Rusuk Adam

Wanita tak sebercanda itu.

Self Reflection

Hari itu saya terjaga sampai menjelang subuh. Akhirnya saya pun mencoba mencari nina bobo dengan membaca buku yang beberapa hari sebelumnya saya beli di toko buku bekas. Buku berjudul “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi ini saya akui sedikit feminis untuk saya yang tak berbiasa membaca tulisan seperti itu. Secara singkat, penulis menceritakan kembali kisah nyata tentang seorang wanita yang rela dihukum mati hanya untuk memberikan seruan protes kepada laki-laki. Lalu saya dengan pikiran liar di subuh hari berpikir seperti ini “Kalau seorang wanita bahkan rela mati untuk didengar, setidaknya saya yang bodoh ini mungkin bisa menulis satu dua kata tentang wanita”.

Mother Complex

Sejak saya duduk di bangku SMP, saya hanya tinggal berdua dengan Ibu saya. Ayah saya terpaksa berada jauh dari kami karena tuntutan pekerjaan dan kakak saya kebetulan sedang mencari ilmu di negeri tetangga. Saya tidak malu untuk mengakui bahwa hal tersebut banyak mempengaruhi saya yang notabene saat itu baru saja memasuki usia remaja. “Ibu saya adalah segalanya”, kalimat itu saya maknai secara harafiah dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bagaimana beliau menjadi seorang ibu yang luar biasa sampai juga seorang “guru” yang dengan setia menuntun saya. Saya pun akan berkata dengan terus terang bahwa saya melihat wanita memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh laki-laki dari beliau. Sesuatu yang membuat wanita dapat unggul dalam banyak hal, walaupun ironisnya tak banyak yang menyadari hal itu bahkan kaum wanita sendiri..

Persetan

Saya tidak akan membahas bagaimana awalnya terbentuk budaya patriarki karena sejujurnya saya pun tidak tahu sama sekali. Saya rasa mental block tentang wanita tak bisa menjadi setara dengan lelaki pun merupakan isu lama yang berulang kali dibahas. Di tulisan singkat ini, saya hanya ingin memberikan sudut pandang yang mungkin sulit diterima. Saya melihat sebuah ironi bagaimana seorang wanita dituntut menjadi seorang makhluk sempurna. Saya akan ambil contoh soal penampilan. Tuntutan seperti langsing, putih, wangi atau semacamnya sering disematkan tanpa alasan yang jelas. Tolong jelaskan pada saya, mengapa seorang wanita harus bertubuh langsing dibanding bertubuh gemuk atau mengapa seorang wanita harus berkulit terang dibanding berkulit gelap? Bila anda bertanya pada saya siapa pencetus awal pikiran seperti itu, maka saya akan menjawab, laki-laki. Saya pun tak sampai hati menyalahkan wanita yang berusaha keras untuk melawan penilaian masyarakat yang berlebihan. Untuk kali ini percayalah pada saya bahwa hakekatnya semua wanita adalah baik dan indah adanya.

“She’s mad but she’s magic. There’s no lie in her fire” — Charles Bukowski

Terima Kasih

Untuk mengakhiri tulisan paling feminis saya ini, saya akan menjelaskan sesuatu yang bagi saya hanya dimiliki seorang wanita sekaligus mengucapkan terima kasih terdalam kepada semua wanita hebat yang ada di hidup saya. Namun saya yang tidak pandai membahasakan perasaan ini, hanya bisa mencoba untuk membuat sajak singkat,

Kasih Hawa

Aku yang sejatinya tidak tak tahu apa-apa mengenainya,

ingin menulis secarik tentangnya.

Aku yang sejatinya tidak lagi mempercayainya,

ingin berbagi sendu dengannya.

Bagiku masih menjadi misteri,

Bagaimana ia bisa menyentuh bagai angin yang menyibak lembut rambutku

Bagaimana ia bisa menanggalkan segala keangkuhan dan kerasku

Sebut aku gila,

Tapi aku merasakan sesuatu yang nyata di dalamnya.

Sesuatu yang sanggup merubahmu tanpa melukaimu

Sesuatu yang dengan setia menuntunmu

Sesuatu yang membuatmu ingin merebahkan kepalamu di pundaknya

Si Melankolis-Koleris,

Boni Vasius Rosen

11 Januari 2017