Pabrik Anggota

Tentang pencarian sisa-sisa kaderisasi.

Mungkin karena seringnya kata itu terulang baik diucapkan maupun dilakukan maka berakarlah ia. Walaupun sejauh ini peran saya dalamnya baru sebagai kader bukan pengkader. Saya dengan pemahaman saya sebagai kader dan lawan bicara saya dengan pemahaman pengkader pun seringkali tak sepaham. Sebenarnya tulisan konyol ini terhitung agak terlambat saya buat, dikarenakan greget itu sudah berlalu berbulan-bulan yang lalu tapi bagi saya apa salahnya mencoba membagikan lamunan-lamunan siang hari saya. Tulisan ini pun saya buat dengan asumsi pembaca sudah mengerti apa itu kaderisasi dan apa parameter sesuatu dapat dikatakan kaderisasi. Saya sengaja tak akan membahas hal itu karena dari hasil perbicangan saya dengan beberapa orang ternyata menghasilkan banyak persepsi dan sepertinya tidak ada konsep yang saklek bagaimana sesuatu dapat dikatakan kaderisasi bahkan apa itu kaderisasi..

Lugu Sekali

Ketika saya pertama kali mencicipi rasanya kaderisasi, saya beranggapan kaderisasi dilakukan semata-mata karena sebuah lembaga/perkumpulan atau sejenisnya membutuhkan kader yang cakap. Cakap yang dimaksudkan adalah memenuhi kriteria atau parameter yang ditentukan oleh si pengkader. Lambat laun ketika lamunan saya tak lagi terbendung barulah saya sadari ternyata kaderisasi tak sepele seperti yang saya pikirkan selama ini. “Tidak tidak, tak mungkin sesepele itu.” pikiran saya meracau…

“Interupsi…”

Beragamnya metode dan “kejaran” dari sebuah kaderisasi menimbulkan polemik tersendiri bagi saya, salah satunya kecenderungan membandingkan kaderisasi satu dengan yang lainnya. Sedikit mengakui kenaifan, saya mengerti bahwa “kejaran” dari tiap kaderisasi tersebut berbeda tetapi keinginan untuk membandingkan satu dengan yang lain pun kadang tak terelakan . Namun yang ingin saya soroti adalah proses di dalam kaderisasi yang terkadang menurut saya kurang dimaknai oleh pengkader. Bagaimana “Trial & Error” yang terjadi mengajarkan kader untuk mencapai suatu nilai yang ingin ditanamkan oleh pengkader. Jauh lebih dalam, kaderisasi tak hanya mengajarkan kader untuk memahami banyak hal tapi juga mengajarkan pengkader untuk memahami para kadernya. Bahkan lebih dalam lagi, pengkader pun menjadi “kader” bagaimana ia dituntut untuk dapat membimbing kadernya dengan baik dan tentunya benar. Selain itu saya juga ingin menyoroti terdapatnya pengulangan metode dengan alasan yang menurut saya kurang relevan. Budaya bukan sebuah alasan dalam pemilihan metode, karena budaya dibentuk oleh manusia yang artinya memiliki konsekuensi logis untuk berubah sesuai dengan perubahan manusia itu sendiri dari zaman ke zaman lainnya. Saya ingin juga sedikit menyentil rendahnya analisis dan pertimbangan dalam pemilihan metode dari beberapa kaderisasi. Menurut saya sejatinya metode yang dilakukan untuk pemenuhan suatu “kejaran” dalam kaderisasi tidaklah menjadi alasan untuk kita mempersempit pandangan dalam analisis metode. Disitulah kembali pengkader dituntut memahami kadernya. Namun memang semua itu selalu saja dibenturkan dengan pertimbangan waktu..

Teachers and students (leadership and people), co-intent on reality, are both Subjects, not only in the task of unveiling that reality, and thereby coming to know it critically, but in the task of re-creating that knowledge. As they attain this knowledge of reality through common reflection and action, they discover themselves as its permanent re-creators.” — Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed.

