Excuse Me…

Pernah ngga sih kalian menciptakan excuse untuk diri sendiri karena belum bisa mencapai apa yang diharapkan?

Dan pernah ngga excuse itu dilandasi oleh perbandingan dengan orang lain sehingga seringnya diawali dengan kata-kata “wajar sih, dia kan bla bla bla…”, dan dilanjutkan dengan kalimat kedua, “sedangkan aku kan bla bla bla…”

Wajar sih, dia kan terlahir dari keluarga kaya, sedangkan aku buat nabung aja kudu kerja keras dulu.” Kalimat yang terucap saat melihat berita tentang seseorang telah meraih kesuksesan berbisnis di usia mudanya, sedangkan diri sendiri mau buka usaha aja modalnya habis melulu untuk kebutuhan hidup.

Wajar sih, dia kan ngga ada tanggungan cari pemasukan untuk keluarganya, sedangkan aku kerja bukan buat aku aja tapi juga ada tanggungan orang tua.” Kalimat yang terbatin saat melihat teman bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, sedangkan dirinya sendiri mau sekolah lagi aja kudu kejar-kejar dapetin beasiswa demi sekolah tanpa biaya.

Contoh aja, sih. No offense.

Well, mungkin sebagian dari kita pernah secara ‘refleks’ melakukannya di sikon yang berbeda (I must admit it, sometimes I did it too, haha…). Tapi seiring mendewasanya diri ini (re: tua), saya semakin sering mencoba untuk mengevaluasi setiap pemikiran atau perasaan kurang oke semacam itu ke dalam diri sendiri. Do we even have a right to think in that way?

Memang sih, bisa jadi semua excuse itu secara logika benar. Mungkin saja semua orang yang tampak lebih beruntung nasibnya itu memang memiliki kesempatan yang nampaknya lebih besar daripada diri kita. Tapi… itu ‘kan ‘nampaknya’.

Okelah… mungkin orang lain punya banyak kelebihan dibanding kita, tapi apakah itu bisa kita jadikan sebuah ‘excuse’ untuk memaklumi diri sendiri di saat kita belum bisa ‘sesukses’ orang lain tersebut? Apakah itu artinya kita harus berada dalam posisi yang sama dengan orang lain tersebut supaya kita bisa mendapat kesuksesan yang sama. Well, saya rasa semesta tidak berjalan dengan cara seperti itu.

Let’s say… ada seorang anak orang kaya, dengan modal dari orang tuanya, mampu menjalankan bisnisnya dengan sukses. Boleh saja kita kemudian berpikir, “Iya dia enak tinggal bangun dan jalanin bisnisnya aja, modal dari orang tua.” Bikin excuse sendiri lagi, deh, untuk diri sendiri karena merasa belum bisa membangun bisnis gara-gara terhambat modal. But hey… dia anak orang kaya loh. Justru dengan ke‘enak’annya itu, dia seharusnya bisa aja santai-santai, ngga usah mikir, duit kurang tinggal minta, tapi apa yang dia lakukan? Dia memilih untuk menjalankan bisnisnya dengan segala ups & downs yang harus dihadapinya untuk menuju kesuksesan.

Ada juga seseorang yang bisa bekerja sekaligus melanjutkan pendidikan tingkat lanjut dengan uangnya sendiri tanpa terlihat kesusahan. “Gajinya gede, nih, pasti. Makanya bisa gampang sekolah lagi.” But hey… sotoy sekali. Emang mereka gajinya sebesar yang kamu kira? Kalaupun iya, dia kudunya bisa loh pake materi yang dia punya buat foya-foya, liburan kesana kemari, shopping, dll, tapi dia milih untuk menginvestasikannya ke pendidikan, dan pasti ada harapan lebih besar yang ingin mereka perjuangkan di dalamnya.

See… apakah kita layak menciptakan excuse untuk diri sendiri hanya dengan memakai ‘keberuntungan nasib’ orang lain sebagai landasan?

Kalau semua ‘keberuntungan nasib’ itu bergantung pada seberapa ‘berlebih’-nya seseorang, tentu saya tidak akan pernah mendengar cerita anak seorang supir angkot dari Kota Batu sukses menggapai karir cemerlang di Kota New York, seperti Iwan Setyawan, atau cerita tentang orang yang hidup dalam rantai kemiskinan dan bekerja sebagai pemulung mampu menempuh pendidikan hingga S2, seperti Wahyudin? (Buat yang belum pernah dengar, cerita keduanya sudah sering dibahas di berbagai media. Google it… :) )

Jadi menurut saya, sih, the thing that matters here… bukan tentang seberapa besar ‘kelebihan’ yang dimiliki orang lain, namun lebih kepada seberapa bijak kita memperlakukan apa yang sudah dimiliki kita sendiri. Your life never been moving up if you only compare yourself to others and blame ‘your-unlucky-condition’ all the times, anyway. Come on… God never created you to compare and complain merely.

Dan sebenarnya, saya rasa yang terpenting adalah bukan menjadi ‘beruntung’, melainkan merasa ‘beruntung’. So instead of searching what we don’t have (yet), kita akan bisa lebih menghargai apa yang sudah kita miliki, dan memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang kita harapkan. Trust me, it will lead you to stop comparing and complaining, or even excusing yourself to be not better than anybody else.

Jika saya boleh mengutip salah satu line dari (Alm.) Christopher McCandless melalui film Into The Wild, saya akan memilih kalimat:

How important it is in life, not necessarily to be strong, but to feel strong. To measure yourself at least once.

Got it?

If it’s ‘yes’, you must be understanding what my words are all about here :)

PS: Not kind of motivation. Just a reminder of mine. Glad if it becomes yours, too :)