September 3

Ristyana Prabasari
Sep 2, 2018 · 3 min read

“Wake me up when September ends”


September kini menjadi bulan yang begitu epic dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya berani cerita ke permukaan tentang apa yang terjadi selama kurun waktu 1 tahun belakangan ini.

Siapa sangka, kegiatan main badminton hari Minggu tanggal 3 September 2017 itu jadi hari terakhir papa menemani saya. Partner badminton saya dari kecil, sore itu pergi meninggalkan mama, saya, dan kakak, untuk selamanya.

Saya benci mendengar tetangga yang datang melayat bilang, “sudah puas ya tadi pagi mainnya?”. Bukan dengan nada ofensif memang. Tapi setiap saya ingat itu, rasanya saya selalu ingin putar waktu dan mengurungkan niat main badminton. Supaya papa tidak capek, supaya papa nonton tv dengan tenang, supaya saya bisa buatkan papa sarapan kesukaan sekedar pisang goreng lengkap dengan kopi instan favoritnya (yang tidak pernah habis diminum), supaya kami bisa lebih banyak berbincang dan bercanda.


Siang itu papa mengeluh dadanya sakit. Tapi saya pikir itu sakit biasa, karena papa kerap kali mengeluh sakit yang semacam. Saya diamkan. Tapi karena papa tak henti mengeluh ada sesak di dadanya, mama lalu menghampiri memberikan minyak angin. Papa tertidur. Saya pun ikut tidur siang (tanpa sebelumnya sedikitpun membantu papa). Di tengah tidur saya terbangun oleh teriakan mama dari kamar sebelah. Saya tergopoh-gopoh dan kaget setengah mati melihat kondisi papa yang sudah tidak bisa bicara. Saya mau nangis, tapi masih entah harus bagaimana. Masih ingat pikiran yang tercetus pertama kali saat saya pegang kaki papa yang sudah amat sangat dingin, “Aduh, gue anak yatim”.


Sekonyong-konyong dunia berputar begitu cepat di sekeliling saya. Silih berganti orang datang. Ada yang hilang, ada yang datang, katanya. Hidup kami dipaksa berubah. Ujian psikologis begitu memerangi. Rumah kami adalah kotak pandora segala kesedihan akan kehilangan yang amat cepat, tanpa tanda, tanpa aba. Ujung pintu rumah adalah garis batas kami memasang wajah ketegaran untuk ditunjukkan pada dunia bahwa kami baik-baik saja. Tuhan dan semesta-Nya lebih tahu apa yang ada di baliknya.

Satu tahun setelahnya terdiri dari hari-hari yang berat untuk kami semua, terlebih mama. Kebingungan melanda, seperti papa pergi tidak tahu kemana. Seperti papa ada, tapi tak pernah pulang. Seperti tidak percaya, keluarga yang lengkap ini bisa akhirnya tercerai dengan sendirinya.

Kehilangan papa memaksa saya menjadi dewasa. Dewasa mengatur keuangan karena kini kakak dan saya membahu menghidupi keluarga. Dewasa meletakkan kebahagiaan orang lain, dalam hal ini, mama di atas segalanya, karena mama menjadi barang yang begitu rapuh dan saya tidak mau ia pecah. Dewasa untuk ambil sikap di saat-saat genting ketika kakak tidak ada. Dewasa untuk pasang badan melindungi rumah, contohnya saat atap bocor, karena tidak ada lagi papa sebagai pengawas. Dan seterusnya.

Namun saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang selalu ada untuk kami, mendengar keluh kesah yang sama. Hari-hari yang berat bisa kami lewati dan kami baik-baik saja. Terima kasih kepada Tuhan yang masih menguatkan kami. Semoga saya, mama, kakak, dan orang-orang lain yang sedang dan telah mengalami kehilangan bisa selalu dikuatkan.


“Tanggal 3 September papa nikahin mama. Tanggal 3 September juga papa ceraiin mama” — Mama.


Entah terlalu cantik atau terlalu tragis. Tapi terima kasih sudah melindungi dan menjaga kami, Pah. Papa adalah pemimpin terbaik yang kami punya. Maaf, maaf kami masih kurang menjadi istri dan anak-anak yang baik bagi papa. Semoga papa bahagia di sana.

Oh iya, selamat tanggal 2 September, pa. Selamat hari jadi yang ke-60.

Kami sayang papa.

Ristyana Prabasari

She is free in her wildness, she is a wanderess. She knows nothing of borders and cares nothing for rules or customs.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade