Good Leader, Good Communicator
Apa yang sering kita baca di kolom requirements untuk lowongan dengan title ‘….. manager’ atau ‘head of …..’ atau ‘kepala bidang…’ atau ‘pimpinan…’?
Berpengalaman kerja 8 tahun di bidang yang sama, memiliki kedisiplinan tinggi, mampu memenuhi target kerja, memiliki skill di bidang bla bla bla… Mungkin itu yang umum kita baca. Tapi, apakah sering kita baca syarat “good communication skill” di dalamnya?
Mungkin ada, tapi jarang. CMIIW.
Padahal, menurut saya, good communication skill ini termasuk dalam salah satu syarat terpenting yang harus dimiliki oleh seorang leader.
Seorang pemimpin bisa saja sudah memiliki pengalaman secara teori maupun praktik yang di atas rata-rata, dan dari hal itu bisa saja memampukan dia mencapai target kerjanya dengan baik, atau bahkan membawa ia untuk memiliki peran lebih penting lagi secara struktural dalam suatu organisasi atau perusahaan. Tapi bagaimana dengan anggota yang dipimpinnya? Ya… pemimpin itu tidak bekerja sendiri bukan? Ia memiliki anak buah atau anggota (atau apapun kalian menyebutnya) yang dipimpin? Bagaimana dengan mereka? Bukankah karena adanya mereka yang dimpimpin-lah, seorang ‘pemimpin’ ada dan dibutuhkan?
Ada anak buah atau anggota tim yang mungkin saja turut bahagia dan merasakan kepuasan ketika timnya mampu meraih suatu penghargaan atau mencapai target kerja. Namun, tidak jarang juga mereka yang berada di posisi sama, timnya mendapat penghargaan yang sama, dan mendapat level pencapaian target kerja yang sama, tidak mengalami ‘sensasi’ kebahagiaan yang sama, justru membatin… ‘so what?’
Kira-kira, apa yang membedakan? Banyak faktor, tapi menurut saya, faktor yang paling mendasar adalah bagaimana karakter seorang leader dalam timnya.
I’m not an expert in leadership-things. Tapi berdasarkan banyak cerita pengalaman yang didapat dari orang-orang yang memimpin maupun dipimpin, hal paling krusial yang dapat saya lihat ketika seseorang merasakan ketidakpuasan dalam pekerjaan adalah mengenai bagaimana pemimpinnya berkomunikasi dengan orang-orang yang dipimpinnya, dan bagaimana hal itu kemudian membentuk lingkungan kerjanya.
Good communication skill.
It isn’t only about what people say to others, but moreover about how messages can be delivered in a good way between people and others. It isn’t only about words, but also about non-verbal things: feeling, empathy, recognition, etc. There are so many points about having a good communication skills.
Sayangnya, tidak semua leader dalam suatu organisasi atau perusahaan menganggap hal ini terlalu penting. Selama masih dapat mencapai target kerja, atau bahkan mungkin membuatnya ‘terlihat’ semakin prospektif, maka hal-hal seperti mengenal karakter anak buahnya, membangun komunikasi yang baik, menyeluruh, apalagi dengan disertai empati, mungkin saja dianggap sebagai hal yang terlalu menghabiskan waktu. Di saat itulah kemungkinan timbulnya mindset, ‘gini aja bagus-bagus aja kok kinerjanya, ngapain ribet.’
What happen next? Umumnya sih, si anak buah atau anggota tim pun akan mengikuti dengan mindset yang mirip, ‘aku kerja bagus-bagus atau ngga, juga ngga ada bedanya kok respon si bos, ngapain ribet.’. Dan fase demotivasi pun akan dimulai hingga berujung pada kejenuhan dan penurunan produktivitas kerja (atau bahkan mungkin keputusan untuk mengundurkan diri). Wajar, sih. What will you do if you love someone and he/she doesn’t seem loving you back, eventhough you have done so many nice and sweet things to him/her? (bukan curhat, murni perumpamaan :D ) Karena dari yang saya pelajari saat kuliah di bidang komunikasi sih, pada dasarnya, kebutuhan manusia adalah sebuah apresiasi, bersosialisasi, pengakuan bahwa ia ‘ada’.
And that makes communication has a very important role for solving the gap.
Well, karena ini hanyalah opini saya, semua penilaian akan tidak pasti, sih. Masing-masing leader, organisasi, ataupun perusahaan memiliki keputusannya sendiri-sendiri terkait masalah humanis ini.
Namun saya rasa, meski harus ‘menghabiskan dana’ cukup besar, membangun pondasi yang kokoh akan membuat bangunan besar dapat bertahan lebih lama daripada ‘menghemat dana’ untuk membangun pondasi ‘seadanya’ yang ‘asal bisa menyangga’ bangunan besar yang diharapkan.