Saya juga belum pernah merasakan lapar yang begitu sangat menyiksa, yang menyusutkan daging diantara tulang-tulang. Atau merasa kehilangan rumah bersama dinding dan atap-atap rumah yang ditelan alam atau dihancurkan oleh manusia-manusia yang kuasa.
Penderitaan bagi saya masih dalam imaji, karena penderitaan hidup seperti itu yg dalam kenyataan hanya saya kenal secara teoritis. Karenanya tidak heran jika saya mengabaikan kesengsaraan dengan alasan-alasan yang sederhana.