SBMPTN 2017, Sebuah Refleksi.

Abis UN, ngapain? Siap SBMPTN 2017? Tulisan mengenai sebuah refleksi dan pengalaman setahun lalu. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini dibuat khusus supaya pembaca menapaki jalan yang benar dan tidak terjatuh kedalam lubang yang sama dimana saya terjatuh didalamnya. Menapaki kelas 12, orangtua, guru, dan kakak tingkat banyak yang bilang “Udah kelas 12 mainnya dikurangin ya” “Udah kelas 12 bentar lagi UN, lesnya yang bener ya” “Udah mau UN, organisasinya udahan cepetan” dan bisikan-bisikan lainnya. Sebagian besar mengikuti saran ini dan jadilah siklus hidup anak pra-UN terutama di semester 6 menjadi : sekolah, ke BK, nugas, galau, pengayaan, les, lalu di rumah belajar lagi. Berlangsung selama beberapa bulan, sebagian les sampai malam, sebagian lagi les di lebih dari 1 tempat, kemudian UTS, lanjut Ujian Sekolah, sampai Ujian Nasional. UN selesai, apa selanjutnya? Jawabannya adalah………LIBURAN. Take a holiday, dek.

Seriusan ini, segera ambil liburan, lepaskan penat, pacu adrenalin : water sport, paralayang, arung jeram, atau naik gunung. Hargai usaha kalian selama ini dengan liburan, ga perlu mahal, yang penting bikin fresh dan siap buat do the next! Ya, tujuannya ambil liburan cepet supaya kalian bisa cepet juga “mempersiapkan diri”, UN bukan tujuan akhir.

Setelah selesai liburan, yang les segera rajin lesnya, yang ngga les juga segera rajin belajarnya. Ada temen saya yang ngga les, tapi dia masuk ITB. Don’t be afraid!. Perbanyak shalat duha, shalat tahajud, sodaqoh, puasa sunat, dan bantuin orangtua. Di tulisan kali ini saya mau tentang pengalaman pribadi saya tahun kemaren, seputar shift dari SMA ke kampus.

Beberapa pelajaran yang saya dapat dan mungkin bisa kamu ambil hikmahnya, pertama jangan berpikir kalau kita punya waktu.

Kesalahan terbesar kita adalah kita berpikir punya banyak waktu, padahal tidak. To be honest sebulan adalah waktu yang singkat. Seminggu adalah waktu yang singkat. Bahkan 24 jam kita, itu sangatla singkat. Bagi kalian yang berpikir ingin melalui bulan ini sambil tetep main PES, main DOTA, dan nongkrong-nongkrong ga jelas (nongkrong boleh tapi di weekend) saya saranin tinggalkan kebiasaan itu untuk satu bulan saja. Sebagai gantinya, ambil liburan yang berkualitas sedini mungkin. Semua jenis kecanduan seperti halnya game online, ketika ditinggalkan pasti akan ada perasaan aneh atau kurang nyaman : normal. Sangat normal. Yang harus dilakukan adalah bersabar da belajar.

Kedua, Jangan terlalu berharap lolos SNMPTN.

Jujur, saya nyesel dulu terlalu berharap bisa di terima di SNMPTN. Saya betul-betul belajar “hope, but don’t expect”. Padahal banyak kakak kelas yang bilang : “jangan berharap SNMPTN, anggap aja bonus” tapi saya menghiraukannya. Saya selalu optimis bahwa kerja keras saya selama ini, nilai-nilai kejujuran dalam proses pembelajaran yang saya pegang dan sebarkan, nilai akademis yang baik, sertifikat nasional, doa orang tua, ibadah poll (saat itu), dan ga ada saingan di jurusan dan kampus yang sama, membuat ungkapan itu tidak berlaku bagi saya. Saya optimis bahwa saya pantas diganjar dengan kelulusan SNMPTN : Big mistake.

Optimisme ini sangat melenakan. Selepas UN saya tidak sungguh-sungguh belajar. Saya melakukan pembenaran dari rasa malas : “Saya gamau belajar kimia dan biologi, ga sesuai sama jurusan yang saya mau” . Les saya lalui dengan semangat yang biasa aja. Ketika yag lain konsul/sanggar setelah waktu les selesai, saya pulang. Saya inget, waktu itu teman satu les saya, ketika try out UN, nilainya lebih besar saya, tapi pas try out SBMPTN, saya kalah jauh.

