Dan aku sempat lari ke arah pintu gerbang utara, bergegas sambil membawa tas ranselku dengan goresan luka pada tahun lalu yang enggan lenyap dari tubuh dan ingatanku. Untuk esok adalah tahun awal ku berhenti, kembali.

Dongeng tentang dunia khayalan yang jatuh membawaku tersungkur diruangan lembab tempatku berkeluhkesah setelah matahari berhenti bekerja untukku. Hanyut di dalam mimpi kenyataan yang pahit, dinobatkan oleh malam bahwa aku harus berhenti. Tapi, semua itu hanya omong kosong belaka yang membuat aku masuk kedalam indahnya terpuruk di sepertiga malam.

Mencoba mematahkan jari untuk merobek dan mengambil isi dari dalam tubuh, untukmu, bahwa kau masih menjadi misteriku hari ini, esok dan tahun yang nanti.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Richard Rolanda’s story.