jelas
Sang pemahat jalan pun enggan dituankan atas maha karyanya
Hanya tinggal aku yang harus bertanggung jawab atas kaki yang telah melangkah, berpijak, dan bertahan
Mana ada yang peduli jika memang ini bukan arah yang kuinginkan?
Mana ada yang peduli kalau perjalanan panjang ini menyisakan banyak luka yang tak kunjung pulih,
Yang justu semakin memburuk seiring waktu
Apa rasanya mengambil hak atas hidup dan tidak bertanggung jawab atasnya?
Apa rasanya menggiring domba seperti anak kecil lalu melepas dan memintanya dewasa?
Entahlah
Yang pasti, aku terjebak
Kata orang,
Hidup segan, matipun tak mau
Aku juga mau bermimpi
Tunggu,
Tidak,
Aku mau menghidupi mimpi,
Mimpi ku sendiri,
Bukan memenuhi mimpi orang lain,
Aku sudah bosan tercekik hingga sesak atas semua harap yang bukan miliku,
Aku juga mau bernapas atas bagianku
Aku juga mau punya hak atas hadirku tanpa harus bertanggung jawab pada indera, hati, dan pikiran orang lain
Aku tahu,
Sudah terlambat,
Hak itu sudah lama hilang dan direbut atasku
Sampai hari ini,
Aku masih berharap bisa sedikit memutar kembali waktu,
Untuk bertahan dan mengumpulkan lebih banyak keberanian
Kemudian digunakan untuk memberontak dan mempertahankan hak itu tetap dalam genggamku
Aku iri pada mereka yang mampu mempertahankannya,
Pada mereka yang mampu menghidupi mimpi mereka
Sekecil dan seremeh apapun itu,
Setidaknya mereka masih punya tujuan
Sekarang,
Yang tersisa padaku hanyalah sia-sia
Terang-terangan aku menutup mata dan memimpikan ketidak-mungkinan
Menolak sekuat tenaga untuk tidak terbangun pun tidak punya hak
Pun ada,
Rasanya kewajiban yang lain jauh lebih berat ditimpakan atasku
Hal yang mereka bilang berkat,
Nyatanya hanya menjadi beban bagi tubuh ini
Berkali-kali ku bilang ini saatnya terbangun dan sadar
Akhirnya hanya ucapan tanpa gerak