Lalu tibalah pengumuman SNMPTN. Saya ingat uang di dompet saya semuanya saya sedekahkan hari itu, bener bener ga bersisa sama sekali. Hari itu saya les di NF, setelah ashar saya shalat dan buka pengumuman di Masjid Al-Muhajirin : “Maaf anda belum di terima di Jurusan Teknik Industri Universitas Indonesia” . Deggggg. Saya ambil wudhu, shalat dua rakaat, shalat taubat, saya nangis, ngadu ke Allah, saya pesimis, waktu saya tinggal dua minggu, persiapan saya jelek. Optimisme berubah jadi pesimisme. Saya nangis. Waktu itu ada juga temen yang buka bareng di masjid, dan dia ga diterima juga, akhirnya kita nangis bareng-bareng wkwk. So sad. Saya balik ke tempat les, pada nanya gimana hasilnya . Dengan berat hati dan kekecewaan saya jawab satu persatu. Saya pulang, Ibu nanya hasilnya. Aaaa yang ini gakuat, saya jawab sambil nangis minta maaf. Minta doanya, temen saya itu sekarang mau SBMPTN lagi, semoga dapat yang terbaik.

Di titik ini godaan untuk berpikiran “Allah itu ngga adil” , “Sedekah, puasa, duha, dan tahajud kita ga dibales sama Allah” sangat besar. Saya menenangkan waktu beberapa hari. Semakin berusaha lebih deket ke Allah. Support datang dari mana-mana “Allah masih ingin mendengar doa dan tangismu di sepertiga malam-Nya”, “Allah masih ingin melihat kerja kerasmu” “Keputusan Allah adalah yang terbaik” “Allah tengah siapkan yang terbaik untukmu” “Allah lagi nguji kamu”. Beuhhh, sedih lamun kudu dicaritekeun mah (Sedih kalo harus diceritain-mah) :’). Sebenernya, saya lebih nyesel karena kenapa BEGITU BODOH menyia-nyiakan waktu beberpa minggu begitu aja. Saya kalah oleh diri saya sendiri. Saya menyalahi komitmen saya “Saya SNMPTN milih satu aja. Teknik Industri UI atau SBMPTN sekalian”. Saya belajar banget bahwa optimis yang berlebihan itu ngga baik.

Coba temen-temen bayangin, belajar dalam waktu kurang dari dua minggu lagi sebelum SBMPTN, materi masih kurang banget karena minggu-minggu sebelumnya ga produktif, dalam bayang-bayang penyesalan, dalam bayang-bayang diterima SNMPTN, dan tekanan saya sebagai mantan ketua osis. Saya selalu bicara bahwa organisasi itu tidak mengganggu akademik, saya dipandang dan dekat dengan hampir semua guru : rasanya saya harus membuktikan ungkapan saya itu. Akselerasi dan percaya diri yang ditunjukkan teman saya itu yang mana sebelumnya nilai saya lebih baik dari dia semakin membuat belajar saya tertekan. Saya susah melawan psychological, akibatnya sangat berpengaruh pada technical. Pada akhirnya saya bisa menyelesaikan “race”. Kalau ibarat balap lari, saya finish sambil ngesot. Tapi saya bersyukur, begitu banyak pelajaran yang saya ambil dari kebodohan dan kesalahan saya ini. Tarbiyah Allah memang terbaik.

So, the point i want to share with you, masih sama kaya yang dulu penah dibilang ke saya : jangan terlalu berharap SNMPTN, anggap saja bonus kalau lolos. Fight for SBMPTN.

Ketiga, Berdamailah dengan SBMPTN. Konsekuensi logis dari menerapkan poin kedua tadi adalah harus melupakan bayang-bayang SNMPTN dan bersiap untuk SBMPTN. To be honest, awalnya saya sangat takut dengan SBMPTN. Dulu, kalau saya ngerjain soal ada tulisan SBMPTN 2014, SBMPTN 2011, SIMAK UI 2009, UM UGM 2013 saya takut duluan dan gabisa ngerjain, tapi dengan tipe soal yang sama dan gaada embel-embel SBMPTN/UM saya bisa. Saya sadar saya takut, I have to deal with this psychological aspect. Akhirnya momen kepepet itu tiba, saya dipaksa oleh Allah jangan jadi pecundang. Saya dipaksa untuk bisa mengerjakan soal-soal SBMPTN dan UM. Selama dua minggu itulah saya mempersiapkan semuanya, penuh tekanan. Saran saya, berdamailah dengan SBMPTN, bersiaplah!

Keempat, efektifkan waktu yang tersisa.

Kalau sudah fix dan commit untuk jadi #pejuangsbmptn, sekarang tinggal mengefektifkan waktu yang tersisa dengan belajar konsep dan latihan soal. Secara lebih detail kalian bisa baca disini. Disana dibahas detail sampai pelaksanaannya tiba.

Saya hanya ingin menambahkan bahwa SBMPTN itu ternyata tricky.