Kisah Pilu

Saya tak akan meceritakan seluruh cerita yang pernah saya alami maupun yang dibagikan teman saya tentang kaderisasi yang mereka jalani. Tetapi yang bisa saya katakan, sedikit banyak kuping saya sudah lelah mendengar slentingan kurang lebih seperti ini “Kapan sih kita dilantik? gua udah capek banget asli”, “Esensinya apa sih kita disuruh kayak gini?”. Ya, sungguh miris terdengar bila anda pengkadernya mendengar kalimat seperti itu. Beberapa dari mereka juga secara gamblang berkata bahwa alasan mereka mengikuti rangkaian kaderisasi tak lain dan tak bukan hanyalah mengejar sebuah identitas.

Saya juga hanya akan tertawa bila mendengar kontak fisik berlebihan, agitasi berlebihan, atau bumbu lainnya ternyata masih sering terjadi. Koreksi saya bila saya salah, tapi semua ini sungguh memilukan bila dibenturkan dengan kenyataan bahwa kita adalah mahasiswa yang terbilang manusia berpendidikan dan bermoral. Jadi saya rasa cukup sah bila saya bertanya, “Memang tidak ada cara lain? Begitu pentingnya kah semua ini?”. Lalu bila mulai bersinggungan dengan moral, saya akan mulai bertanya, “Apakah anda punya hak untuk melakukan itu? Bagaimana perasaan orangtua yang anaknya diperlakukan seperti itu? Bagaimana perasaan orangtua anda?”

Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurlah hidup kita.” — Soe Hoek Gie, Catatan Seorang Demonstran.

Kesoktahuanku

Hilangnya makna kaderisasi menurut saya dapat terjadi akibat 2 hal. Pertama, bila kaderisasi hanya dijadikan sebuah formalitas belaka untuk memasukkan sekumpulan manusia ke sebuah “wadah”. Kedua, bila pengkader tak memahami bila kaderisasi dilakukan bukan hanya untuk para kadernya namun juga untuk pengkader. Dalam pengertian pengkader ikut berkembang dan mendapatkan banyak hal dalam usahanya membimbing para kadernya sebaik dan sebenar mungkin. Sehingga dalam kaderisasi, pengkader tidak hanya mendapatkan “anggota baru”, tetapi juga mendapat pemahaman dan perspektif baru untuk perjalanan ke depannya.

Seperti yang sudah sedikit saya singgung di awal tulisan saya, pengkader pun perlu menyadari perannya sebagai seorang “kader” yang memiliki tugas besar yaitu mendidik. Terngiang sedikit di benak saya akan tulisan singkat yang sudah agak lama saya baca. Diaz Primadita, Meteorologi 2013, dalam salah satu tulisan kampanye KAT berujar kurang lebih seperti ini, “Dalam kaderisasi, kita bukan seorang kader atau pengkader, melainkan juga adalah keduanya. Sekalipun memilih, hidup dalam tegangan adalah suatu kepastian yang harus disadari dan dijalani. Kehidupan sendiri telah cukup mengajarkan kita untuk bisa hidup dalam tegangan itu. Justru teganganlah yang akhirnya mampu melahirkan kreativitas dan sintesa : rasa, karsa, cipta, dan karya yang memerdekakan.” Bila boleh sedikit jujur, sepenggal tulisan itu membuat saya merenungkan kembali seluruh kaderisasi yang pernah saya jalani dan memberi tamparan keras bagi saya yang notabene calon pengkader.

Bintang-bintang di langit

Saya percaya dan meyakini bahwa sebagian besar pengkader memiliki angan-angan dan harapan yang mulia terhadap kadernya. Saya pun percaya tak sedikit pengkader yang terbukti berhasil membimbing kadernya menjadi pribadi yang lebih baik. Alangkah indahnya bukan bila hal itu terjadi? Saya tidak tahu apakah semua pengkader memiliki mimpi-mimpi bagi kadernya atau memang semua begitu klise. Tapi saya sangat berharap teman-teman pembaca atau siapapun pelaku kaderisasi, memiliki hal tersebut. Mungkin mimpi dari masing-masing pengkader berbeda, sungguh tak apa. Asal semua mimpi itu baik adanya. Baik bagi kader maupun pengkader. Terakhir dari saya, pemahaman mengenai kaderisasi dicapai tidak dalam semalam maka saya pun terus mencoba memahaminya. Lalu bagaimana dengan anda?

Salam Pengembangan.

Si Kader Gagal,

Boni Vasius Rosen,12015022.

5 Januari 2017