Tiga atau dua pertanyaan lagi.

Dua hari yg lalu aku bertemu diri mu di ujung lorong yg mengarah kelapangan. Diasana suasana begitu ricuh siswa-siswi ikut serta dalam penglihatan kita berdua layaknya burung yg saling mengepakan sayap dari langin turun ke daratan yg luas melihat alam sekitar yg indah dan ramai.

Kami adalah dua orang yg saling kenala (dulu). Tetapi tidak sekarang kini hanya aku dan cerita semua yg menjauhkan kita dalam pertemuan di sanah. Mata ku mulai melirik dia berkerudung rapih berwarna coklat, k dua mata yg coklat serta mata yg lebar hampir lebar seperti mata burung hantu yg belo. Tak berubah memang ia dengan satu temanya yg sama halnya dengan yg sering aku temui beberapa bulan ke belakang. Aku tau aku itu hanyalah debu dan iya awan yg melambung tinggi di langit indah bermandikan surya dan kencana. Serta diri ku hanya sebuah bongkahan es yg ingin mencair membanjiri air yg telah penuh di antartika sanah.

Kini aku hanya bisa berbicara tentang dirinya, dulu ia adalah yg aku rasa indah di hati mulai menerang hingga aku di butakan oleh cahaya itu sendiri. Mereka sering kali berbicara mengahadap muka ku saat sesekali ia tau bahawa diri ku berada di sampingnya agar berjauhan jaraknya hampir empat atau lima langkah dari dirinya.

Iya berusaha memandangiku dengan seperti perempuan pada umunya melirik dengan senyum yg misterius. Sunggu aneh tetapi apa daya aku hanya bisa membalikan senyum itu dengan rambut yg tak pernah kusisir setelah patah hati satu taun lalu.

Kini aku hanya bisa tersenyum membalas dengan nada-nada jumpa say hallo dan say goodby. Kami adalah dua arti dalam perkatan yg saling bertolak belakang suku huruf yg tak bisa di persatukan layaknya Z dengan X karena makna ini tak ada di kamus bhs.indonesia walaupun mereka berdempetan.

Aku sesekali tercengang ingat perkataannya sebelum ia memberitaukan ia mempunyai cahaya yg sulit ia beritahu kepada diri ku keberadaanya, cinta yg ia pertahan kan selama ini.

Hati membiru melangit rasanya ingin menghilang di angkasa di telan black hole agar tau rasanya patah itu sakit, mungkin tak terlihat dengan kasat mata tapi itulah yg di rasakan miliyaran orang yg hidup di dunia ini.

Bahkan aku menjadi tak peduli saat aku bertemu denganya kembali saat itu hati menjadi padam kobaran api mendingin menjadi sebuah tumpukan balok es yg berjejer membentuk sebuah kastil yg sangat megah dan tinggi yg menyerupai sebuah area yg sangat besar hampir sepertiga daratan di bumi.

Aku sering kali menyukainya tetapi tidak untuk membohongi. Jika harapan itu nyata aku memilih untuk jujur tanpa bersandiwara layaknya orang yg mempunyai salah yg di maafkan tetapi dengan satu syarat ia harus mematuhi apa yg hati kau bohongi agar kelak kau tau kita tak biasa hidup di dunia yg tak seorangpun membohongi diri orang lain apa lagi diri kita sendiri.

Dan ia memberi sebuah jawaban yg aku masih ingat nadanya yaitu;

“kelak kau akan tau porsi apa yg ada di hati ku entah itu kak, teman sahabat, atau pacar sekalipun kamu telah menjadi porsi di hati ku.”

Aku berjalan di lorong itu keluar dan pergi menjauh dari sekolah sore itu mengendarai motor karena aku hanya menjadi tamu di sekolah yg tak akan aku sekolah kembali disanah karena telah lulus. Mungkin karena ini aku mempunyi harapan, harapan cinta yg kusam merubah penampilan hidup dan gairah di sekitar mu entah itu membaik atau malah semakin memburuk:

cepatlah untuk menerimanya relakan perih untuk pergi dan mereka akan tenang dan kau akan membaik lebih jauh dri dirinya sekali lagi lebih baik jauh dari dirninya.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.