Trick 1. Strategi 4 kuadran.

Di bimbel saya (Nurul Fikri) saya diajarkan bahwa soal SBMPTN tiap tahun itu terklasifikasi menjadi soal yang mudah dan sering keluar (KW 1), soal yang relatif susah dan sering keluar(KW 2), soal yang relatif mudah dan jarang keluar(KW 3), serta soal yang susah dan jarang keluar(KW 4). Mereka menyebutnya strategi 4 kuadran. Setiap kuadran berisi bab-bab, misal kuadran satu untuk matematika logaritma dan eksponen, bentuk akar, persamaan kuadrat,dsb. Karena kuadran satu ini relatif lebih mudah dan menurut statistik sering keluar, dengan kita belajar dan mengerjakan soalnya dengan baik, itu telah berkontribusi cukup besar pada hasil akhir tes. Metode ini pada prinsipnya memakai prinsip efficiency, pareto rule dan CBA (Cost Benefit Analysis). Dengan strategi ini kita bisa belajar lebih terarah. Yang kita lakukan adalah menyelesaikan kuadran yang leibih mudah (Kuadran 1) lalu beranjak ke kuadran selanjutnya. Toh, dalam SBMPTN kita ngga dituntut untuk mengerjakan semua soal, tapi sebanyak mungkin soal.

Mata pelajaran yang jadi kekuatan kita, itu adalah senjata di SBMPTN, kalau bisa sikat abis semua soalnya. Latihan soal yang banyak dan disiplin. Belajar yang enjoy, jangat merasa beban. Ikuti posesnya dengan baik, insyaallah hasilnya pun baik.

Trick 2. Urutan pengerjaan

Saat tes, ngga ada aturan urutan pengerjaan harus ngerjain TPA dulu terus ke matdas terus ke Bahasa. Kerjakan yang paling kita kuasai dulu. Waktu bener bener berharga disini. Begitupun untuk soal saintek. Kalau saya dulu pas TKDU : TPA, matdas, B.Indo, B.Inggris. Saintek : Biologi, Kimia, Matematika, Fisika.

Trik 3. Lucky Shot

Didalam basket ada istilah lucky shot, yaitu poin masuk dari lemparan yang sangat jauh. Karena saking ga mungkin/susahnya makanya dibutuhkan keberuntungan/lucky. Padahal fenomena tersebut dapat dijelaskan secara fisika.

Analog dengan ini, dalam SBMPTN kita bisa melakukan “lucky shot”. Itung-itungannya sekali benar kita dapet poin 4 dan kalau salah dapet -1. Seperti dijelaskan disini, kalau kita jawab 5 soal dengan “Lucky shot”, kemungkinannya adalah sbb :

Lucky Shot dalam SBMPTN

Bisa dilihat bahwa, akan sangat menguntungkan kalau kita bisa mengoptimalkan “Lucky shot” ini. Kalau dalam basket bisa dijelaskan oleh hukum fisika, dalam SBMPTN bisa dijelaskan dengan banyaknya latihan soal yang kita lakukan : seberapa jauh kita mengenal dan feeling untuk menjawab benar. Jadi silakan latihan soal yang banyak dan lakukan “Lucky shot”-mu. Harus diingat bahwa tetep butuh luck, oleh karena itu harus dideketin siapa Yang Maha memberikan keputusan.

Trik 4. Jurusan, Passing grade, dan daftar SBMPTN.

Menurut saya, gausah terlalu terburu-buru daftar SBMPTN. Ukur dulu kemampuan dengan tryout-tryout yang banyak diadain bimbel. Gunakan passing grade sebagai acuan, walaupun kampus sebetulnya tidak pernah mengeluarkan PG, tapi itu dibuat oleh bimbel dengan data-data statistik. Walaupun begitu, itu berguna untuk mengukur apakah kita sudah berpotensi lolos di jurusan yang kita mau atau belum. Sekali lagi jadikan acuan dan jangan anggap itu benar sampai membuat terlena. Temen saya ada yang sudah lulus PG, tapi terlena dan merasa cukup, eh pas SBMPTN ga masuk. Kalaupun belum masuk, gausah khawatir, kita tahu harus meningkatkan sebanyak apa.

Kalau udah melakukan beberpa kali tryout dan kelihatan perkembangannya seperti apa, baru deh daftar SBMPTN. Saya dulu juga gitu.

Untuk lebih detail, terutama mengenai hal teknis, silakan cek disini. Semoga bermanfaat.

Thanks to medium.com/@DanisMandasari/tips-sbmptn-2017-ce9d271ee854

Ridwan Taofiq Firdaus

Tasikmalaya, 16 April 2017.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.